Delta Dunia Raih Kontrak US$ 300 Juta

Jumat, 19 Juni 2015 | 05:30 WIB
AT
FB
Penulis: Antonia Timmerman | Editor: FMB
Emiten Delta Dunia Makmur
Emiten Delta Dunia Makmur (Beritasatu.com)

Jakarta – Kontraktor pertambangan, PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) melalui anak usahanya, PT Bukit Makmur Mandiri Utama (Buma), meraih kontrak baru dari PT Sungai Danau Jaya (SDJ), anak usaha Geo Energy Resources Ltd. Nilai kontrak tersebut ditaksir mencapai US$ 300 juta atau setara Rp 4 triliun.

Direktur Delta Dunia Errinto Pardede mengungkapkan, harga produksi yang disepakati berkisar US$ 1,8-1,9 per bank cubic meter (bcm) dan ton. Dia berharap, kontrak baru ini dapat meningkatkan volume produksi dan pendapatan perseroan. "Hal itu tentu bisa memberi nilai tambah kepada pemegang saham perseroan," ujar Errinto di Jakarta, Kamis (18/6).

Berdasarkan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MOU), Delta Dunia akan menyediakan jasa penambangan hingga seluruh cadangan batu bara konsesi SDJ telah diproduksi.

Sesuai rencana, perseroan bakal menggarap pemindahan lapisan tanah atau overburden removal sebanyak 131 juta bcm, mengangkut 43 juta ton batu bara, dan menyewakan peralatan berat di lokasi tambang SDJ.

Berdasarkan catatan Investor Daily, Geo Energy merupakan perusahaan tambang yang berbasis di Singapura. Konsesi Geo Energy melalui SDJ terletak di Angsana dan Sungai Loban, Tanah Bambu, Kalimantan Selatan. Konsesi itu seluas 235,5 hektare (ha).

Geo Energy melalui PT Bumi Enggang Khatulistiwa juga memiliki tambang batu bara di Kutai Barat, Kalimantan Timur. Konsesi ini tercatat seluas 4.570 ha.

Selain memperoleh kontrak baru, Delta Dunia juga tengah menjajaki perpanjangan kontrak kerja sama dengan PT Adaro Energy Tbk (ADRO). Errinto berharap, kesepakatan perpanjangan sudah dapat diteken pada kuartal III – 2015. "Kami memang targetkan selesai dalam satu hingga dua bulan mendatang. Mudah-mudahan setelah lebaran," ujar dia.

Saat ini, tercatat ada sembilan pelanggan dari Delta Dunia, yakni Adaro (Paringin) untuk periode 2009-2015, Kideco 2004-2019, Berau Coal (Lati) 2012-2017, Berau Coal Hauling (Suaran) 2003-2018, Berau Coal (Binungan) 2003-2019, KPC (Bengalon) 2011-2016, Darma Henwa (KPC) 2014-2017, dan Multi Tambangjaya Utama (Indika Group) 2014-2018.

Tahun ini, Delta Dunia menargetkan pendapatan sebesar US$ 520 - 560 juta. Target perseroan berdasarkan asumsi overburden removal i area tambang sebanyak 260-280 juta bcm. Adapun harga rata-rata pengangkatan sebesar US$ 2 per ton.

Sebetulnya, target tersebut cenderung sama dengan realisasi tahun lalu. Sepanjang 2014, perseroan berhasil membukukan OB removal sebanyak 277 juta ton bcm.

Capex
Pada 2015, Delta Dunia menyiapkan dana sebesar US$ 106 juta untuk melunasi utang dan ekspansi tahun ini. Perseroan bakal melunasi utang bank senilai US$ 50 juta dan menanggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$ 56 juta.

Direktur Keuangan Delta Dunia Makmur Eddy Porwanto pernah mengatakan, perseoran akan menggunakan kas internal untuk membiayai rencana tersebut. Dia melanjutkan, perseroan saat ini selalu memprioritaskan penggunaan kas untuk melunasi utang. "Pelunasan utang dilakukan untuk mengurangi beban keuangan," tutur dia, baru-baru ini.

Saat ini, rasio utang bersih (net debt) terhadap EBITDA perseroan sebesar 3,5 kali. Menurut Eddy, perseroan akan melunasi utang tersebut secara bertahap.

Sementara itu, sebagian besar alokasi capex perseroan tahun ini bakal digunakan untuk pengadaan peralatan penunjang pertambangan.Pengadaan alat tersebut dilakukan untuk mengantisipasi pengerjaan kontrak yang akan lebih banyak. "Sumber dana capex berasal dari kas internal," ujar Eddy.

Dia melanjutkan, di tengah tekanan harga batu bara di pasar, perseroan harus lebih selektif dalam melakukan investasi. Oleh sebab itu anggaran capex perseroan tahun ini lebih rendah dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Sementara itu, sepanjang kuartal I – 2015 perseroan meraih pendapatan sebsar US$ 122 juta, lebih rendah dibandingkan dengan realisai periode sama tahun lalu sebesar US$ 147 juta. Meskipun begitu, beban pendapatan perseroan juga turun menjadi sebesar US$ 105 juta dibandingkan kuartal I tahun sebelumnya sebesar US$ 116 juta.

Menurut Eddy, hal itu disebabkan oleh rendahnya volume pengupasan lapisan tanah (overburden removal) yang dilakukan dibandingkan tahun sebelumnya. Hal tersebut terjadi karena terdapat perusahaan yang memutuskan kontraknya dengan perseroan.

Pada kuartal I-2015 peseroan juga mencatatkan rugi bersih sebesar US$ 10 juta, jauh lebih rendah dari laba bersih kuartal -2014 sebesar US$ 12 juta. Cukup besarnya rigi bersih perseroan disebabkan oleh rugi selisih kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon