Semburan Gas di Pamekasan Madura Menurun

Rabu, 29 Februari 2012 | 14:27 WIB
DS
B
Penulis: Dyah Shinta | Editor: B1
PAMEKASAN, 15/2 - KEKUATAN SEMBURAN GAS. Seorang warga menunjukkan kekuatan semburan gas dengan bola yang melayang 2 meter di atas permukaan tanah, di pengeboroan sumur yang menyemburkan gas, di Desa Gugul, Pamekasan, Madura, Jatim, Rabu (15/2). Kementrian ESDM melakukan penelitian di sumur terebut untuk mengetahui kandungan gas terhadap kehidupan masyarakat serta tingkat pencemaran pada mata air di sekitar lokasi tersebut.
PAMEKASAN, 15/2 - KEKUATAN SEMBURAN GAS. Seorang warga menunjukkan kekuatan semburan gas dengan bola yang melayang 2 meter di atas permukaan tanah, di pengeboroan sumur yang menyemburkan gas, di Desa Gugul, Pamekasan, Madura, Jatim, Rabu (15/2). Kementrian ESDM melakukan penelitian di sumur terebut untuk mengetahui kandungan gas terhadap kehidupan masyarakat serta tingkat pencemaran pada mata air di sekitar lokasi tersebut. (Antara)
Semburan gas di Dusun Batolengkong, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, Madura yang telah berlangsung sejak awal Februari mulai menurun.

Semburan gas tersebut terjadi di halaman rumah warga bernama Busiri di bekas sumur bor. Semburan terjadi saat mencapai kedalaman 32 meter. Bentuk semburan sebelumnya berupa lumpur, bercampur air dan gas, serta berbau belerang.

Menindaklanjuti surat permohonan Kepala Bagian Sumber Daya Alam, Sekretariat Daerah Kabupaten Pamekasan perihal pemeriksaan munculnya semburan gas akibat pemboran air bersih tersebut, Tim Tanggap Darurat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi telah melakukan penelitan.

Dalam penjelasan tertulis yang dikirim Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) munculnya semburan karena pemboran yang dilakukan pada  13 Februari 2012 dan lubang pemboran berdiameter 2,5 inci. Pada kedalaman 32 meter, awalnya keluar semburan lumpur beserta gas dengan tekanan tinggi dan suara desisan cukup keras. Tinggi semburan lumpur mencapai 10 – 15 meter.

Pada hari kedua semburan lumpur berhenti namun gas masih menyembur dengan tekanan hampir sama dengan hari pertama. Gas yang disemburkan tidak berwarna namun berbau sulfur (telor busuk) cukup tajam dan suhu gas hampir sama dengan suhu udara/ambien. Pada hari berikutnya hingga saat ini semburan gas masih terus berlangsung.

"Semburan gas masih terus berlangsung hingga saat ini namun memperlihatkan kecenderungan menurun yang terindikasi dari penurunan tekanan semburan gas secara visual dan penurunan suara desisan gas. Semburan gas dengan dominasi gas metana (CH4) yang terjadi merupakan gas alam atau gas rawa. Kejadian semburan gas ini bukan karena fenomena alami tetapi muncul akibat pemboran menembus batupasir pada Formasi Pamekasan yang mengandung hidrokarbon/fosil organik," kata Surono.

Hasil penelitian, kata Surono, juga menyimpulkan tidak ada indikasi struktur-struktur geologi. Lokasi semburan gas berada dalam cekungan belakang busur tempat akumulasi batuan-batuan sedimen dan terletak jauh dari busur vulkanik Pulau Jawa sehingga semburan gas tidak berkaitan dengan aktivitas vulkanik.

Berdasarkan kesimpulan ini Tim merekomendasikan masyarakat di sekitar lokasi semburan gas dapat melakukan aktivitas seperti biasa, tidak perlu kuatir, dan tidak terpancing isu – isu yang tidak jelas sumbernya. "Untuk keamanan dan keselamatan sebaiknya akses ke titik semburan gas dibatasi dengan pagar pembatas dan di area lokasi semburan gas perlu ada pengumuman tentang larangan menyalakan api sekurang-kurangnya dalam radius 2 meter dari pusat semburan.

Untuk menghindari potensi terbakar dan untuk mengurangi dampak paparan gas terhadap kesehatan penduduk sekitar maka semburan gas perlu disalurkan dengan pipa ke bagian yang lebih tinggi, atau lubang pemboran/semburan gas ditutup secara permanen dengan cara pengecoran.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon