RS Sampit Rawat Pasien Suspek Flu Burung

Kamis, 26 Januari 2012 | 12:24 WIB
NP
B
Penulis: Novy Lumanauw/ Pudjatari | Editor: B1
Sejumlah petugas melakukan pemeriksaan terhadap ayam
Sejumlah petugas melakukan pemeriksaan terhadap ayam (Antara)
Lelaki berinisial WO mengalami gejala flu disertai demam tinggi setelah kontak langsung dengan unggas yang mati mendadak.

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Murjani Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, merawat WO (42) pasien yang diduga (suspek) flu burung. Dia warga Desa Suka Mandang, Kecamatan Rantau Pulut, Kabupaten Seruyan.

Direktur RSUD dr Murjani Sampit, Ratna Yuniarti, mengatakan, pasiennya itu tiba di RSUD  pada Rabu (25/1) pukul 20.00 WIB untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut di ruang isolasi.

Sebelumnya WO sempat dirawat di dokter klinik perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Bina Mas.

Ratna mengatakan, WO menderita flu yang disertai demam tinggi setelah kontak langsung dengan unggas yang mati secara mendadak. Itulah yang menjadi alasan mengapa pasiennya itu dicurigai terjangkit virus H5N1 (flu burung).

Sampai saat ini pihak RSUD dr Murjani Sampit masih menetapkan WO sebagai pasien suspek flu burung  karena belum dilakukan pemeriksaan. Namun secara umum kondisi klinis pasien cukup stabil. 

"Kalau dilihat dari kondisi WO cukup baik, sehat dan kondisi tubuhnya dalam keadaan stabil. Tapi yang bersangkutan tetap harus diberikan perawatan," imbuh Ratna.

Menurutnya, untuk mengetahui positif atau tidaknya WO menderita flu burung nantinya akan segera dilakukan pemeriksaan darah dan sebagainya. Kemudian darah tersebut akan di kirim ke laboratorium di Jakarta.

Hasil pemeriksaan laboratorium baru akan diketahui ada hasilnya, setelah dua hingga tiga hari sejak contoh darah pasien dikirim ke Jakarta.

Selama menunggu hasil dari pemeriksaan laboratorium tersebut, pasien suspek flu burung ditangani sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Dan tidak boleh keluar dari ruang isolasi termasuk istri WO yang sejak awal menemani pasien.

Keluarga yang ada riwayat kontak langsung dengan pasien atau unggas yang mati akan dilakukan pemeriksaan juga.

"Hal itu dilakukan sebagai langkah antisipasi siapa tahu mereka juga sakit," terang Ratna.

Sedangkan untuk unggas WO yang diketahui mati mendadak, sudah dilaporkan ke Distanak Kotim.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon