Kenaikan Harga Daging Sapi

Rumah Pemotongan Hewan di Bekasi Tak Beraktivitas

Senin, 10 Agustus 2015 | 10:31 WIB
MN
B
Penulis: Mikael Niman | Editor: B1
Rumah pemotongan hewan (RPH) di Jatimelati, Kecamatan Pondokmelati tampak sepi dan tidak ada aktivitas pemotongan hewan sejak Sabtu (8/8) malam.
Rumah pemotongan hewan (RPH) di Jatimelati, Kecamatan Pondokmelati tampak sepi dan tidak ada aktivitas pemotongan hewan sejak Sabtu (8/8) malam. (Suara Pembaruan/Mikael Niman)

Bekasi - Para pedagang daging sapi di Kota Bekasi, Jawa Barat (Jabar), kompak mengikuti aksi mogok berjualan yang berlangsung sejak hari ini, Senin (10/8) hingga Rabu (12/8).

Berdasarkan catatan minggu lalu, harga daging hingga sapi mencapai Rp 130.000 - 145.000 per kilogram (kg) di beberapa pasar, seperti Pasar Baru - Bekasi Timur, Pasar Kranggan - Jatisampurna, Pasar Pondokgede. Bahkan, kenaikan harga juga sudah terasa di rumah pemotongan hewan (RPH).

"Terakhir, saya beli daging sapi Rp 130.000 per kg di Pasar Pondokgede pada Jumat (7/8) malam," ujar salah satu ibu rumah tangga, Linda (34) di Bekasi, Senin (10/8).

Sementara itu berdasarkan pantauan, sejumlah lapak pedagang daging sapi di Pasar Baru, Bekasi Timur, tampak kosong. Tidak ada daging sapi yang terlihat dijual di lapak para pedagang. Para pedagang pun tidak tampak batang hidungnya.

Kondisi yang sama juga terlihat di RPH. Para tukang potong hewan tidak melakukan aktivitasnya dan memilih untuk pulang kampung.

"Kami tidak lagi potong sapi sejak Sabtu (8/8) malam lalu," ujar Saipul, salah satu tukang potong hewan di RPH Jatimelati, Kecamatan Pondokmelati, Kota Bekasi.

Dia mengatakan, pemberitahuan adanya mogok massal pedagang daging sapi ini sudah diketahui sejak lima hari yang lalu.

"Kami sudah tahu dari pemberitahuan mogok pedagang sapi sejak Rabu (5/8). Semua pedagang, tukang potong di RPH diminta tidak melakukan aktivitas selama mogok massal ini," ujarnya.

Laki-laki yang telah 15 tahun menggeluti bisnis daging sapi ini menyatakan, alasan para pedagang sapi melakukan mogok massal adalah karena stok daging yang terbatas, karena adanya kebijakan pemerintah pusat melakukan pembatasan impor daging. Menurutnya, kebutuhan daging sapi tidak cukup hanya dengan mengandalkan sapi lokal saja.

"Sapi impor dari Australia dibatasi dan stok daging sapi lokal tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan daging sapi konsumen, sehingga stok menipis dan harga semakin naik, walaupun Lebaran sudah lewat," ungkapnya.

Dia mengatakan, dengan kondisi seperti ini, harga sapi Bali (lokal) menjadi lebih mahal dibanding dengan sapi impor dari Australia. "Para pedagang menahan sapi lokal untuk tidak menjual ke pasaran sampai mogok massal para pedagang sapi, berakhir," katanya.

RPH Jatimelati menyuplai daging sapi ke beberapa pasar, seperti Pasar Cijantung dan Pasar Ciracas - Jakarta Timur, serta Pasar Teluk Pucung - Depok.

"Kami masih ada stok sapi Bali yang masih hidup, sebanyak 20 ekor, namun tidak akan dipotong hingga nanti ada pemberitahuan selanjutnya," ungkapnya.

Dia mengatakan, dampak dari aksi mogok massal ini adalah penurunan penghasilan.

"Pasti ada dampaknya. Ada anak buah, yakni tukang potong, tukang rumput, tukang kandang, sopir, tukang jual ke pasar tidak memperoleh penghasilan selama mogok dagang. Masyarakat konsumen pun terkena dampaknya. Kami minta agar pemerintah segera menyelesaikan keluhan para pedagang daging sapi ini," imbuhnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon