Kepala BNPT: Waspadai WNI yang Dideportasi dari Luar Negeri

Jumat, 4 Desember 2015 | 13:24 WIB
MS
FB
Penulis: Markus Junianto Sihaloho | Editor: FMB
Kepala BNPT, Saud Usman Nasution
Kepala BNPT, Saud Usman Nasution (Antara)

Jakarta - Teror yang dilakukan kelompok militan Islamic State of Iraq dan Syria (ISIS) di sejumlah negara membuat Indonesia wajib membuat langkah antisipasi dari kemungkinan buruk aksi teror tersebut.

Menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) Saud Usman Nasution, ancaman terorisme terkini melalui ISIS telah menjadi ancaman global. Contoh terhangat adalah teror Paris.

"Materialnya sederhana berupa cat dan tiner dan itu bisa dipelajari di internet. Intinya kita tidak boleh menyepelekan sekecil dan seremeh apapun ancaman teroris. Kita harus perkuat seluruh lini bangsa demi melawan berbagai upaya yang berbau terorisme," ujar Saud Usman Nasution, dalam keterangannya, Jumat (4/12).

Dia menjelaskan, BNPT telah melakukan berbagai upaya mencegah ancaman terorisme. Yakni berupa kontraideologi, kontrapropaganda, kontranarasi, dan kontraradikal dengan melakukan sosialisasi dan dialog. Selain itu pencanangan tahun damai di dunia maya, yang dilaksanakan dengan menggandeng berbagai lembaga terkait.

Selain itu, kata Usman, BNPT telah menyiapkan SOP pengawasan daerah perbatasan, perlindungan obyek vital dan lingkungan strategis. BNPT juga melakukan program deradikalisasi baik di dalam Lembaga Pemasyarakat (Lapas) maupun di luar Lapas, dan lain-lain.

Upaya lainnya adalah membentuk Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di setiap provinsi. Saat ini dari 34 provinsi, BNPT telah membentuk 32 FKPT, dimana tinggal Provinsi Papua dan Papua Barat yang rencananya akan dibentuk tahun 2015.

BNPT juga telah menyelesaikan SOP pengawasan daerah perbatasan. Itu dilakukan setelah adanya deportasi besar-besaran WNI dari Malaysia. Menurut Saud Usman, pihaknya wajib mengantispasi WNI yang baru pulang dari luar negeri, terutama Malaysia dengan dalih tenaga kerja ilegal.

"Tidak hanya WNI yang disinyalir akan pulang atau pergi ke luar negeri, dari Suriah. Tapi kami juga mengantisipasi WNI yang baru pulang dari luar negeri. Ini dilakukan karena kami menduga sebagian dari WNI itu merupakan anggota jaringan terorisme yang sengaja memanfaatkan jalur TKI ilegal untuk kembali ke Indonesia," jelas dia.

"Dicurigai nantinya mereka membuat teror di sini. Untuk itu, semua lini harus waspada, terutama pintu keluar masuk perbatasan."

Menurut Saud Usman, pengawasan wilayah perbatasan dari ancaman terorisme adalah salah satu bagian dari upaya BNPT dalam melakukan pencegahan terorisme. Dia berharap, ke depan, pencegahan terorisme di Indonesia semakin masif seperti yang telah dilakukan selama ini.

Dia melanjutkan, bahwa dalam urusan terorisme, Indonesia pernah merasakan dampak langsung akibat lemahnya sistem pengawasan di perbatasan. Pergerakan organisasi teroris transnasional seperti kelompok Jamaah Islamiyah, bertumpu pada wilayah perbatasan.

Bahkan sejumlah gembong teroris seperti seperti Azahari dan Noordin M Top terbukti menggerakkan kelompoknya melewati perbatasan Filipina-Malasyia-Indonesia. Pergerakan kelompok teroris di wilayah ini tidak terbatas hanya pada penyelundupan para pelaku teroris saja, melainkan juga penyelundupan senjata yang digunakan untuk kegiatan terorisme.

Di samping itu, daerah perbatasan seperti Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara yang selama ini, juga sering menjadi persembunyian.

"Jadi kepada masyarakat diharapkan partisipasi aktif dalam pencegahan terorisme ini dengan memberikan informasi kepada aparat bilamana di lingkungnnya ada kegiatan mencurigakan dari sekelompok orang yang ekslusif dan tidak mau bersosialisasi dan malah mengkafirkan orang lain," ungkap Saud.

Selama ini wilayah perbatasan sering disepelekan dalam upaya mencegah terorisme sehingga sering kecolongan dan dijadikan langganan keluar masuk pelaku terorisme. Kata Saud Usman, hal demikian tidak boleh terjadi lagi, sehingga pengawasan di daerah perbatasan dan pintu masuk lainnya wajib diperketat.

"Semua itu dilakukan demi mencegah ancaman terorisme di Indonesia. Kami, BNPT tentu tidak bisa bekerja sendiri, sehingga kami minta peran aktif seluruh stakeholder dan juga masyarakat dalam mendukung program pencegahan terorisme," pungkas Saud Usman.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon