Penjualan Rumah di Bodetabek Capai Pertumbuhan Tertinggi

Minggu, 17 Januari 2016 | 16:01 WIB
FH
FH
Penulis: Feriawan Hidayat | Editor: FER
Ilustrasi perumahan.
Ilustrasi perumahan. (Antara/Aditya Pradana Putera)

Jakarta - Seperti yang telah diperkirakan sebelumnya, tren suku bunga yang menurun (terbukti dengan turunnya suku bunga acuan Bank Indonesia menjadi 7,25%) membuat kalangan perbankan memberikan stimulus yang nyata bagi pergerakan pasar perumahan nasional.

Berdasar analisis yang dilakukan oleh Indonesia Property Watch (IPW), penurunan suku bunga ini juga memberikan pengaruh terhadap penjualan rumah di kawasan Bodetabek-Banten, yang menunjukkan pertumbuhan cukup potensial.

"Secara rule of thumb dapat dijelaskan hubungan dengan turunnya setiap 1 persen suku bunga KPR akan meningkatkan potensi pangsa pasar 4-5 persen," kata Direktur IPW, Ali Tranghada, dinukil dari laman situs resmi IPW, Minggu (17/1).

Riset yang dilakukan IPW memperlihatkan, nilai penjualan di triwulan IV/2015 di Bodetabek-Banten menunjukkan, adanya kenaikan pertumbuhan penjualan sebesar 16,6 persen (qtq) dibandingkan dengan triwulan sebelumnya menjadi sebesar Rp 1.194.680.621.115.

Hasil survei yang dilakukan dianggap dapat mewakili paling tidak 75 persen dari pasar perumahan di wilayah studi. Meskipun demikian, secara tahunan angka penjualan ini masih lebih rendah -10,87 persen dibandingkan triwulan yang sama tahun lalu.

"Meskipun pertumbuhan ini belum dapat dipastikan sebagai pola yang berlanjut, namun paling tidak merupakan sinyal positif untuk pasar perumahan, dibandingkan dengan tren menurun yang terjadi di dua triwulan sebelumnya," kata Ali.

Segmen Menengah

Selain itu, prediksi yang dilakukan oleh IPW dengan analisis terhadap wilayah yang cukup berpotensi di wilayah Bekasi, terbukti naiknya tingkat penjualan di wilayah ini cukup signifikan mencapai 72,01 persen dibandingkan triwulan sebelumnya. Bahkan Bogor hanya tumbuh 15,44 persen, dan penurunan terjadi di wilayah Tangerang sebesar -8,52 persen.

Segmen menengah menguat dengan komposisi penjualan terbesar berada di kisaran harga Rp 500 juta - Rp 1 miliar, sebesar 48,9 persen. Hal tersebut diikuti oleh segmen menengah-bawah 26,8 persen.

Bahkan, di segmen menengah-atas meskipun mempunyai komposisi hanya 24,4 persen namun terjadi pertumbuhan 21 persen dibandingkan triwulan sebelumnya.

"Indonesia Property Watch mencermati, periode akhir tahun yang sarat dengan musim liburan malah tidak berdampak langsung pada penjualan rumah secara keseluruhan. Selain itu, aksi bom yang terjadi belum lama ini di Thamrin, Jakarta diperkirakan tidak akan berdampak sistemik bagi penjualan perumahan secara nasional," tambah Ali.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon