Puluhan Warga Bukit Duri Mulai Tempati Rusun Cibesel

Minggu, 27 Desember 2015 | 15:25 WIB
PP
FH
Penulis: Priska Sari Pratiwi | Editor: FER
 Rusunawa Cipinang Besar Utara, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, 2 September 2015
Rusunawa Cipinang Besar Utara, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, 2 September 2015 (BeritaSatu.com/Priska Sari Pratiwi)

Jakarta - Sejak sepekan terakhir, puluhan warga Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan, mulai menempati rusun Cipinang Besar Selatan (Cibesel), Jatinegara, Jakarta Timur. Mereka direlokasi lantaran tempat tinggalnya yang berseberangan langsung dengan Kampung Pulo juga terkena proyek normalisasi Kali Ciliwung.

Salah seorang warga Bukit Duri, Heri (35), mengaku senang direlokasi ke rusun Cibesel. Ia menempati lantai empat blok D bersama sejumlah warga Bukit Duri lainnya. "Ya senanglah di sini enggak bakal kebanjiran lagi. Tempatnya juga lebih bersih dan lebih luas," ujar Heri, Minggu (27/12).

Ia mengaku bersedia direlokasi ke rusun lantaran tak mau terkena gusuran yang menimbulkan kerusuhan seperti di Kampung Pulo. "Kita sudah sepakat enggak mau pakai demo atau apa, aturannya begini ya diikuti aja daripada ribut," katanya.

Selama tiga bulan awal, Heri mengaku masih digratiskan biaya sewa rusun. Ia pun belum tahu pasti berapa biaya sewa rusun yang mesti dibayar. Namun bapak dua anak yang bekerja sebagai pedagang ini menilai biaya rusun masih terbilang murah.

"Kayaknya sekitar Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribuan. Lumayanlah daripada cari kontrakan sendiri bayarnya malah lebih mahal," ucapnya.

Warga lainnya, Sriyati (40) juga memilih direlokasi ke rusun ketimbang harus mencari rumah kontrakan sendiri. Kendati demikian ia mengeluhkan jarak rusun yang cukup jauh dengan lokasi sekolah anaknya di SDN Bukit Duri. "Setelah di rusun sekolahnya kan jadi lumayan jauh, harus naik angkot atau diantar dulu sama bapaknya," kata Sriyati.

Ia belum tahu apakah akan memindahkan anaknya untuk bersekolah di tempat yang lebih dekat dengan rusun atau tidak. Pasalnya untuk pindah sekolah pun, menurutnya, membutuhkan biaya yang tidak sedikit. "Ya kalau memang harus pindah sekolah pengennya Pak Ahok (gubernur) bisa bantulah," imbuhnya.

Kepala Unit Pengelola Rusun Wilayah III DKI Jakarta, Sayid Ali mengatakan, total jumlah warga Bukit Duri yang terkena relokasi adalah 97 keluarga dari RT 11, 12, dan 15. Jumlah itu, menurutnya, sesuai dengan jumlah peta bidang yang terdampak proyek normalisasi.

"Dari 97 keluarga sudah 84 keluarga yang mengambil undian. Tapi yang menempati baru 58 keluarga di Cibesel dan 26 di rusun Pulogebang," tuturnya.

Ali mengaku tak tahu alasan keluarga Bukit Duri yang belum mengikuti undian rusun. Namun pihaknya hingga saat ini fokus pada warga yang melakukan pindahan. Menurutnya, sebagian besar warga memilih untuk melakukan pindahan sendiri.
"Tapi kita juga sediakan truk untuk mengangkut barang milik warga. Pokoknya kapan pun warga butuh bantuan kita siap membantu," tandasnya.

Warga rusun, kata dia, nantinya akan digratiskan biaya sewa selama tiga bulan. Namun setelah itu warga diwajibkan untuk membayar sesuai dengan lantai yang mereka tinggali. Ali menyebutkan, untuk lantai satu biayanya Rp 234.000 per bulan, lantai dua Rp 212.000 per bulan, lantai tiga Rp 192.000 per bulan, lantai empat Rp 173.000 per bulan, dan lantai lima Rp 156.000 per bulan. "Biaya tersebut, belum termasuk biaya listrik dan air," kata Ali.

Terkait pemindahan sekolah yang dekat dengan rusun, Ali mengaku perlu berkoordinasi dengan Suku Dinas Pendidikan setempat. "Kalau itu kewenangan Sudin Pendidikan. Kita yang penting menyediakan tempat tinggal," pungkasnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon