38 Eks Gafatar Tiba di Bogor

Senin, 1 Februari 2016 | 22:41 WIB
VS
B
Penulis: Vento Saudale | Editor: B1
Tunas Pusat Gafatar
Tunas Pusat Gafatar (gafatar.org)

Bogor- Sebanyak 38 warga dari delapan kepala keluarga asal Kabupaten Bogor yang dipulangkan dari Mempawah, Kalimantan Barat, karena terlibat organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gaftar), tiba di Bogor, Senin (1/2).

Kepala Dinas Sosial, Ketenagakerjaan, dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Bogor Yous Sudrajat menuturkan, warga eks Gafatar asal Kabupaten Bogor sudah tiba di Pulau Jawa dan ditampung sementara di Dinas Sosial Jawa Barat selama sepekan.

Saat ini, rombongan sudah kembali ke Bogor dan untuk sementara rombongan eks Gafatar akan ditempatkan di Balai Kesejahteraan Sosial (BKS) di Citeureup.

"Kita tampung karena setelah diverifikasi ke camat-camat tempat asal mereka, di alamat mereka itu sudah ditempati orang lain. Rupanya warga Gafatar sudah menjual rumah, dan tidak punya lagi tempat tinggal," kata Yous, Senin (1/2).

Ketigapuluh delapan warga tersebut berasal dari Kecamatan Bojonggede, Ciseeng, dan Cibinong itu dipastikan juga tidak memiliki mata pencaharian lagi. Selain itu, anggota keluarga yang masih anak-anak sudah putus sekolah sejak orang tuanya bergabung dengan Gafatar. Oleh karena itu, Pemkab menyediakan berbagai kebutuhan pokok juga hak pendidikan bagi anak-anak tersebut.

"Kami pastikan kebutuhan sandang, pangan, papannya terpenuhi dan Disdik akan menangani pendidikan anak yang sudah lama tidak sekolah. Penampungan ini, tidak ditentukan sampai kapan waktunya, karena mereka ini korban bencana sosial," kata Yous.

Selain terkena dampak sosial, di BKS warga juga mendapat pendampingan psikolog karena umumnya menderita dampak psikososial seperti dispersonal dan traumatik.

Mengenai pemahaman yang kini diyakini warga Gafatar, Kemag, MUI, dan FKUB-lah yang akan melakukan pembinaan. Dari 38 warga eks Gafatar diketahui semuanya pemeluk agama Islam.

"Dinsos sendiri akan melakukan sosialisasi ke warga di tempat asal mereka, supaya tidak ada penolakan dan kekhawatiran. Di tempat-tempat asal itu juga kami pilihkan pondok pesantren terdekat. Supaya, tempat tinggalnya, kebutuhan sehari-hari, dan pembelajaran akidah juga mereka dapatkan," katanya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon