Bupati Banyuwangi Aswar Anas:

Pengembangan Budaya Harus Berujung pada Kesejahteraan Masyarakat

Senin, 8 Februari 2016 | 09:40 WIB
B
B
Penulis: BeritaSatu | Editor: B1
Abdullah Azwar Anas
Abdullah Azwar Anas (BSMH)

Banyuwangi - Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan program pengembangan kebudayaan yang digerakkan pemerintah daerah harus berujung pada upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Dengan demikian, kebudayaan tidak dimaknai sempit dengan penyelenggaraan acara kesenian semata," katanya saat dihubungi Antara dari Banyuwangi, Jawa Timur, Senin, terkait pokok-pokok pikirannya yang disampaikan pada diskusi kebudayaan dalam rangkaian Hari Pers Nasional (HPN) 2016 di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Menurut dia, kebudayaan mesti didefinisikan secara luas, yakni terkait dengan sistem, gagasan, dan hasil karya masyarakat. Karena itu kebudayaan bukan hanya dimaknai sebagai seni tari atau jenis seni-seni lainnya.

"Akan tetapi lebih luas dari itu. Karena salah satu tugas bupati adalah menyejahterakan masyarakat, maka program pengembangan kebudayaan yang digerakkan pemerintah juga harus mampu meningkatkan kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat," ujar alumnus Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia tersebut.

Anas menegaskan, pembangunan dengan pendekatan budaya harus menjadi hulu sekaligus hilir bagi semua aspek pembangunan. Sebagai hulu, katanya, kebudayaan menjadi sumber referensi program-program yang dicanangkan, dan sebagai hilir, kebudayaan "menganak sungai" dalam wujud beragam program yang dilaksanakan.

Oleh karena itu, kata Anas, di Banyuwangi kebudayaan menjadi strategi untuk melakukan tiga konsolidasi. Pertama, konsolidasi masyarakat. Dengan pendekatan kebudayaan, masyarakat merasa lebih terlibat dalam pembangunan daerah. Masyarakat ikut andil dalam mengkreasi program pengembangan daerah.

Kedua, konsolidasi birokrasi. Dengan program-program pengembangan kebudayaan, birokrasi tak lagi terjebak ego sektoral. Pasalnya, program pengembangan budaya pastilah berdimensi multisektor.

"Pengembangan kebudayaan membutuhkan pembangunan infrastruktur jalan, teknologi informasi, peningkatan SDM warga, dan sebagainya. Contoh konkret, misalnya, bagaimana budaya agraris masyarakat bisa saling dukung dengan kemasan wisata, maka muncullah konsep agrotourism. Inilah yang mengikis ego sektoral birokrasi, karena melibatkan banyak dinas sekaligus," katanya.

Azwar Anas menjelaskan konsolidasi ketiga adalah penguatan ekonomi rakyat. Dengan pendekatan budaya, Banyuwangi ingin berkreasi menjadi daerah yang maju secara ekonomi dengan akar budaya yang tetap membumi.

Dia mengatakan data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pendapatan per kapita Banyuwangi melonjak 62% dari Rp20,8 juta (2010) menjadi Rp33,6 juta (2014).

Kalkulasi pemerintah daerah, pada 2015 diprediksi bisa menembus Rp38 juta hingga Rp39 juta. Berdasarkan data BPS, pendapatan per kapita Banyuwangi sudah berhasil melampaui sejumlah kabupaten/kota di Jatim yang sebelumnya selalu di atas Banyuwangi.

"Setelah peningkatan secara statistik kuantitatif itu, kita harus mendorongnya ke arah kualitatif. Maka kita bicara pemerataan ekonomi. Ini menjadi pekerjaan rumah kami ke depan dengan terus mengembangkan daerah berbasis pendekatan budaya," katanya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon