Konsorsium Wika Kaji Pinjaman Rp 25 Triliun
Senin, 28 September 2015 | 01:44 WIB
Jakarta – Konsorsium PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) mengkaji pinjaman bank sekitar Rp 25 triliun untuk membiayai proyek pembangkit listrik (power plant) di Banten. Pinjaman tersebut sekitar 70 persen dari total investasi yang mencapai Rp 35 triliun. Selain pinjaman, konsorsium Wika menyiapkan ekuitas sebesar Rp 10 triliun atau 30 persen untuk membiayai megaproyek tersebut.
Wika akan menggandeng perusahaan asal Tiongkok, yaitu China Nuclear Engineering Group Corporation Ltd (CNEC). BUMN ini membidik kepemilikan sebesar 15 persen. Selain CNEC, perusahaan pelat merah tersebut juga bakal mengajak perusahaan lokal, yakni PT Sumber Segara Primadaya.
"Perseroan memang baru mengikuti tender untuk proyek power plant ini. Memang ada kemungkinan jika menang, kami akan menggunakan pinjaman bank untuk mendanai proyek ini," kata Sekretaris Perusahaan Wika Suradi kepada Investor Daily di Jakarta, baru-baru ini.
Menurut Suradi, perseroan bisa saja menggunakan pinjaman dari bank asing, seperti China Development Bank (CDB) dengan bank lokal pelat merah sebagai fasilitator pinjaman tersebut. Sebagai informasi, perseroan berencana menggunakan pinjaman dari CDB untuk membiayai proyek kereta berkecepatan menengah (medium speed railway) Jakarta-Bandung.
Adapun proyek power plant yang dibidik Wika adalah pengembangan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Jawa 5 dan Jawa 7 di Banten, yang masing-masing akan memiliki kapasitas 2x1.000 megawatt (MW). Tender yang diikuti Wika adalah bagian dari proyek pemerintah untuk menambah suplai listrik hingga 35.000 MW, yang ditargetkan tercapai dalam waktu lima tahun. Menurut Suradi, untuk setiap megawatt dalam proyek power plant ini, nilai investasinya sekitar US$ 1,5 juta. "Nilai proyeknya sekitar Rp 35 triliun. Untuk pemenang tender akan diumumkan Oktober mendatang," jelas dia.
Sebelumnya, Wika melalui anak usahanya, PT Wijaya Karya Bitumen, juga membentuk perusahaan patungan (joint venture/JV) dengan PT Pertamina dalam rangka ekspansi pabrik pengolahan aspal di Lawele, Buton, Sulawesi Tenggara, tahun depan. Nilai investasinya sekitar US$ 100 juta.
Presiden Direktur Wika Bitumen Arifin Fahmi mengatakan, perseroan bersama Pertamina menargetkan feasibility study pabrik aspal hibrida ini rampung pada akhir 2015. Dengan demikian, pembangunan pabrik yang berdiri di atas lahan seluas 32,5 hektare itu bisa dimulai awal 2016 dan beroperasi pada 2017. "Porsi dari JV ini masih dikaji. Namun Pertamina dipastikan akan jadi mayoritas. Output dari pabrik ini untuk kebutuhan aspal domestik," jelas dia, beberapa waktu lalu.
Arifin mengatakan, kerja sama sinergi antara BUMN ini akan saling mengutungkan mengingat, selama ini Pertamina telah berpengalaman memproduksi aspal sebanyak 300.000 ton per tahun. Di sisi lain, Wika Bitumen memiliki konsesi tambang aspal di Lawele seluas 400 ha.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Prakiraan Cuaca Jakarta Hari Ini Jumat 15 Mei 2026




