Jakarta Masih Kekurangan BBG untuk Transportasi Publik
Jumat, 14 Agustus 2015 | 23:11 WIB
Jakarta - Seluruh transportasi publik di Jakarta masih kesulitan untuk menggunakan bahan bakar gas (BBG). Hingga saat ini, Jakarta masih minim pasokan BBG sehingga belum bisa mencukupi kebutuhan transportasi publik.
Untuk itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta meminta pemerintah pusat membantu memenuhi kebutuhan BBG tersebut.
Kepala Dinas Perindustrian dan Energi DKI Harris Pindratno mengatakan kebutuhan gas per hari untuk Bajaj di Jakarta sekitar 9-10 liter setara premium (LSP). Sementara, untuk kendaraan angkutan umum jenis Mikrolet membutuhkan gas per hari sekitar 17 LSP. Lalu, untuk bus Transjakarta tunggal per hari kira-kira 200 LSP. Kalau bus Transjakarta gandeng sekitar 250 LSP per hari.
"Kebutuhan akan BBG tidak sebanding dengan jumlah stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) untuk transportasi di Jakarta. Sekarang, baru berjumlah 12 unit. Belum memadai untuk memenuhi kebutuhan gas bagi angkutan umum yang telah beralih ke BBG," kata Harris, Jumat (14/8).
Untuk memenuhi kebutuhan BBG tersebut, Harris mengimbau Pertamina dan PGN saling sinergi untuk mendukung penuh kebutuhan kendaraan BBG di DKI. Transportasi publik dengan BBG dapat mengurangi polusi udara.
Dia mengungkapkan, pencemaran udara dari asap knalpot kendaraan di Jakarta menempati urutan 3 di dunia. Hal itu disebabkan masih minimnya jumlah angkutan umum yang beralih ke BBG.
"Jakarta udaranya tercemar nomor 3 di dunia. 70 persennya itu dari asap yang dikeluarkan mobil angkutan umum. Makanya kita mohon dukungan pemerintah untuk segera memenuhi kebutuhan gas Pemprov DKI," jelasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




