Kapolres Jakut Bantah Korban Pedofil Tukang Ojek Lebih dari 10 Orang

Rabu, 9 September 2015 | 16:02 WIB
CF
JS
Penulis: Carlos Roy Fajarta | Editor: JAS
Kapolres Metro Jakarta Utara, Kombes Pol Susetio Cahyadi, memberikan pernyataan kepada SP terkait perkembangan kasus pedofilia tukang ojek yang merangkap sebagai marbot yang mencabuli 10 bocah dibawah umur di Markas Polres Metro Jakarta Utara, 9 September 2015.
Kapolres Metro Jakarta Utara, Kombes Pol Susetio Cahyadi, memberikan pernyataan kepada SP terkait perkembangan kasus pedofilia tukang ojek yang merangkap sebagai marbot yang mencabuli 10 bocah dibawah umur di Markas Polres Metro Jakarta Utara, 9 September 2015. (Suara Pembaruan/Carlos Roy Fajarta)

Jakarta - Kepala Kepolisian Resort (Polres) Metropolitan ‎Jakarta Utara, Komisaris Besar (Kombes) Pol Susetio Cahyadi, membantah bahwa jumlah anak di bawah umur yang menjadi korban kasus pelecehan lebih dari 10 orang seperti yang diungkapkan oleh warga sekitar.

‎Pelaku pedofil, Syanwani (45) atau yang lebih akrab dipanggil Iwan (sebelumnya diberi inisial IS), warga Jalan Pejuangan IV, RT04/RW04, Kelurahan Kelapa Gading Timur, Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara, yang bertugas membersihkan Musala Al-Barakah (Marbot)‎ sebelumnya dikabarkan sudah melakukan pelecehan kepada 18 orang anak hingga 30 orang anak di bawah umur.

Pasalnya hingga Rabu (9/9), baru 10 anak yang sudah diperiksa oleh Satuan Reserke Kriminal (Satreskrim) Unit Pelayanan Perempuan dan Anak ‎(PPA) Polres Metro Jakarta Utara, dan belum ada indikasi anak di bawah umur lainnya yang menjadi korban Syanwani (45) alias Iwan alias IS.

"Kita bekerja itukan sesuai protap dan aturan yang ada, dan hingga hari ini dari hasil penyidikan dan pemeriksaan, baru ada 10 anak yang sudah di BAP (Berita Acara Pemeriksaan)," ujar Susetio, Rabu (9/9) pagi kepada Suara Pembaruan usai memimpin apel pagi para perwira di halaman parkir Markas Polres Metro Jakarta Utara.

Susetio dengan tegas membantah rumor di kalangan masyarakat dan yang ditulis oleh beberapa media yang menyatakan ‎bahwa korban mencapai 30 anak atau bahkan lebih.

"Kami tidak bisa mengungkap ke media itu berdasarkan katanya ini atau katanya dia, semua harus berdasarkan alat bukti yang ada, yakni laporan dari orang tua yang anaknya dilecehkan serta keterangan dari anak itu juga, jadi tidak bisa berdasarkan praduga atau prasangka," lanjutnya.

Lebih lanjut, Susetio menyatakan saat ini instansinya terus bekerja sama dengan‎ Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak ‎(P2TP2A) Kota Jakarta‎ yang bernaung di bawah Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI serta Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

"KPAI dan P2TP2A sudah bekerja sama dengan kami untuk beberapa waktu terakhir ini, selain itu baju dan pakaian dalam dari korban serta tersangka juga sudah kita kumpulkan semua untuk diperiksa lebih detail di Puslabfor Mabes Polri," tambah Susetio.

Kerja sama dengan KPAI dan P2TP2A menurut Susetio menjadi penting, pasalnya IS (pelaku), dahulunya juga merupakan korban sodomi oleh seseorang sehingga melampiaskan hal yang sama saat ia sudah dewasa saat ini.

‎"Hingga hari ini sampai kemarin malam, anggota saya sudah menggali lebih jauh lagi tentang kemungkinan bertambahnya jumlah korban, namun belum ada yang melapor lebih lanjut, dan akan terus kita dalami kemungkinan itu. Namun yang pasti hingga saat ini baru 10 anak yang terbukti menjadi korban pelecehan pelaku," jelasnya.

Lebih lanjut, mantan Kepala Biro Sumber Daya Manusia Polda Kepulauan Riau ‎itu mengungkapkan pihaknya masih terus meminta agar keluarga yang menjadi korban pelecehan IS untuk segera melapor ke polisi agar kasus serupa tidak terulang.

"Sekarang inikan banyak keluarga korban yang merasa malu dan tidak mau melapor, sedangkan polisi tidak bisa membuat penyelidikan apabila keluarga korban tidak membuat laporan ke Polisi," ucap Susetio.

Sedangkan terkait adanya barang bukti berupa video rekaman tindakan asusila‎ yang dilakukan oleh IS, Susetio mengaku belum menemukan keberadaan rekaman itu dan masih akan terus didalami apabila memang itu terbukti.

"Hari Senin nanti ‎kita akan buat pertemuan antaran orang tua korban dengan perwakilan dari tokoh masyarakat dan tokoh agama se-Jakarta Utara untuk sosisalisasi bahaya tentang pelecehan seksual di lingungan masing-masing‎," tutupnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon