Charoen Pokphand Paling Cepat Bangkit
Minggu, 29 November 2015 | 21:16 WIB
Jakarta - Performa PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) diproyeksi segera bersinar, seiring ekspektasi pulihnya bisnis peternakan ayam nasional mulai pertengahan tahun depan. Pemulihan tak lepas dari inisiasi pemerintah untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan ayam nasional setelah harga jual ayam turun sejak tahun lalu.
CIMB Securities memperkirakan Charoen Pokphand sebagai emiten yang paling cepat mendapatkan dampak positif atas pemulihan industri peternakan nasional tersebut. Hal ini dipengaruhi atas posisi perseroan sebagai penguasa pasar peternakan Indonesia dan operasional yang lebih efisien.
Analis CIMB Securities Maureen Natasha mengatakan, pemulihan industri sektor peternakan dimulai dengan program pengurangan induk ayam (parent stock) hingga Januari 2016. Kementerian Pertanian melalui Dirjen Peternakan meminta 13 perusahaan peternakan nasional secara sukarela untuk memusnahkan sebanyak 6 juta induk ayam (parent stock).
"Program pemusnahan ini bertujuan untuk menyeimbangkan suplai dan permintaan daging ayam, sehingga harga jualnya bisa pulih," ungkap Maureen dalam risetnya, baru-baru ini.
Pemerintah juga telah membatasi impor grand parent stock (GPS) setelah dalam lima tahun melonjak. Impor GPS dibatasi menjadi 665 ribu ayam tahun ini, dibandingkan periode sama tahun lalu 720 ribu ayam. Pembatasan bertujuan untuk stabilitas harga ayam di pasaran.
Ekspektasi membaiknya kinerja keuangan perusahaan peternakan nasional, menurut dia, juga didukung atas penurunan belanja modal (capex) tahun ini. Mayoritas perusahaan peternakan menahan ekspansi produksi, sehingga tidak terjadi lonjaan pasokan di pasaran. Bandingkan dengan periode 2009-2014, hampir semua perusahaan peternakan ayam berlomba-lomba menaikkan belanja modal untuk ekspansi.
Selain faktor tersebut, dia mengatakan, permintaan daging ayam nasional masih cenderung meningkat, menyusul tingkat konsumsi daging ayam nasional baru mencapai 12 kilogram per kapita, bandingkan dengan negara Asean lainnya, seperti Malaysia, dengan konsumsi 38 kilogram per kapita.
"Kami memperkirakan tingkat konsumsi daging ayam nasional akan mulai bangkit pertengahan tahun depan dengan asumsi penyerapan anggaran belanja pemerintah berjalan dengan baik, sehingga berdampak terhadap kenaikan tingkat pendapatan masyarakat," ungkap Maureen.
Dia menambahkan, daging ayam merupakan sumber protein hewani terumarh dengan tingkat kandungan proteinnya tinggi, bandingkan dengan harga daging sapi yang mahal. Selama ini, sumber protein hewani nasional didominasi dari daging ayam mencapai 67% dari total konsumsi daging nasional. Hl ini akan membawa dampak positif terhada perseroan ke depan.
Berbagai faktor tersebut mendorong CIMB Securities menetapkan rekomendasi add saham CPIN dengan target harga Rp 4.000. Target harga ini merefleksikan perkiraan PE tahun depan sekitar 23,1 kali. Selain itu, Charoen mendominasi pangsa pasar daging ayam, tingkat margin keuntungan yang relatif stabil, dan struktur modal yang kuat.
Sedangkan katalis penguat harga saham CPIN datang dari ekspektasi pemulihan industri pasar ayam lebih cepat dari perkiraan mulai pertengahan 2016. Perolehan laba bersih juga diharapkan mulai pulih sebelumnya pertengahan tahun 2016.
Sementara itu, analis UBS Securities Indonesia Raja Abdalla menyebutkan, pengereman ekspansi akan berdampak baik bagi perseroan, karena aksi ini sebagai langkah untuk mengendalikan rasio utang di tengah penurunan daya beli masyarakat.
"Jika perseroan tetap agresif melanjutkan ekspansi, rasio utang bersih bisa melonjak menjadi 0,75 kali akhir tahun ini, bandingkan dengan realisasi tahun lalu sekitar 0,4 kali," ungkap Raja dalam risetnya, belum lama ini.
Raja menyebutkan beberapa faktor perlambatan ekspansi Charoen sepanjang tahun ini. Pemicu utamanya adalah tingkat imbal hasil investasi baru cenderung melemah, mempertahankan kas bersih, dan adanya intervensi pemerintah untuk menyeimbangkan permintaan dan suplai.
Berdasarkan perhitungan UBS Securities, tingkat imbal hasil atau ROIC investasi perunggasan terus merosot hingga menjadi 18% pada 2014, dibandingkan periode 2010 sekitar 73%. Penurunan ROIC akibat kelebihan pasokan daging ayam di pasar dalam negeri.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




