Aksi Mogok Hanya Dilakukan Pedagang Ayam Pasar Kramat Jati

Rabu, 19 Agustus 2015 | 16:24 WIB
PP
IC
Penulis: Priska Sari Pratiwi | Editor: CAH
Kios daging ayam di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur kosong lantaran pedagang mogok berjualan, 17 Agustus 2015
Kios daging ayam di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur kosong lantaran pedagang mogok berjualan, 17 Agustus 2015 (BeritaSatu.com/Priska Sari Pratiwi)

Jakarta - Aksi mogok jualan rupanya tidak dilakukan seluruh pedagang ayam. Tercatat dari 31 pasar yang ada di Jakarta Timur, hanya pedagang ayam di Pasar Kramat Jati yang mogok jualan. Sementara pedagang ayam di Pasar Enjo, Pasar Klender, Pasar Rawamangun, dan sejumlah pasar lainnya di Jakarta Timur tetap berjualan seperti biasa.

Kepala Suku Dinas Kelautan, Perikanan, dan Ketahanan Pangan (KPKP) Jakarta Timur Bayu Sari Hastuti mengatakan, aksi mogok yang dilakukan di Pasar Kramat Jati adalah kemauan para pedagang sendiri. Pihaknya mengaku telah melakukan pengecekan di pasar-pasar tradisional di Jakarta Timur dan tidak ditemukan aksi mogok jualan seperti di Pasar Kramat Jati.

"Pedagang yang mogok memang hanya di Pasar Kramat Jati tapi besok mereka juga sudah jualan lagi. Sementara di pasar lain tidak ada (aksi mogok), cuma harganya memang masih mahal," ujar Bayu, Rabu (19/8).

Menurutnya aksi mogok ini dipicu para pedagang ayam yang ada wilayah Bogor dan Sukabumi sebagai pemasok ayam terbesar.

Bayu menyebutkan, harga ayam yang dijual pedagang masih dikisaran Rp 40 ribu per kilogram. Dikatakan Bayu, hingga saat ini stok ayam pun normal dan tidak ada kekurangan. "Enggak ada kurang stok, itu alasannya pedagang saja," imbuhnya. Terkait upaya menekan tingginya harga ayam tersebut, ia belum berencana melakukan operasi pasar.

Sementara itu seorang pedagang ayam di Pasar Enjo, Udin (43) lebih memilih berjualan ketimbang ikut-ikutan mogok seperti pedagang di Pasar Kramat Jati. "Mending jualan daripada mogok enggak dapat apa-apa. Lagian enggak semua pedagang juga mogok jualan," katanya.

Ia mengaku sejak harga ayam naik dari Rp 20 ribu menjadi Rp 40 ribu, jumlah pembeli pun berkurang. Bahkan ia juga mengalami penurunan omset hingga 40 persen. "Makanya kita tetap jualan saja, yang penting masih dapat pemasukan," katanya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon