Musim Hujan Datang, DKI Siap Hadapi Banjir (2)
Sabtu, 7 November 2015 | 17:23 WIB
Proyek Rutin yang Tak Kunjung Selesai
Kepala Dinas Tata Air DKI Jakarta, Tri Djoko Sri Margianto menerangkan kegiatan penanganan banjir di sistem aliran tengah sudah dikerjakan. Sedangkan aliran barat dan timur masih dalam proses pengerjaan. Semua pengerjaan tiga aliran air tersebut membutuhkan waktu puluhan tahun.
"Aliran barat dan timur belum berani untuk menjanjikan terlalu banyak. Tapi untuk aliran tengah sudah dikerjakan. Pak gubernur sudah melihat buktinya, kampung Bandan pernah nggak banjir? Nggak kan," ungkapnya.
Kegiatan penanganan banjir sistem tata dilakukan antara lain, normalisasi kali, pembuatan turap, dan pemasangan pompa. Sayangnya, pelaksanaan ketiga kegiatan itu, baru dapat dirasakan manfaatnya oleh warga Jakarta pada tahun 2035.
"Pengerukan dasar sungai dan waduk untuk antisipasi banjir di wilayah DKI Jakarta sudah dilaksanakan sejak bulan Agustus dan akan berlangsung hingga Maret 2016. Tapi pengerukan sungai dan waduk yang dilakukan pihak ketiga harus diselesaikan hingga akhir Desember tahun ini," kata Tri.
Tri optimistis pengerukan dasar sungai yang terus dilakukan secara berkelanjutan bisa mengurangi dampak banjir di Jakarta. Pihaknya juga melakukan perbaikan sistem drainase di ruas jalan Jakarta serta penggunaan pompa-pompa air. Pompa-pompa tersebut digunakan untuk mengaliri air dari waduk agar bisa menampung air hujan sebanyak-banyaknya.
"Pengerukan lumpur di sungai, waduk dan saluran air lainnya merupakan bagian pemeliharaan. Jadi akan selalu rutin dilaksanakan. Pas datang banjir, kita akan keruk lagi. Ini never ending project. Kita kerjakan sendiri karena sudah alatnya, operatornya ada," jelasnya.
Perbaikan pompa juga terus dilaksanakan. Masih ada beberapa pompa yang masih dilakukan perbaikan. Salah satunya di wilayah Sunter Utara, ada lima pompa dari dua rumah pompa. Salah satu pompa rusak sedang diperbaiki. Bila terjadi banjir, pihaknya akan mengatur kondisi air lebih rendah sehingga tak melimpas ke permukiman warga.
Meski belum bisa menghitung persentase pengurangan banjir, mantan Bupati Kepulauan Seribu ini sudah melihat terjadi tren positif penurunan titik-titik banjir di Jakarta. Terlihat dari waktu, luasan dan kecepatan surut genangan air mulai berkurang dengan cepat.
"Sekarang, kawasan Thamrin sudah bisa diamankan, karena Kali Cideng sudah kita keruk. Sekarang sudah dalam sampai 1,5 meter. Pompa Cideng juga sudah diperbaik. Waduk Pluit sudah kita rendahkan, sehingga aliran sungai ke Pluit sudah bisa dikeringkan. Seberapa cepatnya, nanti kita lihat di Januari," paparnya.
Begitu juga dengan kawasan Gunung Sahari. Dengan pengerukan Kali Ancol, setiap kali hujan, kawasan ini sudah terbebas dari banjir. Kali Item, Rawa Badak dan Waduk Sunter Utara sudah dikeruk.
"Sampai operator alat berat bilang, saya sudah 12 tahun bekerja sebagai operator, baru kali ini saya lihat Pemprov DKI bisa menurunkan air serendah ini. Artinya, air hujan bisa masuk ke saluran dengan lancar. Jadi kegiatan penanggulan banjir di Jakarta tidak akan berhenti. Akan terus berproses setiap tahunnya," jelas Tri.
Untuk kegiatan penanganan banjir ini, Dinas Tata Air memiliki anggaran sebesar Rp 3,2 triliun. Saat dia masuk menjadi kepala dinas, anggaran baru terserap tiga persen.
Selain menyelesaikan strategi penanganan banjir, Dinas Tata Air juga memprioritaskan pembangunan sumur resapan di permukiman kumuh. Saat ini permukiman kumuh yang terbanyak ada di Jakarta Utara. Untuk tahun 2014, pihaknya sudah membangun sumur resapan sebanyak 2.673 sumur.
Lalu pada tahun ini, Dinas Tata Air telah membangun 5.545 sumur resapan. Kemudian pada tahun 2016, direncanakan ada sebanyak 26 ribu sumur resapan sudah terbangun diseluruh wilayah Jakarta.
"Jadi selama tiga tahun ini, total sumur resapan yang dapat dibangun ada sebanyak 34.218 sumur. Pokoknya kita prioritaskan membangun sumur resapan dan penataan permukiman kumuh," kata Tri.
Berdasarkan data yang dihimpun Beritasatu.com, dari strategi pengendalian yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta, banjir Jakarta baru tuntas pada 2035. Itu pun menghabiskan biaya yang sangat besar, mencapai Rp 118 triliun.
Dinas Tata Air sendiri telah menyiapkan strategi pengendalian banjir di Jakarta. Strategi itu dibagi menjadi tiga kegiatan penanganan banjir sistem tata aliran air, yaitu kegiatan penanganan banjir sistem tata air aliran barat membutuhkan dana sekitar Rp 43 triliun, aliran tengah dengan dana sekitar Rp 34 triliun dan aliran timur Rp 41 riliun.
Jadi, total anggaran untuk pengendalian banjir di seluruh wilayah DKI Jakarta diprediksikan sebesar Rp 118 triliun.
Untuk penanganan banjir sistem tata air di tahun 2015, Dinas Tata Air mengalokasikan anggaran sebanyak Rp 3,2 triliun. Anggaran itu akan dibagi untuk ketiga aliran tersebut. Paling tidak, program prioritas dari ketiga aliran itu harus dilaksanakan.
Seperti di aliran Timur yang akan diprioritaskan di Kelapa Gading dan Cawang. Diharapkan penanganan di sejumlah aliran sungai di kawasan timur itu diharapkan dapat mengeringkan banjir di sisi barat kawasan Kelapa Gading dan Cawang.
Lalu, di aliran tengah, pihaknya terlebih dahulu mengerjakan di kawasan kali Ciliwung, Gunung Sahari, Banjir Kanal Barat dan Kali Krukut. Dengan begitu, diharapkan banjir di kawasan Kebon Baru, Bidara Cina, Sungai Mampang dan di Pondok Jaya akan rampung pada tahun ini.
Selanjutnya, di aliran Barat, Dinas Tata Air akan memprioritaskan untuk menangani banjir di kawasan Jalan S Parman tepatnya depan universitas Trisakti. Selain meninggikan tanggul di kali Grogol yang melintas di kawasan tersebut, juga akan menambah pompa dan membuat reservoir resapan air.
Baca juga:
Musim Hujan Datang, DKI Siap Hadapi Banjir (1)
Musim Hujan Datang, DKI Siap Hadapi Banjir (3-Habis)
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




