Sukses Stabilisasi Harga, Mendag Bisa Jadi "Ex Officio" Kepala Bulog

Rabu, 15 Juli 2015 | 03:42 WIB
HS
B
Penulis: Hotman Siregar | Editor: B1
Ilustrasi beras
Ilustrasi beras (Antara/Oky Lukmansyah)

Jakarta - Menteri Perdagangan (Mendag) sebaiknya merangkap menjadi kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk menjamin ketersediaan pangan dan 14 kebutuham pokok rakyat lainnya.

"Sebenarnya bisa-bisa saja atau sebaiknya Mendag menjabat sebagai ex officio kepala Bulog untuk menjamin ketersediaan pangan dan kebutuhan rakyat lainnya," kata mantan Wakil Ketua DPD RI, Laode Ida di Jakarta, Selasa (14/7).

Laode Ida mengatakan, banyak hal yang telah dilakulan Kemdag saat ini untuk menjamin ketersediaan pangan dan menjamin stabilitas harga. Karena itu, adalah tepat kalau Mendag menjadi ex officio kepala Bulog.

Laode Ida lebih jauh mengatakan, Bulog seharusnya mandiri sebagai Perum yang diberi tanggung jawab untuk jamin ketersediaan dan stabilitas harga pangan di pasar. Kemdag, kata dia, selain diusilkan menjadi ex officio kepala Bulog, juga sebagai regulator dan pengawas internal pemerintah.

"Selama ini Bulog terjebak pada orientasi profit, sehingga lupa fungsi sosialnya. Akibatnya tak jarang jadi sarang mafia impor beras dan kebutuhan pokok lainnya bekerja sama dengan oknum-oknum pejabat dari Kemdag," katanya.

Konsep seperti ini, lanjut Laode Ida, sebenarnya sudah menjadi misi Presiden Joko Widodo. "Masih ingat saat sebelum pelantikan, pimpinan DPD RI (Irman Gusman, Laode Ida dan Ratu Hemas) bertemu dan makan siang dengan Jokowi.
Saat itu dia didampingi Rini Sumarno dan Hasto Kristanto. Saat itulah Jokowi utarakan langsung kepada kami tentang model pengelolaan Bulog, dan secara prinsip sama dengan pendapat saya alias saya nyatakan sangat setuju dengan ide itu," katanya.

Sekali lagi, kata Laode Ida, Bulog harus berfungsi sebagai penjamin ketersediaan pangan, bukan untuk bisnis. Bahkan diharapkan Bulog jadi pembeli (buyer) produk petani dengan harga yang harus sama dengab harga pasar.

"Tidak apa-apa kalau pemerintah rugi dengan membeli produk petani, karena itu bagian dari subsidi nyata pada petani dan sekaligus akan merangsang petani tetap bergairah dalam bidang mata pencaharian mereka," katanya.

Pihak Kemendag, kata dia, hanya sebagai regulator dan sekaligus pengawas, disamping pihak DPR yang akan lakukan pengawasan politik.

Anggota Komisi VI DPR, Irmadi Lubis mengatakan, saat ini Bulog berada di bawah koordinasi Kemdag secara tidak langsung. Menteri Perdagangan (Mendag), Rahmat Gobel juga dinilai sukses menjaga stabilisasi harga dan pasokan pangan selama bulan Ramadan.

Karena itu tidak salah kalau Mendag menjadi ex officio kepala Bulog karena itu pernah terjadi sebelumnya. Dijelaskan, dulu Kemdag merangkap kepala Bulog. Tetapi sejak era Presiden Abdurrahman Wahid dipisahkan.

Kemdag dipimpin oleh Jusuf Kalla dan Kepala Bulog dipimpin oleh Rizal Ramli. Namun, intervensi IMF membuat posisi Bulog semakin tidak jelas. Dan pada era kepemimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri, campur tangan IMF mulai tak terlihat lagi. Mulai era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) posisi Bulog berada di bawah BUMN dan statusnya berubah menjadi perum.

Tetapi, ke depannya, kata dia, masalah pangan ini tidak hanya soal stabilisasi harga, tetapi juga masalah ketersediaan barang kebutuhan pokok. Karena itu, Irmadi Lubis mengusulkan agar Preside Joko Widodo menugaskan Wakil Presiden Jusuf Kalla khusus menangani masalah Bulog ini.

"Wapres bisa menugaskan Kementerian Perdagangan untuk mengurusi Bulog ketika menyangkut masalah pasokan dan stabilisasi harga," kata Irmadi Lubis.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon