Warga Rote Belum Dapat Listrik
Minggu, 16 Agustus 2015 | 13:56 WIB
Ba'a - Sejumlah warga di pulau terdepan, terselatan, tepatnya di Desa Tebole, Kecamatan Rote Selatan, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengeluh sampai saat ini belum mendapatkan listik untuk penerangan dan kebutuhan lainnya.
"Kami sudah menunggu bertahun-tahun belum juha mendapatkan jaringan listrik. Padahal kami ingin sekali agar desa ini juga bisa ada penerangan," kata Iyon, salah seorang warga Tebole, Ba'a, Minggu (16/8).
Tebole, merupakan salah satu desa yang terletak di wilayah terselatan pulau Rote, yang langsung berhadapan dengan laut lepas.
Perjalanan untuk bisa sampai ke desa tersebut hanya memakan waktu kurang lebih satu jam dengan kondisi jalan yang memprihatinkan.
Sebelumnya, General Manager PT PLN NTT, Richard Safkaur, mengatakan, warga perbatasan di pulau-pulau terluar NTT akan segera menikmati listrik, yang serentak diluncurkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Bali, pada peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 2015.
"Penyalaan listrik untuk konsumen di wilayah pulau terluar NKRI itu akan dilakukan secara serentak oleh Presiden Joko Widodo yang berpusat di Bali, tepat pada peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2015," katanya.
Sejumlah wilayah di NTT ,di daratan Pulau Timor dan Pulau Ndao, sebagai pulau terluar temasuk dalam program ini, di antaranya daerah Oepoli, Desa Netemnanu, Kecamatan Amfoang Timur, Kabupaten Kupang yang berbatasan dengan Distric Oecusse, Timor Timur.
Berikut Desa Naekake A, Kecamatan Mutis, Kabupaten Timor Tengah Utara, berbatasan dengan Distrik Oecusse, Timor Timur.
Selanjutnya, Kecamatan Atambua Barat, Kabupaten Belu, berbatasan dengan Distrik Bobonaro, Timor Leste, meliputi Desa Takirin, Desa Foheka, Desa Nananaet.
Menyusul Desa Nananoe, Desa Alas Kecamatan Kobalima, Kabupaten Malaka yang berbatasan dengan Distrik Covalima, Timor Timur, dan pulau terluar adalah Pulau Ndao, sekaligus berbatasan laut dengan Australia, termasuk dalam program ini.
Iyon mengatakan, selama ini, ia dan warga di desa tersebut hanya bisa menggunakan lampu pelita yang masih sangat tradisional, dengan menggunakan minyak tanah.
Sementara itu, Kally, warga Tebole yang sudah bertahun-tahun tinggal di desa tersebut, mengatakan selain soal listrik, masalah air bersih serta kondisi jalan di daerah tersebut, menurutnya, juga membutuhkan perhatian dari pemerintah.
"Jangankan listrik, air, jalan saja seperti yang kita lihat sendiri, memprihatinkan. Dan untuk mengambil air, kami harus berjalan sepanjang tiga kilometer untuk mendapatkan air di mata air terdekat," katanya.
Baik Iyon maupun Kally berharap agar desa tersebut juga masuk dalam program Presiden Jokowi, terkait pembangunan listrik.
"Kalau memang tahun ini belum ada program, tahun depan sebaiknya sudah mulai dilakukan pembangunan dan pemasangan listrik," pintanya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




