Kernet Bus Selamat Berlindung di Kolong Jok

Sabtu, 11 Februari 2012 | 17:11 WIB
AS
B
Penulis: Antara/ Didit Sidarta | Editor: B1
Korban kecelakaan maut bus Karunia Bhakti di Cipanas, Jumat (10/2) tengah menjalani perawatan.
Korban kecelakaan maut bus Karunia Bhakti di Cipanas, Jumat (10/2) tengah menjalani perawatan. (Antara)
Setelah bus terhenti dengan posisi berada dibawah jalan, Rohman, juga kondektur dan supir langsung melarikan diri ke rumahnya di Garut untuk menyelamatkan diri karena khawatir menjadi amukan massa.

Kernet Bus, Rohman (33), ternyata selamat dari peristiwa maut tabrakan bus Karunia Bakti di Puncak Cisarua, Bogor, Jawa Barat, Jumat (10/2), karena bersembunyi di kolong jok sebelum bus masuk jurang.

"Saya melihat gak bakalan selamat, makanya saya bersembunyi," kata Rohman, di ruangan bagian unit Laka, Satlantas, Polres Garut, Jawa Barat, hari ini.

Rohman warga Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, sebelum kejadian berdampingan dengan supir, Lukman (40), dan kondektur bus, Dedi, yang selamat dari peristiwa tabrakan tersebut.

Setelah bus terhenti dengan posisi berada dibawah jalan, Rohman, juga kondektur dan supir langsung melarikan diri ke rumahnya di Garut untuk menyelamatkan diri karena khawatir menjadi amukan massa.

Sebelum peristiwa tabrakan bus tersebut, kata Rohman, bus dinyatakan layak jalan sejak pemberangkatan awal di terminal Garut.

Selama perjalanan hingga Kabupaten Cianjur, kata Rohman, tidak ada hambatan karena situasi jalan tidak terlalu menurun serta kondisi bus dalam keadaan baik.

Namun setibanya di kawasan Taman Safari, Bogor, supir bus sempat merasa tidak nyaman dengan kondisi rem bus yang macet tidak berfungsi optimal.

Bahkan bagian bus kanan sempat tercium bau, sehingga sebelum di lokasi kejadian, ketika salah seorang penumpang turun, kondisi rem bus diperiksa lagi.

Setelah dipastikan aman, kata Rohman, bus kemudian melaju kembali ke arah Jakarta, namun ketika melewati puncak Bogor dengan kondisi jalan menurun, rem ternyata tidak berfungsi.

"Supir bilang, ini rem gak ada," kata Rohman yang menyerahkan diri ke Polres Garut, dan akan dikirim ke Polres Bogor.

Kondisi jalan yang menurun tersebut, kata Rohman, menyebabkan laju bus semakin cepat.

Yakin bus tidak bisa dikendalikan lagi, Rohman langsung menyelamatkan diri dibawah jok kursi kedua bagian depan.

Dalam posisi menyelamatkan diri tersebut, Rohman, mengaku hanya mendengar suara benturan keras tabrakan antara bus dengan beberapa mobil didepan serta suara pecah kaca.

"Saya tetap didalam tapi berlindung dibawah bangku, saya tidak nengok kemana-mana, tahu-tahu bus sudah dibawah, Terasa suara pecah kaca, benturan-benturan, tapi tidak melihat," kata Rohman.

Sesaat setelah peristiwa itu tersebut, Rohman langsung berusaha keluar dari bus dan meninggalkan kawasan lokasi kejadian tabrakan dan pergi ke Garut.

Selain Rohman, kondektur Dedi, warga Kecamatan Kadungora dan supir bus Lukman, warga Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, juga melarikan diri.

Langsung ke Polres Garut
Setibanya di Garut, Lukman menyerahkan diri ke bagian Laka Lantas Polres Garut dan dibawa langsung oleh anggota Polres Bogor, Sabtu pagi.

Kemudian disusul Rohman menyerahkan diri ke Polres Garut.

Sementara Dedi belum diamankan polisi, karena mengalami sakit sesak akibat terkena benturan keras bagian dada dan masih menjalani perawatan medis di Puskesmas Leles, Garut.

"Tapi dia (kondektur) berjanji kalau sudah sehat, tidak harus dijemput akan datang sendiri ke Polres Bogor untuk memberikan keterangan," kata Kanit Laka, Polres Garut, Iptu Sofyan Efendi.

Kecelakaan bus Karunia Bhakti nopol Z1795DA jurusan Garut-Jakarta itu karena rem blong di Jalan Raya turunan Puncak.

Bus berpenumpang lebih dari 30 orang tersebut diketahui warga melaju kencang dari arah Puncak menuju Jakarta.

Lalu menghantam sejumlah kendaraan yang ada di depannya.

Selain menabrak sejumlah kendaraan, bus juga menabrak beberapa warung yang ada di sebelah kantor cabang Bank Mandiri.
 
Hingga kini tercatat paling kurang 14  jiwa meninggal dunia yang antara lain  Lily, Hasan Ansori, Dudu Supar, Tiyar, Dadang Suherlan, Ita, Solahuddin, Iin Solihin, Dede, Apit, Nurul Iman. Sedangkan tiga korban tewas lainnya belum teridentifikasi

Selebihnya, 48 orang mengalami luka ringan dan berat yang dirawat intensif di ruang UGD RS Paru Cisarua.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon