Flu Burung Semakin Mencemaskan
Minggu, 29 Januari 2012 | 06:37 WIB
Penanganan cepat dan program berkesinambungan harus dilakukan untuk mencegah penyebaran virus secara luas.
Sejak Kamis (19/1) kasus ayam mati secara mendadak telah terjadi di Kampung Kayu Manis RT 03/RW 01, Cibadak, Tanah Sareal, Kota Bogor, Jawa Barat.
Hingga Jumat (27/1) jumlahnya terus bertambah mencapai 27 ekor ayam, dan pada Sabtu (28/1) bertambah lagi menjadi 32 ekor.
Melihat kasus yang sedemikian mengkhawatirkan ini, Dinas Pertanian Kota Bogor langsung melakukan pemeriksaan rapid test (tes cepat).
Rapid tes sendiri dilakukan dengan menggunakan alat pengukur seperti alat pengecek kehamilan. Sampel yang diambil berupa feses dan cairan di tenggorokan ayam, lalu diukur.
Hasil pemeriksaan menunjukkan, bahwa satu ekor ayam milik warga yang mati mendadak tersebut, positif terkena flu burung (H5N1).
Dan sangat mungkin puluhan ayam lainnya pun mati mendadak akibat virus yang sama, meski Dinas Pertanian Kota Bogor belum memastikan kematian puluhan ayam tersebut positif flu burung.
Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian, Kota Bogor, Robert Hasibuan mengatakan, meski tingkat akurasi tes cepat 80 persen, uji laboratorium tetap harus dilakukan untuk mengetahui secara pasti penyebab kematiannya.
Dengan adanya kasus ini warga dan masyarakat luas tentu saja khawatir dibuatnya, apalagi virus H5N1 dikenal sebagai virus mematikan yang bisa menyebar dengan cepat.
Kekhawatiran mereka semakin menguat lantaran di daerahnya ada dua warga yang menderita sakit flu.
Meski Dwi Susanto, tim Distrik Surveilans Oficial (DSO) dari Dinas Kesehatan Kota Bogor, mengatakan, bahwa kedua pasien itu tidak menunjukkan tanda-tanda terpapar flu burung, tetap saja tak membuat warga menjadi tenang.
Terlebih sebelumnya sudah ada dua warga dari Tanjung Priok, Jakarta Utara, meninggal akibat virus tersebut.
Belum lagi kini ada seorang penderita suspek flu burung sedang dirawat di RSUD dr Murjani, Sampit, Kalimantan Tengah, yang diketahui sempat kontak dengan unggasnya yang mati mendadak.
Harus Berkesinambungan
Penanganan cepat dan berbagai upaya antisipasi memang harus dilakukan, mengingat flu burung mempunyai gejala yang sama dengan flu biasa, selain penyakit tersebut juga sulit dideteksi.
Untuk mencegah penyebaran virus flu burung semakin meluas, Dinas Pertanian Kota Bogor, memang telah melakukan penyemprotan desinfektan ke seluruh kandang ayam milik warga disusul pemberian vaksinasi.
Dinkes Kota Bogor pun sudah melakukan sosialisasi tentang pencegahan flu burung kepada warga dengan berbagai upaya seperti, penyebaran pamflet dan brosur seputar penanganan dan pencegahan flu burung.
Tak hanya itu, masyarakat juga dihimbau untuk memusnahkan ayam-ayam yang sakit dengan cara membakar dan menghindari kontak dengan unggas.
"Bila terjadi kematian unggas warga dihimbau untuk membakar ayam tersebut dan melengkapi diri dengan pelindung," jelas Robert.
Tak kalah penting adalah selalu menjaga kesehatan dan kebersihan diri serta lingkungan sekitar.
Namun persoalannya tidak hanya berhenti sampai di situ. Indonesia sebagai negara dengan kasus flu burung tertinggi di dunia, tak bisa lagi sekadar melakukan penanganan cepat, tapi justru yang tak kalah penting adalah melakukan berbagai upaya pencegahan, penyuluhan (sosialisasi) dan edukasi secara berkesinambungan.
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, sudah sampai sejauh mana berbagai program atau upaya tersebut telah dilakukan agar ke depannya Indonesia bisa terus menekan jumlah kasus flu burung, dan angka kematian penderita akibat virus mematikan itu.
Sejak Kamis (19/1) kasus ayam mati secara mendadak telah terjadi di Kampung Kayu Manis RT 03/RW 01, Cibadak, Tanah Sareal, Kota Bogor, Jawa Barat.
Hingga Jumat (27/1) jumlahnya terus bertambah mencapai 27 ekor ayam, dan pada Sabtu (28/1) bertambah lagi menjadi 32 ekor.
Melihat kasus yang sedemikian mengkhawatirkan ini, Dinas Pertanian Kota Bogor langsung melakukan pemeriksaan rapid test (tes cepat).
Rapid tes sendiri dilakukan dengan menggunakan alat pengukur seperti alat pengecek kehamilan. Sampel yang diambil berupa feses dan cairan di tenggorokan ayam, lalu diukur.
Hasil pemeriksaan menunjukkan, bahwa satu ekor ayam milik warga yang mati mendadak tersebut, positif terkena flu burung (H5N1).
Dan sangat mungkin puluhan ayam lainnya pun mati mendadak akibat virus yang sama, meski Dinas Pertanian Kota Bogor belum memastikan kematian puluhan ayam tersebut positif flu burung.
Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian, Kota Bogor, Robert Hasibuan mengatakan, meski tingkat akurasi tes cepat 80 persen, uji laboratorium tetap harus dilakukan untuk mengetahui secara pasti penyebab kematiannya.
Dengan adanya kasus ini warga dan masyarakat luas tentu saja khawatir dibuatnya, apalagi virus H5N1 dikenal sebagai virus mematikan yang bisa menyebar dengan cepat.
Kekhawatiran mereka semakin menguat lantaran di daerahnya ada dua warga yang menderita sakit flu.
Meski Dwi Susanto, tim Distrik Surveilans Oficial (DSO) dari Dinas Kesehatan Kota Bogor, mengatakan, bahwa kedua pasien itu tidak menunjukkan tanda-tanda terpapar flu burung, tetap saja tak membuat warga menjadi tenang.
Terlebih sebelumnya sudah ada dua warga dari Tanjung Priok, Jakarta Utara, meninggal akibat virus tersebut.
Belum lagi kini ada seorang penderita suspek flu burung sedang dirawat di RSUD dr Murjani, Sampit, Kalimantan Tengah, yang diketahui sempat kontak dengan unggasnya yang mati mendadak.
Harus Berkesinambungan
Penanganan cepat dan berbagai upaya antisipasi memang harus dilakukan, mengingat flu burung mempunyai gejala yang sama dengan flu biasa, selain penyakit tersebut juga sulit dideteksi.
Untuk mencegah penyebaran virus flu burung semakin meluas, Dinas Pertanian Kota Bogor, memang telah melakukan penyemprotan desinfektan ke seluruh kandang ayam milik warga disusul pemberian vaksinasi.
Dinkes Kota Bogor pun sudah melakukan sosialisasi tentang pencegahan flu burung kepada warga dengan berbagai upaya seperti, penyebaran pamflet dan brosur seputar penanganan dan pencegahan flu burung.
Tak hanya itu, masyarakat juga dihimbau untuk memusnahkan ayam-ayam yang sakit dengan cara membakar dan menghindari kontak dengan unggas.
"Bila terjadi kematian unggas warga dihimbau untuk membakar ayam tersebut dan melengkapi diri dengan pelindung," jelas Robert.
Tak kalah penting adalah selalu menjaga kesehatan dan kebersihan diri serta lingkungan sekitar.
Namun persoalannya tidak hanya berhenti sampai di situ. Indonesia sebagai negara dengan kasus flu burung tertinggi di dunia, tak bisa lagi sekadar melakukan penanganan cepat, tapi justru yang tak kalah penting adalah melakukan berbagai upaya pencegahan, penyuluhan (sosialisasi) dan edukasi secara berkesinambungan.
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, sudah sampai sejauh mana berbagai program atau upaya tersebut telah dilakukan agar ke depannya Indonesia bisa terus menekan jumlah kasus flu burung, dan angka kematian penderita akibat virus mematikan itu.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




