Asia dan Eropa Jadi Korban Serangan DDoS
Selasa, 11 Agustus 2015 | 10:35 WIB
Jakarta - Tiga perempat dari sumber serangan melalui botnet berlokasi di 10 negara, dan posisi teratas ditempati Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Di negara-negara itu banyak terdapat hosting yang murah. Namun, kini perubahan pada posisi lain dari peringkat ini dan semakin banyaknya negara yang terkena serangan jenis ini membuktikan bahwa tidak ada negara yang dapat dijamin lolos dari serangan DdoS.
"Teknik-teknik rekayasa sosial, munculnya jenis perangkat baru dengan akses internet, kerentanan perangkat lunak dan meremehkan pentingnya perlindungan anti-malware berkontribusi pada penyebaran boots dan peningkatan jumlah serangan DdoS," kata Evgeny Vigovsky, Head of DDoS Protection Kaspersky Lab.
Dengan demikian, lanjut Evgeny, perusahaan yang berbeda sekalipun tetap berisiko terlepas dari lokasi, ukuran atau jenis kegiatan mereka. Daftar korban yang terlindungi dari serangan DDoS oleh Kaspersky Lab pada kuartal II-2015, termasuk organisasi pemerintahan, lembaga keuangan, media massa dan bahkan lembaga pendidikan.
Pada kuartal II-2015, jumlah negara di mana sumber serangan terletak meningkat dari 76 ke 79. Sementara itu, sebanyak 72 persen korban terletak di 10 negara. Namun, angka ini menurun dibandingkan dengan periode sebelumnya, yaitu 9 dari 10 korban dalam 10 peringkat teratas di Q1.
Sepuluh peringkat teratas pada kuartal II terdapat Kroasia yang masuk menggantikan Belanda yang berhasil keluar dari peringkat ini. Tiongkok dan AS masih tetap menempati posisi teratas. Korea Selatan mendorong Kanada turun dari posisi ketiga. Hal ini disebabkan oleh ledakan aktivitas botnet, yang mana sebagian besar menargetkan Korea Selatan. Untuk proporsi serangan dari sumber yang berlokasi di Rusia dan Kanada mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya.
Statistik Kaspersky DDoS Intelligence juga menunjukkan fluktuasi yang terlihat jelas dalam jumlah botnet berbasis DDoS berdasarkan waktu. Misalnya, peningkatan tajam dalam jumlah serangan terjadi dalam minggu pertama Mei, sedangkan aktivitas terendah terjadi pada akhir Juni. Jumlah serangan terbanyak per hari (1.960) tercatat pada 7 Mei.
Sedangkan hari yang paling "tenang" adalah 25 Juni dengan hanya 73 serangan yang tercatat. Pada saat yang sama, serangan DDoS terpanjang pada kuartal ini berlangsung selama 205 jam (8,5 hari).
Mengenai teknologi yang dipergunakan untuk melaksanakan serangan, penjahat cyber yang terlibat dalam mengembangkan botnet DDoS semakin berinvestasi dalam menciptakan botnet untuk perangkat jaringan seperti router dan modem dsl. Perubahan ini mengancam pertumbuhan jumlah serangan DDoS menggunakan botnet di masa depan.
Saat ini hanya beberapa perusahaan saja yang bisa beroperasi tanpa sumber daya online (email, layanan web, situs web, dan lain-lain), membatasi pekerjaan mereka dengan ancaman DDoS dapat menyebabkan risiko bisnis dan kerugian keuangan yang signifikan. Itulah sebabnya Kaspersky Lab menganjurkan semua perusahaan menjamin keamanan layanan mereka sebelumnya.
Ketika memilih solusi untuk melindungi infrastruktur TI perusahaan terhadap serangan DDoS, lebih baik untuk fokus pada vendor yang mapan di pasar keamanan TI. Misalnya, Kaspersky DdoS Protection menggabungkan keahlian perusahaan selama bertahun-tahun di bidang perlindungan terhadap ancaman online dan pengembangan teknologi oleh perusahaan membantu menjaga terhadap serangan dari sumber di wilayah manapun.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




