Bukit Asam Bertumbuh di Atas Ekspektasi
Jumat, 23 Oktober 2015 | 04:35 WIB
Jakarta - Keberhasilan PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) menekan biaya produksi bersamaan dengan peningkatan volume penjualan batubara menjadi faktor utama penyebab realisasi laba bersih melampaui ekspektasi analis. Perolehan laba senilai Rp 1,5 triliun hingga September 2015 sudah di atas perkiraan Danareksa Sekuritas.
"Perolehan tersebut sudah merefleksikan 97 persen dari total target laba bersih perseroan tahun ini berdasarkan estimasi yang kami susun. Hingga akhir 2015, laba bersih perseroan diharapkan mencapai Rp 1,56 triliun," tulis analis Danareksa Sekuritas Stefanus Darmagiri dalam risetnya, baru-baru ini.
Hingga kuartal III-2015, Bukit Asam mencetak peningkatan penjualan dari Rp 9,65 triliun menjadi Rp 10,5 triliun. Laba kotor turun dari Rp 3,06 triliun menjadi Rp 2,96 triliun. Sedangkan laba bersih turun tipis dari Rp 1,58 triliun menjadi Rp 1,51 triliun. Meski turun, perseroan berhasil mendongkrak laba bersih kuartal III-2015 sebesar 56 persen menjadi Rp 710 miliar, dibandingkan kuartal II-2015.
Perseroan mencetak peningkatan pendapatan dari Rp 9,65 triliun menjadi Rp 10,5 triliun hingga September 2015 atau merefleksikan 77 persen dari estimasi pendapatan Bukit Asam tahun ini sesuai perkirakaan Danareksa Sekuritas. Peningkatan penjualan itu didukung atas pertumbuhan volume penjualan dari 13,2 juta ton menjadi 14,3 juta ton sampai September 2015.
Danareksa Sekuritas menyebutkan, pesatnya pertumbuhan laba bersih tersebut ditopang atas berjalannya efisiensi biaya perseroan dengan penurunan rasio nisbah pengupasan tanah menjadi 4,1 kali pada kuartal III-2015, dibandingkan dengan kuartal II-2015 sekitar 4,5 kali, penurunan biaya kontrak pertambangan batubara, dan pengangkutan batubara. Hal ini membuat margin keuntungan perseroan melonjak.
Bukit Asam sepanjang kuartal III-2015. Sejumlah efisiensi yang diterapkan adalah menurunkan rasio nisbah pengupasan batubara (stripping ratio) dari tanah dan penurunan royalti batubara sekitar 11 persen menjadi Rp 563,01 miliar. Stripping ratio turun dari 4,5 kali menjadi 4,1 kali. Sedangkan perkiraan hingga akhir tahun sebesar 4,6 kali.
Terkait volume penjualan batubara, dia menjelaskan, Bukit Asam ditargetkan menjual sebanyak 19,9 juta ton batubara tahun ini atau naik sekitar 10,6 persen dari perolehan tahun lalu. Peningkatan penjualan batubara akan ditopang atas rampungnya perluasan pelabuhan Tarahan, rampungnya trek ganda kereta api batubara Prabumulih menuju Tanjung Enim, dan kehadiran lokomotif dan kereta baru sejak tahun lalu.
"Kami memperkirakan volume produksi batubara perseroan cenderung bertumbuh ke depan, seiring rampugnnya perluasan pelabuhan Tarahan di Lampung dan dimulainya komersial pembangkit listrik mulut tambang Banjarsari. Hal ini diharapkan mempertahankan peningkatan kinerja keuangan ke depan," jelas Stefanus.
Berbagai faktor tersebut mendorong Danareksa Sekuritas untuk mempertahakan rekomendasi beli saham PTBA dengan target harga Rp 8.400. Target harga ini mengasumsikan perkiraan peningkatan PE tahun 2015 dan 2016 masing-masing menjadi sekitar 11,7 kali dan 10,9 kali.
Target harga itu juga merefleksikan potensi kenaikan pendapatan prrseroan dari Rp 13,07 triliun menjadi Rp 13,66 triliun. Laba bersih diharapkan meningkat dari Rp 2,01 triliun menjadi Rp 1,56 triliun.
Mampu Bertumbuh
Sementara itu, analis Sinarmas Sekuritas James Wahjudi mengungkapkan, Bukit Asam berpeluang mencetak kenaikan pendapatan sebesar 10 persen menjadi Rp 14,3 triliun tahun ini, dibandingkan tahun lalu Rp 13 triliun. Kenaikan pendapatan ditopang pertumbuhan pendapatan ekspor bersamaan dengan depresiasi rupiah terhadap dolar AS.
Menurut dia, Bukit Asam tergolong kebal terhadap perlambatan ekonomi, terutama penurunan permintaan batubara dari pasar Tionkok. Persroan juga menguasai pangsa pasar penjualan batubara dalam negeri. "Kuatnya pasar perseroan bisa mempertahankan kenaikan pendapatan hingga akhir tahun ini," tulis James dalam risetnya.
Perseroan mencatatkan penjualan ekspor sebanyak 4,41 juta ton atau meningkat 20 persen sepanjang semester I-2015, dibandingkan periode sama tahun lalu sekitar 3,66 juta ton. Penjualan ekspor berkontribusi sekitar 49 persen dan sisanya domestik. Tujuan ekspor terbesar ke Taiwan dengan kontribusi sekitar 27 persen terhadap total penjualan. Sisanya ekspor ke Malaysia, Jepang, India dan beberapa negara lain.
James melanjutkan, perseroan juga diuntungkan dengan infrastruktur yang bagus, apalagi setelah berhasil menaikkan kapasitas muat terminal batubara Tarahan di Lampung. Terminal tersebut mampu mengakomodasi kapal Bulk Cargo dengan kapasitas mencapai 210 ribu DWT. Hal ini memungkinan perseroan untuk menaikkan penjualan ekspor. Terminal ini berkontribusi sekitar 80 persen terhadap total penjualan.
Berbagai faktor tersebut mendorong Sinarmas Sekuritas merekomendasikan hold saham PTBA dengan target harga dinaikkan menjadi Rp 7.600 untuk 12 bulan ke depan.
Saat ini, Bukit Asam sedang memfokuskan pengembangan usaha di sektor energi. Pembangunan tiga pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) sudah dirampungkan, yaitu PLTU Tanjung Enim 3x10 megawatt (MW), PLTU Pelabuhan Tarahan 2x8 MW dan PLTU Banjarsari 2x110 MW. Perseroan juga telah menyiapkan lahan untuk pembangunan konstruksi PLTU Banko Tengah 2x620 MW (Sumsel 8) yang dijadwalkan selesai pada 2019.
Selain diversifikasi usaha, pembangunan PLTU tersebut bakal berdampak positif terhadap peningkatan serapan batubara perseroan hingga tujuh juta ton. Peningkatan permintaan sangat dibutuhkan setelah perseroan berhasil meningkatan daya angkut batubara dalam beberapa tahun terakhir.
Tips PTBA
Danarkesa Sekuritas
Rekomendasi : Buy
Target harga : Rp 8.400
Sinarmas Sekuritas
Rekomendasi : Hold
Target harga : Rp 7.600
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




