Encek, Si Pembunuh Ayah Kandung Dikenal Alami Gangguan Jiawa

Minggu, 11 Oktober 2015 | 16:58 WIB
CF
IC
Penulis: Carlos Roy Fajarta | Editor: CAH
Sejumlah warga sekitar masih mengerumuni rumah almarhum Contreng yang dibunuh oleh anak sulungnya sendiri yang mengalami gangguan kejiwaan di Gang Lapangan Kobra, Jalan Perjuangan, Kampung Tanah Merah, RT04/RW11, Kelurahan Rawa Badak Selatan, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, 11 Oktober 2015
Sejumlah warga sekitar masih mengerumuni rumah almarhum Contreng yang dibunuh oleh anak sulungnya sendiri yang mengalami gangguan kejiwaan di Gang Lapangan Kobra, Jalan Perjuangan, Kampung Tanah Merah, RT04/RW11, Kelurahan Rawa Badak Selatan, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, 11 Oktober 2015 (Suara Pembaruan / Carlos Barus)

Jakarta - Aksi pembunuhan sadis yang dilakukan oleh Sumitra alias Encek (37) terhadap Hasanudin (70) alias Contreng, ayah kandungnya sendiri, pada Sabtu (10/10) lalu hampir dipastikan disebabkan gangguan kejiwaan yang diderita pelaku.

Masyarakat sekitar yang bertempat tinggal dengan kediaman pelaku di Jalan Perjuangan, Gang Lapangan Kobra Nomor 42, Kampung Tanah Merah, RT04/RW11, Kelurahan Rawa Badak Selatan, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, mengenalnya sebagai sosok yang suka kumat (ngamuk) dan tidak nyambung saat diajak berkomunikasi.

‎Dirso (45), warga RT01/RW09, Kelurahan Rawa Badak Selatan, yang sudah mengenal korban dan keluarganya (termasuk pelaku) sejak tahun 2004 lalu, ‎mengakui bahwa Encek memang suka mengamuk saat permintaan uang kepada kedua orang tuanya tidak dituruti.

"Pokoknya semenjak ditinggal kawin sama pacarnya beberapa tahun lalu, memang Encek jadi rada-rada gila, soalnya memang dulu saat keluarga Encek mau melamar pacarnya, ternyata si pacarnya itu malah naik pelaminan sama cowok lain. Setelah itu si Encek jadi gila dan berhenti dari pekerjaannya sebagai mekanik," ujar Dirso, Minggu (11/10) siang di depan rumah korban.

Menurut Dirso, sejak pernikahannya batal, Encek mengalami shok hebat dan bersikap layaknya anak kecil yang mudah tersinggung dan bergantung pada ayah dan ibunya untuk menafkahi pria lulusan Sekolah ‎Teknik Mesin (STM).

"Dia biasa minta uang Rp 5 ribu buat ngopi dan beli dua batang rokok, cuman ya dalam sehari bisa beberapa kali dia minta ke orang tuanya. Kadang kalau orang tuanya gak ngasih, dia langsung ngamuk," lanjut Dirso.

‎Bahkan orang tua Encek sampai harus menjual rumah sebelumnya di Jalan Mandiri, tidak jauh dari rumah kontrakan yang dihuni oleh orang tua Encek saat ini. Itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dan menuruti permintaan dari Encek dan anak-anak mereka lain yang belum bekerja.

Contreng yang dikenal sebagai pemulung barang bekas seperti kayu, palet, besi dan tembaga tua, serta palet itu diketahui sebelumnya adalah Pekerja Harian Lepas (PHL) Suku Dinas Kebersihan Jakarta Utara.‎ Ia masih harus menafkahi istri dan tiga dari delapan orang anaknya.

‎"Kadang kalau sudah meributkan soal uang, ya Encek memang suka ribut sama adik-adiknya, bahkan minggu lalu, ibunya (Darmini) sendiri sempat akan dipukul menggunakan balok karena tidak terima uang rokok pelaku digunakan untuk memasak makanan," kata Dirso.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Narji (45), warga RT04/RW11, Kelurahan Rawa Badak Selatan terhadap perilaku Encek yang memiliki kelainan setelah gagal kawin dengan wanita idamannya.

"Dia suka kumat, dan kalau lagi kumat ya biasanya dia suka main pedang-pedangan kayu sama anak-anak kecil di lapangan kobra, katanya dia itu keturunan Bruce Lee, setelah itu dia berlari-lari kecil sembari tertawa girang," kata Narji.

Namun demikian saat sedang tidak kumat, pelaku dikenal sangat lihai dan jago saat bermain catur dengan warga lain disebuah pos keamanan tak jauh dari Lapangan Kobra (dekat sekolah). Menurut Narji, seluruh anggota keluarga Contreng saat ini masih berada di Cimalaya (Karawang) untuk menguburkan korban dan meninggalkan rumah kontrakannya dalam kondisi kosong serta masih dibatasi dengan garis polisi.

Keanehan pada diri Encek (pelaku pembunuhan), juga diungkapkan oleh Abi Mudasir (43), marbot Masjid Al-Hikmah yang sering melihat pelaku datang ke Masjid.

"Dia datang ambil air wudhu layaknya jemaah lain yang akan melaksanakan salat lima waktu, tapi setelah mengam‎bil wudhu, dia bukannya shalat justru malahan tidur disalah satu sudut ruang Masjid," kata Mudasir.

Menurutnya, pelaku memang dikenal memiliki keterbelakangan mental, pasalnya saat ditanyai sesuatu oleh Mudasir, Encek justru malah menjawab hal yang lain‎.

"Suka gak nyambung ngomong sama dia, kita nanya apa, dia jawabnya apa, dan memang dia sering banget datang ke Masjid untuk tidur, datang jam 9 pagi barulah pada sekitar jam 4 sore dia kembali ke rumah," lanjut Mudasir.

Sebelumnya,‎ warga sekitar Lapangan Kobra pada Sabtu (10/10) Pukul 15.30 WIB digemparkan dengan pembunuhan yang dilakukan oleh Sumitra alias Encek (37) terhadap ayah kandungnya sendiri, Hasanudin (70) alias Contreng.

Nining (22) anak bungsu ‎Contreng adalah yang pertama kali menemukan jenazah ayahnya bersimbah darah di kamar depan (lantai bawah) saat baru pulang bekerja dan tiba di rumah pada Pukul 15.00 WIB. Saat itu ia langsung berteriak dan membangunkan ibu dan dua orang kakaknya yang sedang tidur siang di lantai dua rumah tersebut, serta seorang kakaknya yang tidur di ruang kamar paling belakang di lantai satu rumah dari kayu itu.

Sekujur tubuh Contreng dipenuhi aliran darah yang masih mengalir deras dari bagian leher korban yang disayat dengan pisau dapur oleh pelaku.

Encek baru diamankan oleh polisi di Masjid Al-Hikmah satu jam setelah mayat ayahnya ditemukan oleh Nining. Pria yang mengalami depresi dan gangguan mental itu ‎sedang tidur-tiduran di Masjid, dan saat itu darinya didapati sebuah pisau dapur serta noda darah pada kaus dan sendal yang ia kenakan.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon