Irman Gusman: Kesenjangan Menggerus Nasionalisme
Kamis, 14 Januari 2016 | 15:50 WIB
Jakarta - Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Irman Gusman mengatakan bahwa ketidakadilan dan kesenjangan di tengah-tengah masyarakat, baik keadilan ekonomi maupun keadilan antar-daerah ataupun antara pusat dengan daerah, mengancam integrasi nasional dan menggerus rasa nasionalisme bangsa.
Indonesia harus kembali ke sistem perekonomian yang telah dirumuskan pendiri bangsa ini sebagai jawaban atas makin melebarnya kesenjangan antar daerah dan ketimpangan distribusi pendapatan dalam masyarakat kita.
"Kita koreksi ke depan agar kesenjangan antara desa dan kota tidak makin jomplang, kita arahkan pembangunan di desa. Anggaran negara didorong untuk mengurangi kesenjangan antar wilayah, baik antar sektor, baik di jawa maupun luar jawa untuk menjawab kesenjangan tersebut, karena secara makro kita tumbuh tapi yang menikmati hanya segelintir orang," kata Irman saat menjadi pembicara utama Dialog Kebangsaan dalam rangka Kongres Nasional IX Ikatan Alumni ITB di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (14/1).
Menurut Irman, dalam sepuluh tahun terakhir angka Gini Rasio Indonesia telah meningkat dari 0,31 menjadi 0,42 yang merupakan sinyal lampu kuning atau telah mendekati ketimpangan tinggi.
"Eksploitasi sumber daya alam tidak lagi menjadi kekuatan kita, tapi pembangunan sumber daya manusia yang berdasarkan inovasi, kreatifitas, dengan visi yang jelas, semangat yang kuat, percaya diri yang tangguh merupakan modal utama untuk membangun Indonesia di masa depan," katanya.
Irman juga menyampaikan, bahwa untuk mengembangkan dan memperkokoh nasionalisme, semangat bela negara, rasa cinta Tanah Air, persatuan dan kesatuan Indonesia, tidak cukup hanya dengan mengkampanyekan "cintailah produk-produk Indonesia". Sebab, masih sangat sedikit produk dalam negeri yang dapat memenuhi kebutuhan rakyat kita sendiri, terutama barang-barang teknologi.
Akibatnya, ketergantungan kita kepada produk asing tetap saja sangat tinggi.
Lebih lanjut Irman Gusman mengatakan, tantangan lain bagi memperkokoh nasionalisme kita, adalah perlunya keteladanan dari para pemimpin dan elite bangsa.
Gaya hidup yang hedonistik, apalagi perilaku yang memperlihatkan keserakahan, mementingkan diri dan kelompok sendiri, harus dibuang jauh-jauh.
"Dalam kondisi perekonomian negara yang kini masih menghadapi banyak masalah, kita harus memberikan empati kepada rakyat, menunjukkan sikap egaliter, kesetaraan, rasa kesetiakawanan," katanya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




