Rajawali Tak Tahu Kabar soal Pemilik Wilmar Ikut Akuisisi Eagle High

Jumat, 11 Desember 2015 | 20:07 WIB
FN
B
Penulis: Farid Nurfaizi | Editor: B1
Ilustrasi Sawit
Ilustrasi Sawit (Inverstor Daily/Tino Oktaviano)

Jakarta – Grup Rajawali menyatakan, keikutsertaan Felda Investment Corp berinvestasi pada PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) murni strategi Grup Felda.

Managing Director Rajawali Corpora Darjoto Setiawan menampik kabar yang menyebutkan bahwa keluarga Kuok asal Malaysia, yang juga pemilik Wilmar International, akan membantu Felda Global Ventures Holdings mengakuisisi Eagle High. "Soal Wilmar itu saya tidak pernah dengar," kata dia kepada Investor Daily di Jakarta, Jumat (11/12).

Grup Felda, perusahaan sawit terbesar ketiga di dunia asal Malaysia, memastikan tetap akan mengakuisisi 37% saham Eagle High dari Grup Rajawali. Namun, kali ini, Felda Investment Corp bakal mengambil alih sebagian besar saham tersebut, sedangkan porsi Felda Global Ventures Holdings hanya akan di bawah 10%.

Darjoto mengatakan, saat ini, Grup Felda dan Rajawali secara aktif terus bernegosiasi. Kedua pihak masih memiliki kerja sama yang baik dan meyakini kesepakatan akan terjadi secepatnya. Namun, dia belum dapat memastikan apakah kesepakatan bisa terealisasi pada Desember ini.

Terkait nilai akuisisi, kata Darjoto, Grup Felda dan Rajawali tengah melakukan finalisasi. Dengan begitu, dia belum dapat memastikan nilai transaksinya, apakah masih pada kisaran US$ 680 juta atau tidak.

Sementara itu, Eagle High berencana membangun satu pabrik kelapa sawit (PKS) berkapasitas 30 ton per jam di Kalimantan Timur. Sesuai rencana, ekspansi PKS kesepuluh tersebut akan dilangsungkan pada pertengahan 2016.

"Luas areal kebun kami cukup besar di Kalimantan Timur dan bertambah juga luasan yang menghasilkan. Makanya tidak cukup hanya dengan satu PKS, kami putuskan tambah satu lagi di Kaltim," jelas Sekretaris Perusahaan Eagle High Rudy Suhendra, belum lama ini.

Rudy mengatakan, pabrik tersebut baru akan beroperasi secara komersial pada akhir 2017 atau awal 2018. Nilai investasi pembangunan PKS tersebut ditaksir sebesar Rp 140 - 160 miliar.

Saat ini, perseroan juga tengah melangsungkan pembangunan tahap pertama, dua PKS yang berlokasi di Kalimantan Barat dan Papua senilai Rp 200 miliar dan Rp 250 miliar.Pembangunan PKS Kalimantan Barat bakal selesai pada akhir kuartal I - 2016. Sedangkan, PKS Papua baru akan rampung pada akhir tahun depan.

Menurut Rudy kapasitas kedua PKS itu didesain sebesar 45 ton per jam. Nantinya, perseroan bakal meningkatkan kapasitas keduanya menjadi 90 ton per jam pada pembangunan tahap II yang akan dilakukan dua tahun mendatang.

Dengan begitu, tahun depan, jumlah PKS perseroan akan bertambah menjadi 9. Adapun, kapsitas produksi total bisa mencapai 475 ton per jam pada 2016.

Jika seluruh pembangunan tahap II serta pembangunan PKS Kalimantan Timur berjalan mulus, kapasitas produksi pabrik perseroan akan meningkat menjadi 595 ton per jam pada 2017.

Saat ini perseroan memiliki 7 PKS berkapasitas 385 ton per jam. Disamping itu, juga 4 bulking stations termasuk storage mills dengan kapasitas penyimpanan 85.000 metrik ton (MT).

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon