Asap Dongkrak Penjualan Masker, Tapi Pendapatan Taksi Anjlok

Minggu, 6 September 2015 | 22:51 WIB
B
B
Penulis: BeritaSatu | Editor: B1
Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan gambut
Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan gambut (Antara/Rony Muharrman)

Palangka Raya - Pedagang kaki lima yang menawarkan masker di pinggir jalan semakin bermunculan di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, seiring makin pekatnya kabut asap kebakaran lahan dan hutan.

Dari pantauan di Palangka Raya, para pedagang masker dadakan yang memanfaatkan pekatnya kabut asap makin 'menjamur' di ruas jalan seperti Jalan Tjilik Riwut, RTA Milono, A Yani, Diponegoro, G Obos, Temanggung Tilung, Yos Sudarso dan Jalan Rajawali.

Salah seorang penjual masker di Jalan Tjilik Riwut, Ardianto (35) mengatakan dirinya mulai menjual masker sejak dua pekan terakhir.
"Sejak dua minggu lalu saya jual masker. Saat ini kabut asap semakin tebal dan sejak saya jualan langsung ramai pembeli," katanya.

Pria yang mengaku selalu menjadi penjual masker dadakan setiap kemarau itu menerangkan, masker yang dijualnya mulai Rp 3.000 hingga Rp30.000 tergantung motif, gambar, dan bahan yang digunakan.

Tak jauh berbeda, Misnah, pedagang yang menjajakan masker di ruas Jalan G Obos juga mengaku barang dagangannya laku keras Sejak sekitar dua pekan lalu ketika kabut asap semakin pekat. Masyarakat cenderung membeli masker yang bisa dipakai berkali-kali.

Taksi Sepi

Berbeda dengan penjualan masker, sejumlah pengemudi taksi di Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru mengeluhkan turunnya jumlah penumpang sehigga pendapatan anjlok 70 persen dalam sepekan terakhir.

"Biasanya dalam satu hari kita dapat jatah hingga enam trip dari bandara, sekarang dua hingga tiga trip saja," kata salah seorang pengemudi taksi Puskopau Zulkifli (54) di Pekanbaru, Sabtu (5/9).
Dikatakan, sepinya penumpang sudah mulai terasa sejak Rabu lalu (2/9) dan keadaan terus memburuk pada dua hari berikutnya yakni Kamis dan Jumat.

"Kamis dan Jumat itu Bandara nyaris lumpuh total, tidak ada pesawat yang "landing". Jadinya penumpang kita hanya yang batal terbang saja," ujarnya kepada Antara.

Zulkifli menjelaskan dalam keadaan normal dirinya bisa mengantongi hingga Rp 700.000 per hari, akan tetapi dengan kabut asap yang nyaris melumpuhkan bandara sejak awal pekan tersebut membuat pendapatannya turun 70 persen.

Hal yang sama disampaikan pengemudi taksi lainnya, Zuhdi. Ia mengatakan pada hari normal terdapat sekitar 150 taksi Puskopau yang bergiliran melayani rute Bandara ke sejumlah tujuan.

Aktivitas Bandara SSK II Pekanbaru mulai terganggu kabut asap sejak Rabu lalu (2/9). Keadaan terus memburuk dimana pada Kamis (3/9) Bandara SSK II lumpuh selama 10 jam. Pada Jumat (4/9) sebanyak 52 penerbangan dibatalkan.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon