Potensi Pertumbuhan PP Properti
Selasa, 14 Juli 2015 | 03:32 WIB
Jakarta - PT PP Properti Tbk (PPRO) menyimpan sejumlah potensi yang bisa menopang keberlanjutan pertumbuhan kinerja keuangan. Potensi itu antara lain dukungan yang kuat dari PT PP Tbk (PTPP) selaku induk usaha, lokasi pengembangan proyek yang bernilai tinggi, serta sebagian besar proyek yang sedang digarap masih tahap awal.
Potensi tersebut tidak dimiliki oleh sejumlah pengembang lain di Indonesia. Danareksa Sekuritas menyebutkan tiga faktor itu berpotensi membuat rata-rata kenaikan tahunan (CAGR) penjualan pemasaran (marketing sales) unit properti PP Properti sebesar 35,8 persen hingga 2017. Sedangkan CAGR kenaikan laba diharapkan sebesar 63,1 persen hingga 2017.
PP Properti merupakan salah satu pengembangan terkemuka di Indonesia yang berdiri sejak 1991. PP Roperti awalnya satu dari beberapa divisi PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP) sebelumnya akhirnya dipisahkan (spin off) menjadi entitas berdiri sendiri sejak Oktober 2014.
Analis Danareksa Sekuritas Anindya Saraswati mengatakan, dukungan dari pemegang saham berbentuk kesediaan induk usaha perseroan menjadi kontraktor setiap proyek yang dikembangkan PP Properti. Sebagaimana diketahui biaya konstruksi menyumbang hingga 58 persen terhadap total biaya perusahaan properti. Sedangkan sisanya disumbangkan biaya pembelian lahan, marketing, dan lain-lain.
"Dengan menunjuk induk usaha sebagai kontraktor, PP Properti bisa menjaga kualitas bangunan yang bisa menjadi daya tarik bagi pelanggan. Kehadiran induk sebagai kontraktor diharapkan efisiensi biaya pembangunan proyek properti bisa ditekan dan ketepatan waktu pengembangan sesuai dengan target," tulis Anindya dalam risetnya, baru-baru ini.
Dia menjelaskan, PP Properti diprediksi terus menjaga hubungan dengan PP selaku induk usaha guna menghasilkan biaya pengembangan properti lebih murah, sehingga harga jualnya kompetitif dengan produk properti yang ditawarkan perusahaan lainnya. Selain itu, perseroan kemungkinan mendapatkan harga konstruksi lebih murah tanpa harus mengorbankan margin keuntungan induk usaha.
Faktor pendongkrak kinerja keuangan perseroan dalam jangka panjang bisa ditopang oleh keuntungan sinergi dengan sejumlah BUMN. Menurut Anindya, PP Properti membagi tiga lini bisnis, yaitu proyek yang dikembangkan di lahan milik sendiri, pengembangan proyek properti dengen menggandeng perusahaan lain, dan pembentukan perusahaan patungan dengan pihak ketiga.
"Kami memperkirakan PP Properti akan memanfaatkan kedekatan induk usaha dengan sejumlah pelanggannya untuk mempermudak akses mendapatkan lahan pengembangan properti, khususnya dengan perusahaan BUMN. Hal ini membuka kemungkinan PP Properti membentuk perusahaan patungan dengan sejumlah pemilik lahan yang tentu membawa dampak positif bagi perseroan dalam jangka panjang," ungkap Anindya.
Saat ini, menurut dia, kontribusi perusahaan patungan terhadap pendapatan perseroan masih rendah mencapai 0,3 persen terhadap total pendapatan tahun lalu. Namun, pengembangan proyek melalui skema ini bisa menjadi penopang utama pertumbuhan pendapatan perseroan dalam jangka panjang.
Perseroan sedang mengembangkan dua proyek properti melalui perusahaan patungan, yaitu pembangunan gedung perkantoran di Setiabudi, Jakarta Selatan. Perseroan juga menggandeng PT Dwimatra Mandiri untuk membangun Pekanbaru Park Condotel.
Faktor ketiga yang menjadi keunggulan PP Properti dibandingkan pengembang lainnya adalah kemudahan untuk menentukan lahan bernilai tinggi untuk diakuisisi ke depan. Menurut Anindya, perseroan hanya memiliki cadangan lahan (land bank) seluas 55 hetare atau tergolong kecil, dibandingkan pengembang lainnya.
Namun, lahan kecil tersebut tergolong bernilai tinggi dan dapat dimanfaatkan secepatnya untuk mendukung kenaikan pendapatan. Bahkan, lahan tersedia tersebut bisa menopang pertumbuhan kinerja keuangan perseroan dalam 20 tahun ke depan.
"PP Properti akan melanjutkan akuisisi cadangan lahan, baik dengan cara pembentukan perusahaan patungan, guna mendukung pertumbuhan lebih lanjut. Perseroan diperkirakan tetap menggunakan skenario akuisisi lahan bernilai tinggi dengan cara menggandeng konsultan independen guna mengidentifikasi lahan prospek," jelas Anindya.
Keberhasilan menyediakan lahan pengembangan properti bernilai tinggi tercermin pada lonjakan marketing sales perseroan hingga 396 persen tahun lalu menjadi Rp 1,21 triliun, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 244 miliar. Sedangkan hingga Mei 2015, marketing sales perseroan telah meningkat menjadi Rp 838 miliar atau sesuai dengan ekspektasi yang ditetapkan Danareksa Sekuritas.
Saat ini, perseroan sedang mengembangkan beberapa proyek properti di atas lahan bernilai tinggi di beberapa kota besar di Indonesia. Di antaranya, Grand Sungkono Lagoon (GKL) di Surabaya, Grand Kamala Lagoon (GKL) di Bekasi, Gunung Putri Square di Bogor, The Ayotama Apartment di Serpong, Payon Amartha di Semarang, dan beberapa kota lainnya.
Berbagai faktor tersebut mendorong Danareksa Sekuritas untuk merekomendasikan beli saham PPRO dengan target harga Rp 242. Target harga ini mengimplikasikan diskon sekitar 50 persen terhadap proyeksi nilai aset bersih (NAV) perseroan. Target tersebut juga merefleksikan estimasi PE perseroan tahun 2015 dan 2016 sekitar 11,9 kali dan 9,3 kali.
Tahun ini, PP Properti membidik kenaikan penjualan marketing properti menjadi Rp 2,5 triliun. Sedangkan target hingga Juni 2015 mencapai Rp 1 triliun atau 40 persen dari total target tahun ini. Penjualan datang dari 11 proyek yang sedang digarap pereroan, seperti GKL Surabaya dan GKL Bekasi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




