Nilai Saham Januari-21 Agustus Turun 17%

Saatnya Investor Lokal Masuk Pasar (3-Habis)

Senin, 24 Agustus 2015 | 04:31 WIB
HK
HG
FB
Penulis: Harso Kurniawan, Hari Gunarto
Editor: FMB
Ilustrasi IHSG
Ilustrasi IHSG (Investor Daily / David Gitaroza)

Belum Bottom
Analis Asjaya Indosurya Securities William Surya Wijaya menyatakan, IHSG saat ini belum menyentuh titik dasar (bottom) atau berpeluang untuk turun lebih dalam lagi. Sejauh ini, belum ada katalis kuat untuk mengerek indeks, baik dari dalam maupun luar negeri.

Menurut William, peluang indeks melorot ke level 4.000 memang kecil. Namun, ada potensi indeks menuju level 4.200, sehingga pemodal diminta waspada. Selanjutnya, jika indeks mampu bertahan di level itu, indeks kemungkinan besar rebound.

William menilai, penurunan pasar saham terjadi di hampir semua negara. Pelaku pasar kini mencermati langkah konkret pemerintah dan Bank Indonesia (BI) dalam memperbaiki kurs rupiah. Jika sesuai ekspektasi, pasar saham domestik berpeluang menguat.

Dia mengakui, saham LQ45 anjlok tajam. Saat pasar dalam tren bearish, investor cenderung melepas saham-saham unggulan. Apalagi, harga emas belakangan ini menguat, sehingga banyak investor yang mengalihkan portofolio ke komoditas tersebut.
William menyarankan investor mencermati saham ASII dan UNVR saat pasar mulai normal. Saham ASII berpeluang menyentuh kembali level Rp 7.000, sedangkan UNVR Rp 40 ribu.

"Untuk ASII (Astra) memang tantangan saat ini cukup berat, seperti pelemahan rupiah dan penurunan penjualan mobil. Tapi, saham ini masih layak dipertimbangkan, karena prospek ke depan masih bagus," kata dia.

Dia juga menyarankan pemodal membidik saham-saham perbankan yang selama ini menjadi market mover. Mereka adalah BBNI, BBCA, BMRI, dan BBRI, dengan target harga masing-masing Rp 6.000, Rp 14.000, Rp 12.000, dan Rp 13.000. "Saya menganggap saham perbankan adalah urat nadi pasar modal. Jika indeks naik, saham bank juga bakal naik," papar dia.

Dihubungi terpisah, analis Investa Saran Mandiri Hans Kwee memprediksi, bottom IHSG berada di sekitar 4.100. Jika level itu tertembus, indeks berpeluang jebol ke level 3.830.

Hans menyarankan investor dan trader masuk pasar saat indeks sudah stabil. Saham pilihan Hans adalah BBRI, BMRI, PTPP, WIKA, dan SMGR.

Pandangan berbeda diungkapkan Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang, yang menyebut PER IHSG saat ini masih terbilang mahal. MNC Securities memproyeksikan IHSG masih berpotensi turun ke level 4.005.

Edwin merekomendasikan investor mengoleksi sejumlah saham, antara lain saham konstruksi WIKA, PTPP, ADHI, dan TOTL, saham perbankan BBCA, BMRI, dan BBRI. Untuk saham konsumsi, dia menyarankan ICPP dan UNVR, infrastruktur ASII dan TLKM, saham properti KPIG, LPCK, LPKR, serta saham ritel MPPA dan LPPF.

Sementara itu, Ciptadana Securities masih mempertahankan target IHSG tahun ini sebesar 5.270. Broker saham lokal ini meyakini indeks bakal membaik memasuki kuartal IV karena beberapa alasan. Pertama, capital outflow diperkirakan berkurang drastis setelah mencapai puncaknya pada kuartal II dan III. Kedua, pelaku pasar akan tertarik memborong saham-saham unggulan, karena valuasinya sudah terdiskon besar.

Dalam jangka pendek, Ciptadana memperkirakan pasar saham domestik masih volatile. Penyebab utamanya adalah langkah Pemerintah Tiongkok mendepresiasi yuan dan ketidakpastian kenaikan Fed funds rate (FFR). Faktor ini lebih berperan dibandingkan isu domestik.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon