2015, Indonesia Optimis Tarik Investasi Rp500 T
Senin, 6 Februari 2012 | 16:49 WIB
Kondisi ekonomi kita sangat bagus. Pada 3-4 tahun mendatang, investasi yang masuk ke Indonesia bahkan bisa mencapai Rp500-550 triliun
Kondisi perekonomain Indonesia yang cukup bagus diyakini akan mampu menarik investasi lebih besar pada tahun-tahun mendatang.
Pemerintah bahkan optimis, pada 2015 mendatang, investasi yang masuk ke Indonesia dapat mencapai Rp500 triliun.
"Kondisi ekonomi kita sangat bagus. Pada 3-4 tahun mendatang, investasi yang masuk ke Indonesia bahkan bisa mencapai Rp500-550 triliun," kata Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sekaligus Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan, dalam Rapat Dengar Pendapat dengan komisi VI DPR RI di Jakarta, hari ini.
Gita menjelaskan, untuk mewujudkan investasi sebesar itu, menurut dia, pemerintah harus mengambil sikap terkait kerjasama pemerintah swasta (KPS), sehingga proyek-proyek KPS dapat berjalan sesuai dengan harapan dan kebijaksanaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) harus benar-benar berbeda dengan kawasan ekonomi lainnya.
"Kita harus ambil sikap soal KPS. Jangan sampai hilang kesempatan kita untuk membangun PLTU Umbulan, Kuala Namo, dan proyek-proyek KPS lainnya. KEK juga jangan sampai bablas, harus beda dengan kawasan non KEK. Jangan sampai nanti investor lihat sama saja bohong," tutur dia.
Untuk itu, menurut Gita, saat ini guna menarik investasi, BKPM lebih cenderung melakukan promosi yang tidak berlebihan, dengan tidak memberikan janji-janji. Sehingga investor justru terkejut dan senang karena kepuasan berinvestasi di Indonesia berada diatas ekspektasi mereka.
Menurut Gita, target investasi yang masuk ke Indonesia secara keseluruhan setiap tahunnya mencapai Rp2.000 triliun yang berbentuk pembentukan modal tanpa bruto (PMTB). "Rp2.000 triliun itu untuk pmtb. Komposisinya sekitar 45 persen dari konsumsi," tutur dia.
Untuk investasi yang dilakukan di lembaga keuangan, menurut Gita berkisar 7-8 persen dari total PMTB. Sedangkan investasi yang berasal dari pengeluaran fiskal sebesar pemerintah 13 persen.
Sementara itu, untuk investasi UMKM dan hulu migas yang tidak tercatat di BKPM, mengambil porsi 30-40 persen.
"Sisa untuk PMA dan PMDN yang kemudian tercatat di BKPM adalah 10 persen. kita targetnya untuk PMA dan PMDN memang 10 persen dari PMTB yang saat ini sebesar Rp 2.000 triliun. Ini yang mendorong pertumbuhan ekonomi 6,5 persen," tambah dia.
Kondisi perekonomain Indonesia yang cukup bagus diyakini akan mampu menarik investasi lebih besar pada tahun-tahun mendatang.
Pemerintah bahkan optimis, pada 2015 mendatang, investasi yang masuk ke Indonesia dapat mencapai Rp500 triliun.
"Kondisi ekonomi kita sangat bagus. Pada 3-4 tahun mendatang, investasi yang masuk ke Indonesia bahkan bisa mencapai Rp500-550 triliun," kata Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sekaligus Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan, dalam Rapat Dengar Pendapat dengan komisi VI DPR RI di Jakarta, hari ini.
Gita menjelaskan, untuk mewujudkan investasi sebesar itu, menurut dia, pemerintah harus mengambil sikap terkait kerjasama pemerintah swasta (KPS), sehingga proyek-proyek KPS dapat berjalan sesuai dengan harapan dan kebijaksanaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) harus benar-benar berbeda dengan kawasan ekonomi lainnya.
"Kita harus ambil sikap soal KPS. Jangan sampai hilang kesempatan kita untuk membangun PLTU Umbulan, Kuala Namo, dan proyek-proyek KPS lainnya. KEK juga jangan sampai bablas, harus beda dengan kawasan non KEK. Jangan sampai nanti investor lihat sama saja bohong," tutur dia.
Untuk itu, menurut Gita, saat ini guna menarik investasi, BKPM lebih cenderung melakukan promosi yang tidak berlebihan, dengan tidak memberikan janji-janji. Sehingga investor justru terkejut dan senang karena kepuasan berinvestasi di Indonesia berada diatas ekspektasi mereka.
Menurut Gita, target investasi yang masuk ke Indonesia secara keseluruhan setiap tahunnya mencapai Rp2.000 triliun yang berbentuk pembentukan modal tanpa bruto (PMTB). "Rp2.000 triliun itu untuk pmtb. Komposisinya sekitar 45 persen dari konsumsi," tutur dia.
Untuk investasi yang dilakukan di lembaga keuangan, menurut Gita berkisar 7-8 persen dari total PMTB. Sedangkan investasi yang berasal dari pengeluaran fiskal sebesar pemerintah 13 persen.
Sementara itu, untuk investasi UMKM dan hulu migas yang tidak tercatat di BKPM, mengambil porsi 30-40 persen.
"Sisa untuk PMA dan PMDN yang kemudian tercatat di BKPM adalah 10 persen. kita targetnya untuk PMA dan PMDN memang 10 persen dari PMTB yang saat ini sebesar Rp 2.000 triliun. Ini yang mendorong pertumbuhan ekonomi 6,5 persen," tambah dia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




