Proyek Berskala Besar Wijaya Karya
Selasa, 5 Januari 2016 | 22:48 WIB
Jakarta - PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) berpeluang meraup lonjakan kontrak baru tahun ini. Hal tersebut didukung oleh keterlibatan secara aktif perseroan dalam membidik proyek pembangkit listrik swasta bernilai besar. Nilai proyek besar juga diharapkan datang dari pengembangan kereta api cepat Jakarta-Bandung.
"Perseroan ditargetkan sukses untuk memenangi kontrak pembangunan delapan pembangkit listrik swasta dengan total kapasitas 6,8 GW. Total proyek tersebut setara dengan kontrak baru mencapai Rp 39,6 triliun," ungkap analis CIMB Securities Linda Lauwira dalam risetnya, baru-baru ini.
Perseroan juga dilibatkan untuk pengerjaan kereta api cepat Jakarta-Bandung. Proyek yang dicanangkan mulai tahun ini menelan biaya konstruksi hingga Rp 40 triliun. Namun hingga kini, belum dipastikan berapa bagian dari proyek konstruksi yang merupakan porsi Wika.
Jika mengacu beberapa tender tersebut, total kontrak baru Wika akan melonjak tahun ini, dibandingkan realisasi hingga Oktober 2015 senilai Rp 15,3 triliun dan 2014 yang mencapai Rp 17,4 triliun. Proyek bernilai masif ini dinilai tidak menyulitkan pendanaan perseroan, menyusul rencana penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue tahun ini.
Berbagai faktor tersebut mendorong CIMB Securities untuk tetap mempertahankan rekomendasi add (potensi return di atas 10%) saham Wika dengan target harga Rp 4.000. Target harga tersebut merefleksikan peluang lonjakan kontrak baru tahun ini.
CIMB Securities menargetkan pertumbuhan pendapatan Wika dari Rp 12,46 triliun pada 2014 menjadi Rp 13,42 triliun pada 2015. Laba bersih diproyeksi turun dari Rp 615 miliar menjadi Rp 561 miliar. Sedangkan pendapatan dan laba bersih tahun ini diperkirakan masing-masing Rp 19,07 triliun dan Rp 758 miliar.
Target Kontrak
Pandangan berbeda diungkapkan analis RHB OSK Securities Donny Gunawan. Menurut dia, Wika kemungkinan gagal memenuhi target kontrak baru senilai Rp 31,6 triliun sepanjang 2015 akibat rendahnya perolehan kontrak baru hingga November 2015 yang senilai Rp 19 triliun.
"Penundaan pengumuman pembangunan proyek pembangkit listrik Jawa I dan Jawa II juga ikut memicu rendahnya perolehan kontrak baru 2015," tulis Donny.
Sebagaimana diketahui pembangkit listrik Jawa I berkapasitas 2x10.000 MW berpotensi menambah kontrak baru berkisar Rp 8-10 triliun. Sedangkan proyek pembangkit listrik Jawa II juga memiliki kapasitas yang sama, sehingga nilai proyeknya diperkirakan tak jauh berbeda.
Donny memproyeksikan Wika hanya meraup kontrak baru Rp 25,3 triliun sepanjang 2015. "Jika mengacu realisasi kontrak baru hingga November 2015, kami yakin Wika hanya mampu meraih kontrak baru Rp 25,3 triliun pada 2015," ungkap dia.
Rendahnya perolehan kontrak baru pada 2015 mendorong RHB OSK Securities mempertahankan rekomendasi netral saham WIKA dengan target harga Rp 2.815.
Sebelumnya, Sekretaris Perusahaan Wika Suradi mengatakan, perseroan membidik kontrak baru sebesar Rp 30 triliun pada 2016. Perseroan memproyeksikan total kontrak (order book) tahun ini mencapai Rp 60 triliun.
Sedangkan order book perseroan tahun lalu tercatat sebesar Rp 44 triliun. Jumlah itu terdiri atas kontrak on hand sebesar Rp 24 triliun dan kontrak baru hingga November 2015 sebesar Rp 20,2 triliun. "Kontrak carry over ke tahun 2016 sekitar Rp 30 triliun," ungkap Suradi.
Dia menegaskan, dengan proyeksi order book 2016 sebesar Rp 60 triliun, perseroan menargetkan pendapatan dan laba bersih dapat tumbuh minimal sebesar 20% dari target realisasi tahun lalu. Bandingkan dengan ekspektasi laba bersih perseroan tahun lalu yang mencapai Rp 615 miliar atau hampir sama dengan perolehan tahun sebelumnya.
Menurut dia, perseroan optimistis target tahun ini dapat tercapai apabila beberapa proyek besar mulai berjalan. Suradi menjelaskan bahwa apabila proyek-proyek besar seperti high speed railway (HSR) Jakarta – Bandung dan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Jawa V dan VII mulai dibangun, target bisa tercapai.
Kontrak baru 2015 tidak mencapai target sebesar Rp 31 triliun karena beberapa kontrak yang ditargetkan perseroan diundur pengumuman pemenang tendernya. Suradi menilai bahwa diundurnya pengumuman pemenang proyek PLTU berkapasitas 2x1.000 megawatt (MW) menjadi target perseroan sulit tercapai. "Padahal kontrak di bidang sipil dan EPC-nya saja bisa sampai Rp 10 triliun," jelas Suradi. Total nilai proyek PLTU 2x1.000 MW mencapai Rp 35 triliun.
Sementara itu, Wika bakal memprioritaskan PT Wijaya Karya (Wika) Realty untuk melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/ IPO) saham tahun ini. Meskipun begitu, Wika masih mengkaji untuk melepas sebagian saham PT Wika Gedung melalui IPO pada 2016. "Wika Realty lebih kita prioritaskan, Wika Gedung juga menjadi alternatif," ujar Suradi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




