Konflik Bangsa Karena Kesejahteraan Tak Merata
Rabu, 15 Februari 2012 | 00:07 WIB
Terdapat kemiskinan, ketertinggalan dalam pendidikan karena kesenjangan kesejahteraan lahir batin
Konflik yang terus terjadi akhir ini sebenarnya berakar pada ketidakmerataan kesejahteraan baik lahir dan batin di masyarakat. Ada segelintir orang dan kelompok yang lebih sejahtera ketimbang lainnya sementara sisanya masih menderita. Padahal dulu sama-sama dijajah Belanda.
Demikian benang merah seminar "Satu Bangsa, Satu Perdamaian dan Satu Kesejahteraan” di Pendapa Agung Keraton Sumenep, Madura, Selasa (14/2/2012). Seminar diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Sumenep bekerjasama dengan BP Migas dan Gerakan Ekayastra Unmada (semangat satu bangsa).
Hadir sebagai pembicara dalam seminar tersebut, Bupati Sumenep A. Busyro Karim, Kepala Humas BP Migas I Gde Pradnyana, pengasuh Pesantren Tebu Ireng KH. Salahuddin Wahid, editor Tempo Sunudyantoro, pemimpin redaksi Rakyat Merdeka Online Teguh Santosa.
Menurut Gus Shola, panggilan akrab Salahuddin Wahid, perjalanan bangsa panjang sudah panjang dengan fitrah bangsa kita adalah keberagaman. "Ada lebih dari 1000 etnis, agama, ajaran. Namun terdapat kemiskinan, ketertinggalan dalam pendidikan karena kesenjangan kesejahteraan lahir batin," tutur Gus Shola.
Beberapa orang dan kelompok mendapat keistimewaan dan dianakemaskan oleh deru laju pembangunan. Sementara sisanya tertinggal. Gus Shola mengusulkan agar ketidakmerataan itu harus segera diatasi. "Hukum harus tegak. Hukum tidak boleh lagi bersikap ke atas tumpul sementara kebawah tajam. Hukum kalah oleh kekuasaan, uang dan tekanan massa," kata adik Gus Dur ini. Dalam situasi seperti, kata Gus Shola, kita harus menunjukkan cinta negara dengan terus kritis pada pemerintah.
Sementara Bupati Sumenep A. Busyro Karim mengatakan daerah Sumenep adalah raw model bagaimana konflik dapat diantisipasi. "Tiada nilai luhur yang lebih esensial selain keberagaman. Sebab Tuhan menciptakan manusia berbagai rupa dan perbedaan," kata Busyro. Keberagaman jangan sampai menjadi sakar kehancuran namun mampu membangkitkan kebersatuan. Dan menurut Busyro, Sumenep telah memberi contoh.
Hal itu dapat dilihat dari gaya arsitektural kraton Sumenep yang telah berusia 200 tahun. "Pendopo ini pepaduan arsitektur Eropa, Arab dan China," ujarnya. Sumenep menjadi pondasi lahirnya konsep negara bangsa (nation-state) baik dari sisi historis, sosiologis dan ekonomis. Dari sisi historis adipati Sumenep pertama, Raden Arya Wiraraja adalah orang yang menyelamatkan Raden Wijaya, menantu Raja Singosari Kertanegara, Singosari dari serangan Jayakatwang.
Raden Wijaya dan Arya Wiraraja bahu membahu mengalahkan Jayakatwang. Kelak Raden Wijaya adalah pendiri Kerajaan Majapahit yang menjadi cikal bakal lahirnya nusantara. "Di Sumenep keberagaman selalu dijadikan monumen karena di sini ada wilayah yang masjid, gereja dan klenteng bisa didirikan di tempat yang berdampingan," terangnya.
Sementara Kepala Humas BP Migas, Gde Prapnyana, kesatuan bangsa adalah sejarah yang harus terus diulang. "Tanah nasionalisme sebagai bagian sejarah besar Indonesia. Indonesia tanpa Madura tak bisa dibayangkan," ujarnya.
Editor Tempo Sunudyantoro, mengatakan di tengah konflik yang kerap terjadi media saat ini sudah mengembangkan jurnalisme sadar konflik. "Jurnalisme sadar konflik harus menjadi panduan dalam menyelesaikan konflik. Konflik bukanlah seperti perolehan medali Olimpiade di mana jumlah korban yang selalu ditampilkan setiap hari dalam berita," kata Sunudyantoro.
Sementara Teguh Santoso menandaskan kalau keberagaman di Indonesia itu seperti air bagi ikan. "Konflik yang ada selalu dipicu konflik elit, entah itu monflik pilkada, tanah. Identitas kelompok yang lahir karena interes itu murah gratis yang sering dimobilisasi di lapangan," katanya.
Konflik yang terus terjadi akhir ini sebenarnya berakar pada ketidakmerataan kesejahteraan baik lahir dan batin di masyarakat. Ada segelintir orang dan kelompok yang lebih sejahtera ketimbang lainnya sementara sisanya masih menderita. Padahal dulu sama-sama dijajah Belanda.
Demikian benang merah seminar "Satu Bangsa, Satu Perdamaian dan Satu Kesejahteraan” di Pendapa Agung Keraton Sumenep, Madura, Selasa (14/2/2012). Seminar diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Sumenep bekerjasama dengan BP Migas dan Gerakan Ekayastra Unmada (semangat satu bangsa).
Hadir sebagai pembicara dalam seminar tersebut, Bupati Sumenep A. Busyro Karim, Kepala Humas BP Migas I Gde Pradnyana, pengasuh Pesantren Tebu Ireng KH. Salahuddin Wahid, editor Tempo Sunudyantoro, pemimpin redaksi Rakyat Merdeka Online Teguh Santosa.
Menurut Gus Shola, panggilan akrab Salahuddin Wahid, perjalanan bangsa panjang sudah panjang dengan fitrah bangsa kita adalah keberagaman. "Ada lebih dari 1000 etnis, agama, ajaran. Namun terdapat kemiskinan, ketertinggalan dalam pendidikan karena kesenjangan kesejahteraan lahir batin," tutur Gus Shola.
Beberapa orang dan kelompok mendapat keistimewaan dan dianakemaskan oleh deru laju pembangunan. Sementara sisanya tertinggal. Gus Shola mengusulkan agar ketidakmerataan itu harus segera diatasi. "Hukum harus tegak. Hukum tidak boleh lagi bersikap ke atas tumpul sementara kebawah tajam. Hukum kalah oleh kekuasaan, uang dan tekanan massa," kata adik Gus Dur ini. Dalam situasi seperti, kata Gus Shola, kita harus menunjukkan cinta negara dengan terus kritis pada pemerintah.
Sementara Bupati Sumenep A. Busyro Karim mengatakan daerah Sumenep adalah raw model bagaimana konflik dapat diantisipasi. "Tiada nilai luhur yang lebih esensial selain keberagaman. Sebab Tuhan menciptakan manusia berbagai rupa dan perbedaan," kata Busyro. Keberagaman jangan sampai menjadi sakar kehancuran namun mampu membangkitkan kebersatuan. Dan menurut Busyro, Sumenep telah memberi contoh.
Hal itu dapat dilihat dari gaya arsitektural kraton Sumenep yang telah berusia 200 tahun. "Pendopo ini pepaduan arsitektur Eropa, Arab dan China," ujarnya. Sumenep menjadi pondasi lahirnya konsep negara bangsa (nation-state) baik dari sisi historis, sosiologis dan ekonomis. Dari sisi historis adipati Sumenep pertama, Raden Arya Wiraraja adalah orang yang menyelamatkan Raden Wijaya, menantu Raja Singosari Kertanegara, Singosari dari serangan Jayakatwang.
Raden Wijaya dan Arya Wiraraja bahu membahu mengalahkan Jayakatwang. Kelak Raden Wijaya adalah pendiri Kerajaan Majapahit yang menjadi cikal bakal lahirnya nusantara. "Di Sumenep keberagaman selalu dijadikan monumen karena di sini ada wilayah yang masjid, gereja dan klenteng bisa didirikan di tempat yang berdampingan," terangnya.
Sementara Kepala Humas BP Migas, Gde Prapnyana, kesatuan bangsa adalah sejarah yang harus terus diulang. "Tanah nasionalisme sebagai bagian sejarah besar Indonesia. Indonesia tanpa Madura tak bisa dibayangkan," ujarnya.
Editor Tempo Sunudyantoro, mengatakan di tengah konflik yang kerap terjadi media saat ini sudah mengembangkan jurnalisme sadar konflik. "Jurnalisme sadar konflik harus menjadi panduan dalam menyelesaikan konflik. Konflik bukanlah seperti perolehan medali Olimpiade di mana jumlah korban yang selalu ditampilkan setiap hari dalam berita," kata Sunudyantoro.
Sementara Teguh Santoso menandaskan kalau keberagaman di Indonesia itu seperti air bagi ikan. "Konflik yang ada selalu dipicu konflik elit, entah itu monflik pilkada, tanah. Identitas kelompok yang lahir karena interes itu murah gratis yang sering dimobilisasi di lapangan," katanya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




