Legislator Dukung Heli Super Puma Jadi Heli Kepresidenan

Selasa, 24 November 2015 | 17:06 WIB
MS
FB
Penulis: Markus Junianto Sihaloho | Editor: FMB
Helikopter Kepresidenan RI, AS-332 Super Puma.
Helikopter Kepresidenan RI, AS-332 Super Puma. (Antara)

Jakarta - Rencana Pemerintah untuk mengganti pesawat kepresidenan jenis helikopter karena sudah uzur dinilai sudah tepat dilakukan. Yang perlu dipertimbangkan ulang adalah soal alat yang dibeli, yakni helikopter jenis Agusta buatan Italia.

Menurut Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Charles Honoris, jauh lebih baik bila infrastruktur lokal dioptimalkan, bukan malah menguatkan milik asing.

Hal itu karena sebenarnya PT Dirgantara Indonesia sudah bisa memproduksi heli sejenis bernama Super Puma, dan yang pasti biayanya lebih murah.

"Kalau ada produk dalam negeri yang standar, saya rasa harus diutamakan untuk dibeli," kata Charles, Selasa (23/11).

Dia menegaskan bahwa heli Super Puma juga sudah cukup, apalagi sudah terbukti pernah digunakan menjadi helikopter kepresidenan.

Charles mengaku dirinya yakin Presiden Jokowi pasti belum tahu detil rencana pembelian helikopter itu. Menurut dia, Presiden Jokowi pasti sama sikap seperti dirinya jika diberi tahu detil rencana pembelian.

"Saya yakin, kalau diberikan perbandingan, saya yakin Pak Jokowi akan memilih produk PT. DI dibanding dari Italia," tegasnya.

Sebelumnya, Anggota Komisi I DPR RI, Tubagus Hasanuddin, mempertanyakan alasan heli pengganti untuk presiden itu tidak menggunakan produk lokal yang sebenarnya berkualitas serta berharga lebih murah.

Diketahui, kata Hasanuddin, untuk anggaran tahun 2016, Setneg RI merencanakan pembelian heli kepresidenan pengganti setelah mendapat saran dari TNI AU. Yakni dengan jenis AW 101 Agusta buatan Italia.

Dijelaskannya, heli Agusta itu memang cukup canggih dengan interior yang mewah dan ruangan yang lebar. Sehingga cukup nyaman bila dipakai untuk kepentingan pelayanan Very Very Inportant Person (VVIP).

Tapi harganya sekitar US$ 55 juta, yang dianggapnya cukup mahal bila dibandingkan dengan jenis Super Puma, yang harganya hanya US$ 35 juta. Bila dirupiahkan dengan kurs Rp 13500 per-US$, maka Agusta itu senilai Rp 675 miliar, sementara Super Puma Rp 472,5 miliar atau selisihnya sekitar Rp 202,5 miliar.

Menurut Hasanuddin, bila Super Puma mau dilengkapi menjadi seperti AW 101 Agusta, bisa dilakukan. Yakni dengan menambah perangkat Forward Looking Infra Red (FLIR), alat proteksi dan antipeluru kendali, infrared jammer, dan laser warning. Semua alat itu seluruhnya diperkirakan seharga US$ 5 juta.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon