Kondisi Padat Penduduk dan Kumuh
Asia Rentan Terjangkit Wabah Zika
Kamis, 4 Februari 2016 | 00:45 WIB
Mumbai – Kondisi kumuh dan padat penduduk membuat nyamuk-nyamuk merajalela serta menimbulkan riwayat penyebaran infeksi Zika yang begitu cepat. Menurut para ahli kesehatan, Rabu (3/1), hal itulah yang membuat Asia berada dalam situasi yang sangat rentan terhadap virus Zika sehingga menjadi sebuah tantang besar di wilayah tersebut.
Para pejabat di India dibuah khawatir, negerinya menjadi target berikutnya. Pasalnya, Zika dan demam berdarah ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti yang tumbuh subur di masyarakat dengan tingkat kepadatan tinggi di kota-kota padat penduduk, di mana sanitasinya seringkali sangat buruk.
"Di India, khususnya, ada ancaman besar dari virus Zika yang menyebar dengan cepat mengingat kehadiran nyamuk Aedes dan kondisi lingkungan yang disukai nyamuk," kata Om Shrivastav, spesialis penyakit menular, di Mumbai.
Lebih dari setengah dari 20 juta penduduk Mumbai tinggal di daerah kumuh dan tempat kumuh terbesar di Asia berada di Dhravi, di mana setidaknya ada satu juta orang yang tinggal di tempat itu. Kondisinya pun dinilai tidak layak huni, penuh sesak, ventilasi yang buruk dan kurangnya jumlah toilet yang tersedia.
Setiap musim hujan, curah hujan lebat melanda Mumbai selama empat bulan, banjir di beberapa bagian kota, termasuk lorong-lorong kumuh yang kemudian menjadi tempat berkembang biak subur bagi nyamuk dan menyebabkan lonjakan besar penyakit tropis.
Soumya Swaminathan, direktur jenderal Dewan India untuk Penelitian Medis, memperingatkan kemungkinan terjadinya kepanikan. Karena baru-baru ini terjadi lonjakan kasus demam berdarah dengue atau DBD di seluruh dunia sehingga menyebabkan keprihatinan.
"Karena DBD telah menyebar selama beberapa tahun terakhir di seluruh benua dan di seluruh negara, bersamaan dengan Zika yang ditularkan nyamuk maka ada potensi terjadi penyebaran," tuturnya kepada saluran berita India, NDTV.
Sebelumnya, pihak berwenang Thailand, Selasa (2/2), menegaskan terdapat seorang pria yang terjangkit infeksi nyamuk – yang dituding sebagai penyebab lonjakan jumlah bayi yang mengalami gangguan pada otak di Amerika Selatan. Selain itu, Indonesia juga telah melaporkan kasus domestik serupa.
Kasus-kasus di Asia ini mulai bermunculan pada saat otoritas kesehatan Amerika Serikat (AS), pekan ini, mengkonfirmasi seorang pasien di Texas yang terjangkit virus Zika melalui transmisi seksual, sehingga memicu kekhawatiran bahwa penyakit ini dapat menyebar dengan cepat.
Zika sendiri pertama kali diidentifikasi menjangkiti Uganda, pada 1947 serta menyebabkan gejala seperti terjangkit flu ringan dan ruam.
Namun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan ada dugaan kuat virus Zika yang bertanggungjawab terhadap peningkatan pesat kasus microcephaly, yakni kondisi seorang bayi lahir dengan kepala dan otak yang lebih kecil.
Negara-negara di Amerika Latin, terutama Brasil, telah melaporkan adanya peningkatan dalam kasus-kasus microcephaly sejak wabah Zika dinyatakan menjangkit di wilayah itu, tahun lalu.
Alhasil, WHO mengeluarkan pernyataan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional dan telah membentuk satuan tanggap global untuk menangani virus Zika.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




