Ekspedisi Enggano, LIPI Temukan Kandidat Spesies Baru
Kamis, 5 November 2015 | 21:10 WIBJakarta - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengungkap kandidat jenis dan catatan baru flora dan fauna dalam ekspedisi Enggano yang dilakukan 16 April-5 Mei 2015 lalu.
Pulau Enggano dipilih untuk diteliti karena pulau ini merupakan pulau samudera yang tidak pernah bergabung dengan pulau Sumatera sepanjang sejarah geologinya.
Enggano merupakan bagian wilayah administrasi Provinsi Bengkulu. Namun untuk sampai ke Enggano di tempuh selama 12 jam dengan kapal penyebrangan dari Bengkulu.
Ketua Tim Ekspedisi Enggano LIPI Amir Hamidy mengatakan sesungguhnya kajian tentang Enggano dalam bidang hayati sudah dilakukan setahun terakhir. Sebanyak 50 peneliti terlibat dalam penelitian ini.
"Temuan-temuan menarik dari penelitian ini diharapkan menjadi rekomendasi pengelolaan kawasan Enggano," katanya dalam diskusi publik dan konferensi pers LIPI Ungkap Hasil Eksplorasi Bioresources di Pulau Enggano di Kantor LIPI, Jakarta, Kamis (5/11).
Dalam penelitian tersebut tim peneliti LIPI mengoleksi dan mendata informasi kekayaan potensi hayati berupa flora, fauna dan mikroba.
Amir yang juga peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI mengatakan dari kajian fauna ada 18 mamalia diketahui terdistribusi di Pulau Enggano. Mamalia itu terdiri dari 13 jenis mamalia kecil di antaranya dua catatan baru Cynopterus brachyotis dan Hipposideros cervinus serta 2 kandidat spesies baru Pteropus sp. dan Rhinolophus sp.
Sedangkan mamalia besar liar seperti babi hutan, sapi liar, kerbau liar dan musang luwak dan jenis introduksi monyet ekor panjang.
Untun burung ada 34 jenis, 17 jenis terkoleksi dan lima jenis endemik yakni betet ekor panjang, anis kembang Enggano, uncal buau, kacamata Enggano dan celepuk enggano.
"Selain itu ada dua jenis burung yang membutuhkan penelitian lebih lanjut karena memiliki warna morfologi yang
berbeda apabila dibandingkan dengan burung sejenis dari daratan Sumatera yakni Rajaudang dan Remetuk laut," ucapnya.
Amir menambahkan untuk kandidat jenis baru burung Ninox spp. Jenis ini diduga jenis baru karena belum ada catatan genus ini di Enggano. Ada pula Alcedo spp. diduga jenis baru karena memiliki warna yang berbeda apabila dibandingkan dengan A. meninting meninting dan A. meninting prxima dari Pulau Pagai dan Kepulauan Mentawai.
Untuk herpetofauna ada 15 jenis terdiri dari 13 jenis reptil dan 2 jenis amfibi. Dua jenis endemik Pulau Enggano adalah ular tikus Enggano dan cicak terbang modigliani.
Ular tikus Enggano menurutnya 80 tahun tidak pernah terlihat dan dalam ekspedisi ini ditemukan.
Tim juga meneliti populasi buaya yang banyak berdiam di mangrove Enggano. Diketahui mangrove Enggano terbaik di Indonesia karena belum terjamah orang.
Katak di Enggano juga adalah jenis baru, hasil laboratorium menunjukkan hasil ke arah sana. Untuk ikan ada 52 jenis ikan dimana sebelumnya tidak ada informasi dan 5 di antaranya jenis baru.
Ada pula 6 jenis ikan belum terindentifikasi. Semua ini ikan air tawar bernilai endemisitasnya tinggi. Dikhawatirkan ikan endemik ini terancam punah oleh ikan introduksi masyarakat seperti gabus dan nila.
Capung deteksi pada kondisi bersih ada 15 jenis. Ada pula kupu-kupu malam dan siang. Kupu-kupu malam 100 jenis, lalat buah tiga jenis ini catatan baru dari Pulau Enggano.
"Kupu-kupu malam (Ngengat) kita indentifikasi ada 100 jenis sebagian besar belum punya nama," ujarnya.
Tim peneliti juga menemukan ada catatan baru udang dan kepiting di air tawar yang nilai endemisnya tinggi.
Tahun 2014 kepeting ditemukan di Thailand dan tahun 2015 ditemukan di Enggano. Selain itu ada pula udang air tawar berukuran kecil.
Rayap penting menyerang kayu ada 8 jenis. Moluska 24 jenis, 3 jenis di antaranya endemik. Bahkan ada yang ukurannya kurang dari 2 milimeter.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




