Purnomo Yusgiantoro: Tak Pakai Energi Nuklir, Tingkatkan Energi Terbarukan

Senin, 9 November 2015 | 20:53 WIB
ST
B
Penulis: Stefi Thenu | Editor: B1
Ilustrasi pembangkit listrik tenaga nuklir
Ilustrasi pembangkit listrik tenaga nuklir (AFP)

Solo - Mantan menteri ESDM, Purnomo Yusgiantoro, mengaku sangat bersyukur saat menjabat menteri tidak memberi keputusan rencana pembangunan PLTN di Semenanjung Muria, Jepara.

Hal ini menyusul terjadinya gempa bumi berskala 5,1 SR pada 23 Okober 2015 yang lalu, yang berada tak jauh dari bakal lokasi pembangkit tersebut. Tepatnya gempa terjadi pada kedalaman 14 km di arah Timur Laut Jepara.

''Alhamdulillah saya sangat bersyukur tidak menetapkan kebijakan itu. Kalau sudah jadi dibangun dan ada gempa, pasti saya salah seorang yang bakal dihujat, ''kata Purnomo Yusgantoro seusai berbicara dalam seminar ''Optimalisasi Pengelolaan Energi untuk Menjamin Ketahanan Energi Nasional'' di Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Senin (9/11).

Menurut Purnomo yang juga Guru Besar ITB ini, bahwa peraturan pemerintah mengenai kebijakan energi nasional sudah secara jelas menyebutkan target-target yang dicapai dalam pembangunan energi baru dan terbarukan. Dimana ketahanan energi nasional sangat terkait dengan ketersediaan atau suplai, infrastruktur, daya beli masyarakat serta kebijakan dan strategi yang sifatnya operasional.

Menyinggung energi nuklir, mantan Menteri Pertahanan era Presiden SBY ini menjelaskan bahwa kelanjutan nasib pembangunan PLTN saat ini menunggu keputusan politik Presiden Joko Widodo. ''Jadi kita sekarang menunggu keputusan politik Presiden Jokowi apakah kita akan go nuklir atau go no nuklir. Itu akan dimunculkan dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) yang akan diumumkan dalam waktu dekat,'' jelasnya.

Dalam RUEN nantinya juga akan disebutkan pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT). Namun menurutnya, apakah energi terbarukan bisa menggantikan nuklir, masih harus menunggu RUEN yang akan diumumkan Presiden Jokowi. ''Yang pasti di Indonesia potensi EBT sangat besar dan sekarang sudah masuk tataran implementasi,'' papar Purnomo.

Penggunaan energi nuklir ini juga menjadi sorotan dalam pembahasan soal energi alternatif dan energi baru terbarukan. Boedi Setyana dari Bappeda Jawa Tengah mengatakan, pembangunan PLTN sebisa mungkin dihindari. Karena selain faktor penolakan dari masyarakat, dan juga riwayat daerah Jepara termasuk lokasi yang rawan gempa tektonik maupun vulkanik. ''Sehingga kami memastikan, review RT-RW kami yang lima tahun lalu sudah tidak ada lokasi PLTN, lima tahun kedepan tetap tidak ada lokasi PLTN,'' kata Boedi Setyana.

Sementara itu anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Rinaldy Dalimi mengutarakan, PLTN hingga sekarang belum memiliki peluang. Karena sedikitnya ada lima faktor yang menjadi kendala pembangunan PLTN. Kendala tersebut meliputi Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) belum siap menyediakan SDM, belum siap menyediakan bahan bakar nuklir (uranium), dan belum siap dalam menangani teknologi pengayaan uranium. Indonesia masih memiliki potensi energi terbarukan yang aman, murah dan melimpah sampai saat ini. Seperti energi surya (solar cell), tenaga air, panas bumi, tenaga angin serta mikrohidro. Jika dikelola dengan baik tidak hanya memenuhi kebutuhan akan listrik di Indonesia akan tetapi mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil. Dan nuklir merupakan pilihan terakhir

''Indonesia sebagai negara berkembang akan sulit mendapatkan dukungan dari negara-negara maju yang menguasai teknologi pengayaan uranium," papar Rinaldy.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon