Menag Minta Pemuka Agama Terus Bimbing Eks Gafatar

Jumat, 29 Januari 2016 | 15:34 WIB
LT
B
Penulis: Lenny Tristia Tambun | Editor: B1
Sejumlah warga eks Gafatar berjalan membawa tas di pemukiman mereka di kawasan Monton Panjang, Dusun Pangsuma, Desa Antibar, Mempawah Timur, Kabupaten Mempawah, Kalbar, 19 Januari 2016. Antara/Jessica Helena Wuysang
Sejumlah warga eks Gafatar berjalan membawa tas di pemukiman mereka di kawasan Monton Panjang, Dusun Pangsuma, Desa Antibar, Mempawah Timur, Kabupaten Mempawah, Kalbar, 19 Januari 2016. Antara/Jessica Helena Wuysang

Jakarta - Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin meminta para pemuka agama terus melakukan dialog dan bimbingan kepada para eks Gafatar yang saat ini berada di beberapa daerah penampungan. Agar mereka tahu ajaran yangdianutnya sekarang bertentangan dengan ajaran Islam.
"Mer

eka kan beragam terkait dengan pahamnya. Ada yang militan sangat kuat terkait keyakinan paham keagamaan baru ini, ada juga yang baru ikut. Kita dengan para pemuka agama dan ulama melakukan bimbingan dan dialog untuk membicarakan paham-paham ini," kata Lukman seusai mengikuti Peresmian Masjid Fatahillah di Balai Kota DKI, Jakarta, Jumat (29/1).

Selain ingin membawa kembali para eks Gafatar ke ajaran Islam yang benar, dialog juga dilakukan untuk mengetahui alasan di balik paham Gafatar yang dianut mereka. Alasan mengapa mereka tertarik mengikuti organisasi masyarakat (ormas) Gafatar sehingga berani meninggalkan keluarga dan harta benda mereka.

"Yang sebenarnya, kita mau mencari tahu alasan-alasan di balik paham mereka," ujarnya.

Karena mereka berani meninggalkan keluarganya dan pindah ke Kalimantan Barat. Kemudian saat tiba di daerah tersebut, mereka ditolak masyarakat di sana dan diminta kembali ke daerahnya masing-masing. Situasi seperti ini menimbulkan masalah-masalah sosial.

"Kami, tidak hanya Kementerian Agama, tetapi juga Kementerian Sosial dan Kementerian Hukum dan HAM segera melakukan penanganan intensif untuk memulangkan kembali sejumlah masyarakat yang terlibat dalam gerakan ini," terangnya.

Lukman mengungkapkan beberapa tahun terakhir ini, pemerintah semakin intensif menangani gerakan ini. Melihat bukan hanyagerakan sosial kemasyarakatan, tetapi juga terkait peham-paham keagamaan tertentu.

"Faktanya gerakan ini sudah menimbulkan keresahan di masyarakat. Mereka merasa kehilangan beberapa anggota keluarga karena diduga mengikuti gerakan ini," tuturnya.

Tempat penampungan sementara para eks Gafatar yang dipulangkan dari Kalimantan Barat, ada di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat dan DKI Jakarta. "Di beberapa tempat ini kita buat pos-pos penampungan sementara, sebelum mereka dikembalikan ke wilayahnya masing-masing," paparnya.

Menurutnya, para eks Gafatar ini menganut paham keagamaan yang bukan ajaran agama Islam. Karena pimpinannya menyatukan sebagian ajaran Islam, Yahudi dan Kristen. Lalu mereka menamakan ajarannya sebagai agama Nabi Ibrahim atau milah Abraham.

"Hal ini menimbulkan keresahan umat Islam. Karena sebagian besar pengikut gerakan ini yang awalnya Islam kemudian meninggalkan ajaran pokok Islam. Seperti melaksanakan salat lima waktu, menyatakan puasa tidak wajib dan pahal-paham lain yang tidak sejalan dengan inti pokok ajaran Islam," imbuhnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon