Restrukturisasi Utang US$ 3,98 M, Bumi Raih 50% Dukungan Kreditor
Senin, 4 Januari 2016 | 23:12 WIB
Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) telah meraih lebih dari 50% dukungan para kreditor terhadap proposal restrukturisasi utang senilai total US$ 3,98 miliar. Perseroan menargetkan kesepakatan final dengan para kreditor terealisasi pada Maret 2016.
Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bumi Resources Dileep Srivastava mengatakan, sebelumnya perseroan memang menargetkan mampu meraih kesepakatan dengan mayoritas kreditor pada akhir 2015. Namun, lantaran libur Natal dan tahun baru, waktu yang tersedia untuk negosiasi terbilang sempit.
"Kami mendapatkan apresiasi dari para mayoritas kreditor. Mereka menyadari pasar dan harga batubara sedang tertekan. Dan, tidak ada yang mengetahui kapan kondisi akan pulih," jelas Dileep di Jakarta, Senin (4/1).
Dileep menegaskan, kreditor perseroan terbagi menjadi dua, yakni utang US$ 3,5 miliar berasal dari kreditor berjamin (secured) dan kreditor tidak berjamin (unsecured) dari covertible bond senilai US$ 409 juta.
Dileep enggan mengungkapkan kreditor mana saja yang memberikan dukungan tersebut. Proses dialog bakal terus berjalan. Perseroan menyadari proses restrukturisasi yang kompleks. Sehingga, perseroan tidak dapat melakukan aksi korporasi apapun, sebelum proses restrukturisasi rampung.
"Kami tidak dapat menjual aset karena anjloknya pasar batubara. Oleh sebab itu, kami harus percaya diri dengan proposal restrukturisasi," jelas dia.
Sejauh ini, kata Dileep, belum ada perubahan dari proposal restrukturisasi tersebut. Perseroan juga tidak mempertimbangkan opsi buyback obligasi, seperti yang tengah dilakukan emiten batubara lain, seperti PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) dan PT Indika Energy Tbk (INDY).
"Kami berharap pada exchange debt, yang akan dikonversi ke saham perusahaan dan entitas usaha," jelas dia.
Sesuai rencana, utang sebesar US$ 1,49 miliar akan dikonversi menjadi saham Bumi berdasarkan valuasi saham perseroan yang sekitar US$ 4,6 miliar. Para kreditor untuk utang tersebut adalah China Investment Corporation (CIC) dan China Development Bank Corporation (CDB), dan sebagian utang dari Castleford.
Selanjutnya, sebanyak US$ 1,2 miliar akan dipertahankan menjadi new senior secured facility. Fasilitas ini dibagi dalam dua tranche, yang masing-masing senilai US$ 600 juta dan jatuh tempo dalam lima tahun. Tranche 1 akan memiliki bunga 6% per tahun, dan tranche 2 memiliki bunga 9% per tahun dengan payment in kind (PIK).
Maksud dari PIK adalah bunga yang terutang dapat ditangguhkan pembayarannya karena alasan likuiditas. Konsekuensi dari PIK adalah tidak terjadi gagal bayar.
Perseroan akan membayar US$ 1,2 miliar dengan catatan ketika perseroan memiliki excess cash. Sebelumnya, menurut manajeman, excess cash dapat diraih jika harga batubara dapat meningkat.
Lebih lanjut, skema restrukturisasi utang berikutnya yang ditawarkan Bumi Resources adalah mengubah utang senilai US$ 630 juta menjadi saham di perusahaan tertutup tertentu dalam grup Bumi. Kreditur utang tersebut adalah CIC dan CDB.
Bumi Resources pun akan memangkas utang Axis Bank sebesar US$ 100 juta dari hasil gadai saham PT Fajar Bumi Sakti (FBS). Namun, perseroan belum dapat menerangkan pihak yang menjadi pembeli saham Faja Bumi.
Dileep mengatakan, pihaknya harus tetap optimistis terhadap proses restrukturisasi ini. Sebab, emiten batubara lain juga tengah berjuang menghadapi restrukturisasi. Pihaknya menilai, ketika kesepakatan final diraih, maka perseroan dan kreditur akan saling meraih keuntungan.
Di tengah ketatnya arus kas, Bumi Resources hanya mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) kurang dari US$ 100 juta pada tahun ini. Mayoritas capex akan digunakan untuk pemeliharaan tambang utama, PT Kaltim Prima Coal.
Menurut Dileep, perseroan menyesuaikan pengeluaran di tengah kondisi sulit. Perseroan mengalami tantangan tersebut di tambang minyak di Yaman, yang dikelola anak usaha Gallo Oil (Jersey) Ltd. "Kami melakukan penyesuaian terhadap aset tambang di Yaman, namun aset itu tidak berkembang," pungkas dia.
Per September 2015, perseroan menderita rugi bersih US$ 627,99 juta, berbanding terbalik ketika perseroan masih membukukan laba bersih pada kuartal III-2014 sebesar US$ 13,31 juta.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




