BNPB: 3 Hal Ini Harus Segera Ditangani di Sinabung

Rabu, 24 Juni 2015 | 15:20 WIB
EP
B
Penulis: Eko Priyatmono | Editor: B1
Warga melihat Gunung Sinabung menyemburkan material vulkanis disertai awan panas, di Kecamatan Simpang Empat, Karo, Sumatera Utara, 19 Juni 2015
Warga melihat Gunung Sinabung menyemburkan material vulkanis disertai awan panas, di Kecamatan Simpang Empat, Karo, Sumatera Utara, 19 Juni 2015 (Antara/Endro Lewa)

Jakarta - Erupsi Gunung Sinabung sangat unik. Aktivitas erupsi yang naik turun menyebabkan pengungsi harus bolak-balik dari rumahnya ke pengungsian. Sampai kapan erupsi akan berakhir tidak ada yang tahu.

Sementara itu rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana juga harus segera dilakukan. Sedangkan, regulasi yang menyangkut pendanaan bencana tersekat-sekat dalam setiap tahapan bencana. Ini merupakan salah satu kendala penanganan erupsi Gunung Sinabung.

Menurut Kapusdatin Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, ada tiga hal yang harus ditangani di Sinabung. Pertama adalah pemenuhan kebutuhan dasar bagi 10.184 jiwa (3.030 KK) pengungsi dari 11 desa yang tersebar di 10 pos pengungsian.

"Saat ini semua kebutuhan dasar secara umum tercukupi," ujarnya seperti dalam rilis yang diterima Beritasatu.com, Rabu (24/6).

Kedua, lanjut Sutopo, relokasi bagi 2.053 KK (6.179 jiwa) dari 7 desa yang dinyatakan dilarang untuk kembali ke desa asalnya. Mereka saat ini tinggal di hunian sementara.

Pemerintah sejak Juni 2014 hingga sekarang memberikan bantuan sewa rumah Rp 3,6 juta per KK per tahun dan sewa lahan pertanian Rp 2 juta per KK per tahun.

"Relokasi tahap pertama adalah 370 KK dari Desa Sukameriah, Simacem, dan Bekerah. Kebutuhan anggaran untuk relokasi 370 KK adalah Rp 141,3 miliar," jelasnya.

Dana tersebut untuk pembangunan permukiman, infrastruktur, ekonomi produktif, sosial budaya, dan lintas sektor. Sedangkan untuk relokasi tahap kedua yaitu 1.683 KK dibutuhkan dana Rp 522 milyar. Kebutuhan ini di luar dari pembangunan sabo dam untuk menahan lahar hujan di sekitar Gunung Sinabung.

"Masalah ketersediaan lahan untuk relokasi adalah masalah penting karena kenyataannya tidak mudah mencari lahan kosong," katanya.

Hal yang ketiga adalah penanganan dampak erupsi Gunung Sinabung yang non relokasi. Saat ini, banyak warga desa di sekitar Gunung Sinabung yang tidak dapat melakukan budidaya pertanian dan perkebunan karena lahannya rusak akibat pasir dan debu erupsi. Beberapa fasum dan fasos juga rusak.

"Perlu penanganan yang komprehensif baik di tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten," tandasnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon