Perubahan yang Dialami Lelaki Saat Menjadi Ayah

Minggu, 21 Juni 2015 | 20:09 WIB
NF
B
Penulis: Nadia Felicia | Editor: B1
Ayah mengasuh anaknya di rumah
Ayah mengasuh anaknya di rumah (The Economist)

Amerika Serikat - Hari Ayah di Amerika Serikat diperingati setiap hari Minggu pekan ketiga bulan Juni. Sosok ayah seringkali digambarkan dengan kekuatan, kewibawaan, dan segala hal terkait maskulinitas. Di balik hal tersebut, menurut psikolog, terjadi perubahan dalam diri lelaki setelah ia memiliki keturunan.

Mengurangi sikap berisiko
Beberapa waktu lalu, periset dari Oregon State University (OSU), mengikuti hidup 200 anak lelaki yang memiliki kemungkinan terlibat dalam kegiatan berisiko tinggi, seperti tindakan kriminal, merokok, mengkonsumsi alkohol, mariyuana, dan sebagainya.

Kehidupan anak-anak ini diikuti sejak berusia 12 tahun hingga 31 tahun untuk meneliti tingkah berisiko yang mereka lakukan. Penelitian selama 19 tahun ini mengambil kesimpulan, menjadi ayah adalah faktor utama yang mengurangi secara drastis kemungkinan seorang lelaki terlibat dalam kegiatan kriminal, konsumsi alkohol, serta merokok, demikian dikutip dari Medical Daily, Minggu (21/6).

Pengurangan keterlibatan dalam hal-hal berisiko itu terlihat drastis berkurang ketika seorang lelaki menjadi ayah di usia akhir 20-an dan awal 30-an dibanding ketika lelaki menjadi ayah di usia remaja atau awal 20-an. Spekulasinya, menjadi seorang ayah di usia yang wajar dan diharapkan (akhir dekade 20-an dan awal 30-an), membuat lelaki lebih mau mengambil perannya sebagai ayah yang bertanggung jawab serta mengurangi gaya hidup negatif.

Berkurangnya level testosteron
Studi di Northwestern University menemukan, lelaki secara biologis ingin menjaga anak-anaknya. Begitu anak-anaknya lahir, level testosteron seorang lelaki pada umumnya akan berkurang. Hormon testosteron adalah hal yang mendorong kecenderungan lelaki untuk berkompetisi mendapatkan pasangan atau berketurunan. Jadi, bila level testosteron tetap tinggi, maka aktivitas untuk mencari pasangan akan terus tinggi. Pengurangan hormon ini juga mengatur banyak hal dalam sisi emosi, psikologi, dan fisik lelaki.

Perubahan berat badan
Penelitian yang dipublikasikan dalam Biology Letter mengemukakan, mamalia jantan, seperti primata, bisa mengalami kenaikan berat badan sekitar 20 persen ketika pasangannya hamil.

Diperkirakan, kenaikan berat badan ini merupakan cara pejantan menyiapkan diri untuk kehadiran anak dengan mencadangkan energi dalam tubuh agar bisa ikut merawat si anak nantinya. Hal ini juga disebut para peneliti sebagai "gejala kehamilan simpatik". Selain kenaikan berat badan, beberapa lelaki dilaporkan juga mengalami mual, sakit kepala, gampang marah, susah tidur, sakit punggung, demam, dan gugup karena gejala kehamilan simpatik ini.

Fungsi otak lebih baik
Laporan lain mengatakan, calon ayah umumnya mengalami perbaikan dalam fungsi otak, khususnya di area korteks prefrontal. Area ini berada di bagian paling depan otak, dan berperan penting dalam pemikiran abstrak juga analisis, yang juga memengaruhi sikap seseorang.

Penelitian mengungkap, usai kelahiran anak, neuron di area ini menunjukkan koknektivitas yang lebih baik. Artinya, memiliki anak mendorong fungsi area otak yang bertanggung jawab dalam perencanaan dan daya ingat ini berfungsi lebih baik. Semua kemampuan ini dibutuhkan orangtua dalam mengasuh anak.

James Swain, psikiater dari University of Michigan mengatakan, umumnya perubahan aktivitas otak pada ayah tidak secepat perubahan pada otak ibu. Di bulan keempat, umumnya, pola perubahan di otak ayah sudah bisa mengimbangi perubahan yang ada pada otak ibu.

Karenanya, di usia bulan keempat, khususnya pada ayah yang sering diubah, baru lebih sensitif terhadap tangis bayi. Hal ini pada akhirnya akan menciptakan ikatan yang kuat antara ayah dan anak.

"Peran ayah dalam keluarga dinilai sangat penting di negara-negara yang modern dan maju, seperti Amerika Serikat, karena kebanyakan keluarga nuklir (keluarga kecil) di negara-negara maju tinggal berjauhan dari keluarga besar. Sehingga hal ini akan membatasi keluarga-keluarga kecil untuk mendapatkan bantuan. Sehingga penting bagi ayah untuk ikut terlibat dalam pengurusan anak dan keluarga," kata Swain.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon