Penundaan Publikasi Riset Flu Burung Buruk untuk RI

Selasa, 28 Februari 2012 | 16:49 WIB
B
BA
Penulis: BeritaSatu | Editor: B1
Ilustrasi
Ilustrasi (Suara Pembaruan)
Penundaan publikasi riset flu burung bisa berdampak buruk bagi Indonesia, negara paling terkena dampak penyakit yang diakibatkan virus H5N1 itu.
 
Hal ini dikemukakan oleh Kepala Laboratorium Penelitian Flu Burung Universitas Airlangga Chairil Anwar Nidom.
 
Dalam technical meeting yang digelar oleh World Health Organization (WHO) minggu lalu di Jenewa, Swiss, disepakati dua riset kontroversial yang masing-masing dilaksanakan di University of  Wisconsin, Amerika Serikat, dan Erasmus University, Belanda, akan ditunda publikasinya karena khawatir akan berdampak negatif dan bisa digunakan kelompok teroris dalam aksi-aksinya.
 
Kedua riset tersebut sebelumnya telah direncanakan akan dipublikasi oleh jurnal Science dan Nature, keduanya adalah jurnal prestisius. Namun, setelah mendengar permintaan berbagai pihak, termasuk the US National Science Advisory Board for Biosecurity, kedua jurnal tersebut memutuskan menunda publikasi sampai waktu yang tidak ditentukan.
 
Riset yang dilakukan secara independen ini menggunakan musang untuk menguji-coba virus H5N1 yang dikombinasikan dengan virus H1N1. Hasil  riset membuktikan, virus yang telah dimutasi bisa menular dari  mamalia sakit ke mamalia sehat.

Musang dipilih karena memiliki kesamaan fisiologis dan anatomi dengan manusia, jika virus tersebut bisa menular di antara musang, virus tersebut juga bisa menular dari manusia ke manusia.
 
Namun, kedua riset tersebut tidak segera dipublikasi karena khawatir bisa digunakan kelompok teroris sebagai bioweapon.
 
Chairil mengatakan, Indonesia sangat membutuhkan riset semacam ini untuk  mempelajari tingkat keganasan virus dan kemungkinan mengembangkan obat antiviral baru.
 
"Ilmuwan kita sebenarnya mempunyai kemampuan melakukan riset semacam ini, hanya saja akses terhadap spesimen virus sangat terbatas, maka kita hanya bisa mengandalkan hasil riset dari negara lain," ujarnya.
 
"Ketakutan akan ancaman terorisme itu seperti melihat hantu di siang bolong, sangat naif dan tidak beralasan," ujar Chairil.
 
Tjandra Yoga Aditama, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) yang turut menghadiri technical meeting di Jenewa mengatakan, penundaan publikasi riset tersebut bisa dimengerti, mengingat sifatnya yang seperti pedang bermata dua.
 
"Di satu sisi, semua riset tentang flu burung pasti bermanfaat, terutama  buat Indonesia, tetapi di sisi lain kita harus perhitungkan dampak negatifnya, kalau lebih banyak mudaratnya buat apa?" kata Tjandra.
 
Salah satu dampak yang dikhawatirkan menurut Tjandra adalah ketakutan publik yang mungkin akan mengakibatkan paranoid bahaya penularan flu burung dari manusia ke manusia.
 
"Sikap pemerintah Indonesia adalah: kita tunggu dulu perkembangannya," ujarnya.
 
Sampai saat ini Indonesia masih tercatat sebagai negara yang paling terdampak flu burung. Sejak 2005 sudah 186 orang di Indonesia  terinfeksi virus H5N1 dan 154 di antaranya meninggal dunia. Di tahun  2012 ini sudah empat orang meninggal setelah positif terinfeksi virus H5N1.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon