Para Penambang Global Berjuang Bertahan
Minggu, 27 Desember 2015 | 18:08 WIB
Sydney – Para analis menyampaikan, Minggu (27/12), bahwa sekarang perusahaan-perusahaan tambang dunia tengah berjuang untuk tetap bertahan setelah mengalami salah satu tahun-tahun terberat belakangan ini. Pasalnya harga komoditas merosot dan persediaan yang melimpah memaksa dilakukan penutupan tambang lebih banyak dan pemangkasan besar-besaran di 2016.
Kerakusan Tiongkok terhadap komoditas pun telah berkurang karena Negeri Tirai Bambu ini bergeser menuju pertumbuhan yang digerakkan konsumsi sehingga menurunkan angka permintaan. Laju permintaan komoditas tersebut didorong oleh booming investasi luar biasa di negara dengan kekuatan ekonomi kedua di dunia.
Kemudian, pada saat yang sama, produsen-produsen besar terus menaikkan tingkat output, yang menurut kalangan kritikus dirancang untuk membanjiri pasar dan menyingkirkan pesaing-pesaing yang lebih kecil, sehingga mempercepat penurunan harga.
Namun penurunan tajam ini menganggu perusahaan-perusahaan tambang di seluruh dunia sehingga mendorong para pemain yang lebih kecil ke tepi jurang dan menganggu miliaran pendapatan anggaran ekonomi pemerintah yang bergantung pada sumber daya, seperti Australia.
Adapun harga bijih besi, di awal Desember, anjlok di bawah US$ 40 dan merupakan angka terendahnya sejak Mei 2009. Sementara itu, harga batu bara thermal atau berkalori tinggi jatuh 80% dari puncaknya di 2008, kemudian harga minyak dunia meluncur turun ke level terendah dalam 8 tahun.
Perusahaan-perusahaan yang lebih besar asal Amerika yang terdaftar di bursa London, bahkan telah memangkas tenaga kerjanya hampir dua per tiga dan mengalami kerugian akibat penutupan tambang. Sementara itu, raksasa Swiss, Glencore berencana mengurangi utang dengan memangkas investasi dan menjual aset.
"Anda hanya perlu melihat harga saham untuk mengetahui bahwa ini benar-benar tahun yang mengejutkan bagi pasar komoditas dan perusahaan-perusahaan tambang," kata Andrew Driscoll, kepala riset sumber daya CLSA, kepada AFP.
BHP Billiton, salah satu penambang terbesar di dunia asal Australia, juga menyaksikan anjloknya harga saham perusahaan lebih dari 40% di tahun ini. Sementara itu, saham rivalnya, Rio Tinto, telah turun sebesar 26%.
Chief Excutive Officer Rio Tinto, Sam Walsh mengatakan kalau para pesaing perusahaannya sedang mengalami banyak masalah yang membuat mereka menghindari risiko. "Cepat atau lambat penyeuaian tersebut akan berlangsung," ungkap Walsh kepada Bloomberg Television, di bulan ini.
.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




