Penculik WNI di Papua Punya Senjata, Warga Skropo Cemas
Sabtu, 19 September 2015 | 09:16 WIB
Jayapura - Warga Kampung Skopro, Distrik Arso Timur Kabupaten Keerom, perbatasan RI - Papua Nugini (PNG), yang berada sekitar 2 kilometer (km) dari tempat kejadian perkara (TKP) penculikan dua warga negara Indonesia (WNI), Rabu (9/9) lalu tak mau melakukan aktivitas. Mereka menunggu hingga sandera dibebaskan untuk bisa melakukan aktivitas kembali.
"Sampai sekarang, warga sendiri hanya tahu yang ada yang disandera, sementara pemimpin kelompok penyandera sama sekali tidak kenal. Kelompok penyandera bukan OPM (Organisasi Papua Merdeka), yang selama ini mereka kenal, baik pimpinan anggotanya," ujar warga yang tak mau menyebut namanya, Jayapura, Sabtu (19/9) pagi.
Warga cemas, para penculik yang memiliki senjata ini akan melakukan hal yang sama kepada mereka.
Sebelumnya diberitakan, dua WNI, Badar (29) dan Ladiri alias Dirman (30) diculik pasukan bersenjata.
Hal ini diungkapkan pula oleh Atase Pertahanan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Port Moresby, Papua Nugini (PNG), Kolonel Roni Pasaribu, usai penyerahan dua WNI di perbatasan RI - PNG di Skow-Wutung. Jumat (18/9) sore. Menurutnya, kelompok penculik merupakan kelompok bersenjata yang bergerilya di hutan-hutan PNG.
Roni juga mengungkapkan, pelaku penculikan lebih dari 10 orang dan dalam penculikan tersebut, kelompok selalu berpindah tempat dari lokasi satu ke lokasi lainnya dan selalu bergantian menjaga dua WNI. Kelompok pelaku selalu bergerilya di Gunung Victoria, Skowtiau, Distrik Bewani, Sandaun Province.
"Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah dan tentara PNG dalam upaya pelepasan penculikan ini. Secara keseluruhan, upaya negosiasi kepada pihak penculik dilakukan oleh pemerintah dengan melibatkan Army PNG, yang berkekuatan lebih dari 100 orang. Sementara pihak pemerintah Indonesia terus melakukan koordinasi Konsulat RI di Vanimo," ujarnya.
Kapolda Papua, Irjen Pol Paulus Waterpauw mengatakan, dalam negosiasi dengan kelompok tersebut ataupun dengan masyarakat di Skowtiau, pemerintah Indonesia mengerahkan ena orang dari kampung yang berbatasan langsung dari Skowtiau. Keenam orang itu adalah Ondoafi atau kepala suku, lalu ada juga kepala kampung dan tiga pemuda.
Fungsi keenam orang tersebut adalah melakukan negosiasi dengan masyarakat di kampung yang berbatasan langsung dengan Skowtiau. Namun keenam orang tersebut mengaku diintimidasi dan diancam oleh kelompok penculik.
"Mereka tak sempat bertemu dengan para penculik dan proses negosiasi dari 6 orang tersebut dimaksudkan sebagai upaya negosiasi ke pelaku penculikan. Keenam dari tokoh masyarakat dan pemuda ini beberapa kali mendekati kelompok penculik dan berupaya juga ikut melakukan negosiasi, baik kepada masyarakat sekitar dan kelompok tersebut. Intinya, tugas ke-6 tokoh masyarakat adalah mencari bukti kuat dan benar terkait dua WNI apa benar di culik kelompok tersebut atau tidak,"kata Kapolda.
Polisi mengaku belum mengetahui kelompok penculik dua WNI tersebut.
"Saya telah memerintahkan kepada Kapolres Keerom untuk meminta keterangan sejumlah saksi dari masyarakat setempat untuk melengkapi penyelidikan," ujarnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




