Peringati 50 Tahun Tragedi Kemanusiaan 1965, KKPK Gelar Acara Budaya

Jumat, 21 Agustus 2015 | 16:48 WIB
AP
B
Penulis: Asni Ovier Dengen Paluin | Editor: B1
Demo korban 1965
Demo korban 1965 (Antara/Antara)

Jakarta - Dalam rangka memperingati tragedi kemanusiaan 1965 di Indonesia dan kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) masa lalu yang lain, Koalisi untuk Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran (KKPK) menggelar acara budaya. Acara itu digelar untuk menjawab berbagai kebencian yang dilontarkan pada masa lalu dengan nyanyian.

"Di tengah histeria yang menebarkan kebencian di jalanan dan kampung-kampung yang diarahkan pada apa yang disebut sebagai partai-partai terlarang, aliran-aliran sesat, kafir, atau hujatan-hujatan lainnya, malam ini kami ingin menjawab kebencian itu dengan nyanyian," ujar Ketua KKPK, Kamala Chandrakirana, di Jakarta, Jumat (21/8).

Acara budaya bertema "Nyanyian yang Dibungkam" itu digelar di Geothe Haus, Jakarta Pusat, mulai sore hingga malam ini.

"Kami akan menyuguhkan nyanyian-nyanyian yang menyuarakan spirit kemanusiaan yang universal dari bangsa Indonesia. Dalam semangat perayaan 70 tahun kemerdekaan bangsa Indonesia, KKPK bermaksud menegaskan keyakinan bahwa kemanusiaan yang menghargai perbedaan dan menghormati martabat setiap sosok manusia adalah sumber kekuatan bangsa yang mampu mengalahkan politik kebencian," ujar Kamala.

Sekitar 100 orang telah berkumpul dari 17 kota/kabupaten di Indonesia, dari Aceh hingga Papua, untuk merefleksikan perjalanan sebuah gerakan nasional. Forum itu untuk menghentikan impunitas atas pelanggaran-pelanggaran HAM masa lalu serta untuk menyepakati arah gerakan ke depan.

KKPK, ujarnya, adalah sebuah koalisi yang telah berumur tujuh tahun dan terdiri atas 51 organisasi dan 10 individu yang peduli terhadap berbagai persoalan HAM. Koalisi ini dipimpin secara kolektif oleh sejumlah lembaga yang bekerja sama, yaitu Kontras, Elsam, IKOHI, AJAR, Yayasan Pulih, Lembaga Kreativitas Kemanusiaan, dan Pamflet.

Salah satu pengisi acara, yakni Jerinx dari grup musik Superman is Dead, bersama sejumlah anak muda akan mengompilasikan "suara-suara yang hilang" itu dalam sebuah album berjudul Prison Songs: Nyanyian yang Dibungkam.

Anak-anak muda itu berkarya melalui sebuah taman yang luar biasa di sebuah pulau yang istimewa, yaitu Taman 65 Bali.

"Malam ini kita juga akan mendengarkan seorang anak muda, Fajar Merah, yang telah memilih untuk melantunkan suara ayahnya yang hilang diculik pada 1997/98 melalui musikalisasi karya-karya puisi ayahnya, yakni Wiji Thukul," ujar Kamala.

Acara malam ini juga akan dimeriahkan oleh ibu-ibu penyintas yang tergabung dalam Paduan Suara Dialita. Mereka akan menyanyikan empat lagu yang diciptakan oleh tahanan-tahanan politik saat berada dalam penjara.

"KKPK sangat bangga bisa mengumpulkan mereka semua di satu panggung. Ini merupakan sebuah dialog lintas generasi di ruang budaya tentang sebuah momen sejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia. Melalui acara ini kami ingin menegaskan bahwa kebenaran tentang masa lalu kita tidak cukup diungkapkan melalui buku-buku dan laporan-laporan. Kebenaran bisa bersinar terang dan menyentuh hati juga melalui nyanyian. Ini bagian integral dari kekuatan dan kelanggengan gerakan nasional melawan lupa tentang kekerasan masa lalu," ujarnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon