Minim Perawatan, Kerusakan RO di Kep. Seribu Picu Krisis Air Bersih
Jumat, 23 Oktober 2015 | 20:05 WIB
Jakarta - Sudah tiga minggu terakhir warga dari Pulau Panggang, Pulau Harapan, Pulau Kelapa, dan Pulau Lancang, Pulau Pari Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, semakin merana karena kekurangan air bersih untuk kebutuhan hidup sehari-hari.
Kekurangan air bersih tersebut disebabkan fasilitas pemurnian air atau reverse osmosis (RO) di empat pulau besar tersebut banyak yang mengalami gangguan dan kerusakan akibat kurang dirawat oleh instansi terkait dalam hal ini Suku Dinas Tata Air Kepulauan Seribu.
Syamsul (56) salah satu tokoh masyarakat di Pulau Pari, Kelurahan Pulau Lancang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, mengatakan sudah hampir sebulan ia mengalami kekurangan air bersih sehingga harus mengantre di lokasi RO.
"Jaringan pipa air RO ke rumah-rumah warga yang selama ini sudah kecil akhirnya tidak menyala sama sekali karena kerusakan yang terjadi pada salah satu komponen filter," ujar Syamsul, Jumat (23/10).
Ia mengaku untuk mendapatkan air bersih dirinya harus mengantre dengan puluhan warga lainnya dengan membawa jerigen untuk penampungan air bersih serta menunggu pengisian air selama setengah jam karena air dari alat RO itupun sangat sedikit yang keluar.
"Harapan kami agar pemerintah segera mengambil tindakan nyata untuk melakukan perbaikan pada RO tersebut, karena kalau kami harus membeli air dari daratan sangat mahal sekali ongkos transportasinya," lanjut Syamsul.
Menanggapi hal tersebut, Bupati Kepulauan Seribu, Budi Utomo, mengatakan pihaknya sudah mengingatkan Sudin Tata Air Kepulauan Seribu untuk segera memperbaiki mesin RO agar bisa kembali berfungsi dengan baik.
"Saya memang dengar mereka pada tahun 2015 lalu gagal lelang, tapi walau gagal lelang itukan mereka harus tetap memberikan solusi dengan melakukan tindakan darurat," kata Budi.
Menurut mantan wakil Bupati Kepulauan Seribu itu, kerusakan RO tersebut disebabkan karena perawatan yang dilakukan oleh instansi terkait tidak sesuai standar prosedur dan jadwal perawatan yang seharusnya dilakukan.
"RO itu kan ada beberapa jenis filter, itu harus dicek dan pemeliharaan filternya setiap beberapa bulan. Harus ada pemeliharaan tapi kenyataannya RO yang sudah waktunya diservis malah tidak sehingga volume air yang keluar lebih kecil dibandingkan dalam kondisi normal," ungkap Budi.
Oleh sebab itu, Budi mengaku telah mendorong Sudin Tata Air Kepulauan Seribu untuk menjalankan program lelang pada bulan November-Desember 2015, sehingga Januari 2016 RO sudah bisa memproduksi air lagi.
"Tahun 2016 kami minta RO yang ada harus diganti dengan RO baru, spesifikasi mesinnya juga ditingkatkan menjadi sea water RO di mana kapasitasnya disesuaikan dengan jumlah penduduk di pulau tersebut," tandasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Tata Air Pemprov DKI Jakarta, Tri Djoko Sri Margianto, mengakui tindakan antisipatif Suku Dinas Tata Air Kepulauan Seribu masih sangat rendah.
"Harusnya tidak boleh beralasan gagal lelang ataupun proses lelang lambat, harus cari solusi. Apalagi kekeringan sudah berlangsung lama. Masa tidak ada antisipasinya?" kata Tri.
Mantan bupati Kepulauan Seribu itu mengaku akan menegur Kasudin terkait dan mengevaluasi kinerja anak buahnya tersebut.
"Kalau memang hingga akhir tahun ini tidak ada penyelesaian, saya akan stafkan pekerja yang tidak mau bekerja optimal," tegasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




