Ciputra dan Mitsui Genjot Penjualan Properti
Senin, 8 Februari 2016 | 20:14 WIB
Jakarta – PT Ciputra Development Tbk (CTRA) melalui PT Ciputra Residence membidik penjualan sekitar Rp 200 miliar dari proyek perumahan Ecopolis CitraRaya Tanggerang tahun ini. Proyek multiyears tersebut merupakan hasil joint venture antara Grup Ciputra dan Mitsui Fudosan Residential.
Direktur dan Sekretaris Perusahaan Ciputra Development Tulus Santoso mengatakan, sejak resmi diluncurkan pada akhir 2013 sampai saat ini, progres pembangunan CitraRaya di lahan seluas 53,57 hektare (ha) tersebut telah mencapai 10%.
"Pada 2013 itu kita baru resmi bentuk JV, kemudian proses perizinan, dan penjualan beberapa klaster dilakukan tahun lalu. Sebelum meluncurkan klaster baru, kita cenderung lihat pasarnya dahulu," jelas Tulus kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini.
Tulus menegaskan, selain proyek perumahan, Ciputra bersama Mitsui juga melanjutkan pengembangan proyek apartemen di Citra Garden. Namun, penjualan aparteman tahun lalu diperkirakan melambat. Sejauh ini sumber dana ekspansi, proyek bersama Mitsui tersebut mayoritas berasal dari penjualan.
Sejak semula membentuk JV, proyek perumahan dan apartemen Ciputra dan Mitsui ini diperkirakan bakal menelan investasi sekitar Rp 2 triliun. Namun, Tulus mengaku, pihaknya belum menghitung anggaran spesifik yang akan digelontorkan untuk proyek tersebut tahun ini.
"Pengembangannya memang tergantung dari pemasaran itu sendiri. Biasanya kalau bangun cluster perumahan, dalam waktu setahun jadi," terang dia.
Sebagai informasi, kawasan Ecopolis CitraRaya digarap oleh PT Citra Ecopolis Raya. Pada entitas ini, Ciputra Residence, melalui PT Ciputra Rumpun Investama memiiki kepemilikan 51%, sementara itu Mistui Fudosan melalui Sea Investment Two Private Ltd menguasai 49%.
Dalam perjanjian antara kedua perusahaan, Ciputra memiliki kewajiban melaksanakan pembangunan, kapling, serta bangunan proyek CitraRaya. Sementara Mitsui menyediakan dana pengembangan.
Tulus mengatakan, tahun ini, perseroan belum melihat potensi pembentukan JV baru dengan pihak asing. Perseroan cenderung memilih JV baru dengan perusahaan domestik, atau pemilik tanah dalam proses mengakuisisi lahan.
Tahun ini, perseroan menargetkan raihan marketing sales mampu menembus Rp 10 triliun atau naik 8,7% dibandingkan 2015 yang sebesar Rp 9,2 triliun. Sebelumnya, Tulus mengatakan, perseroan optimistis marketing sales dapat terdongkrak, apabila Bank Indonesia (BI) bisa memangkas suku bunga acuan (BI rate) hingga 1%. Pemangkasan tersebut diyakini mampu meningkatkan daya beli secara signifikan. Secara historis, menurut Tulus, jika BI rate turun 1%, penjualan perseroan akan meningkat 10-30%
"Tiga tahun ini kami relatif flat. Jadi, kami harapkan BI rate bisa turun sebesar 1%. Marketing sales pun kami harap juga bisa tembus Rp 10 triliun," kata dia.
Lebih lanjut, Tulus mengatakan, jika penurunan BI rate hanya terealisasi di bawah 1%, Tulus menilai belum akan berdampak secara signifikan. Hal itu, disebabkan daya beli masih relatif rendah, karena kondisi perekonomian belum pulih.
"Saat ini memang kondisi ekonomi lebih baik tapi sebaik apa kita belum tau. Bursa saham di Tiongkok awal tahun saja sudah disuspensi dua kali," ujar dia.
Tulus menambahkan, tahun ini, marketing sales bakal ditopang oleh produk residensial. Sedangkan produk high-rise terutama apartemen diproyeksi menyumbang 15-20% terhadap total marketing sales tahun ini.
Sesuai rencana, perseroan bakal melangsungkan ekspansi lima proyek tahun ini, yang merupakan carry over dari tahun lalu. Dengan demikian, sepanjang tahun ini, perseroan berencana meluncurkan sekitar 10 proyek.
Mayoritas proyek tertunda yang akan dilangsungkan tahun ini berada di luar Pulau Jawa, yakni Citra Garden Hill Samarinda, Citraland Jayapura, Citraland Lampung, Citra Kendari, dan Citra Garden City Malang. Sementara itu, proyek yang ada di Jakarta mayoritas berbasis high-rise building, yakni Ciputra Internasional Office tower II, Citraplaza Kemayoran, dan proyek mixed use di Fatmawati, Jakarta.
Sementara itu, kinerja perseroan tahun ini diperkirakan cenderung flat. Laba bersih diproyeksi sebesar Rp 1,3 triliun dan pendapatan sebesar Rp 7 triliun.
Tahun ini, perseroan mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 1-1,5 triliun. Sebagian dari belanja modal tahun ini akan didanai oleh kas internal. Sisanya bakal diperoleh dari pinjaman bank pada kuartal II tahun ini.
Perseroan akan menggunakan sebagian capex sebesar Rp 500 miliar untuk mengakuisisi lahan. Perseroan fokus untuk menambah cadangan lahan (land bank) di Jakarta dan Surabaya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




