Ini yang Diinginkan Kader Muda untuk Caketum Golkar
Selasa, 16 Februari 2016 | 15:33 WIB
Jakarta - Partai Golkar (PG) akan segera menggelar Musyawarah Nasional (Munas) dalam waktu dekat. Munas terutama untuk memilih Ketua Umum (Ketum) Golkar. Munas dilakukan untuk mengakhiri konflik dualisme kepemimpinan PG yang terjadi selama satu tahun terakhir ini.
Wakil Sekjen Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PG hasil Munas Riau, Ahmad Doli Kurnia mengemukakan Munas kali berbeda sama sekali latar belakang, suasana dan set up-nya dengan Munas- Munas sebelumnya. Munas kali ini muncul karena kebutuhan untuk menyelesaikan konflik serta upaya penyelamatan partai dari perpecahan dan keterpurukan.
"Dalam suasana seperti itu, yang dibutuhkan adalah pemimpin yang bukan sekedar memenuhi syarat standar sebagai Caketum, tetapi memiliki moral kepemimpinan yang tinggi dan karakter kepemimpinan yang kuat sekaligus bisa mengayomi," kata Doli di Jakarta, Selasa (16/2).
Doli yang juga inisiator Gerakan Muda PG ini mengajukan empat pertanyaan kepada Caketum. Pertanyaan-pertanyaan itu sangat penting dijawab para Caketum demi pembangunan Golkar ke depan.
Pertama, saya akan menjadi Ketua Umum untuk kepentingan siapa? Kepentingan saya pribadi, bisnis saya, keluarga saya, kelompok saya, atau kepentingan partai?
Kedua, bila saya menjadi Ketua Umum, apakah saya menjadi benefit atau malah menjadi liability atau beban bagi partai?
Ketiga, apakah saya punya visi, konsep, inovasi, dan kreativitas untuk memajukan partai?
Keempat, apakah saya siap apabila dituntut meninggalkan semua jabatan publik untuk fokus dan berkonsentrasi mencurahkan seluruh perhatian dan energi saya mengabdi buat partai.
"Bila ada calon yang selama ini diketahui oleh umum pernah, sedang, dan akan berpotensi terjerat masalah hukum, atau dikenal punya track record suka "memecah belah" organisasi, atau dapat diindikasikan selalu ingin mengambil keuntungan (bisnis/kekuasaan/politik) semata dengan mengatas namakan organisasi, maka sebaiknya mengurungkan niatnya tetap maju, karena itu akan menjadi beban partai, menghambat kemajuan partai, dan bahkan dapat menghancurkan masa depan partai," jelas Doli.
Dia menegaskan idealnya Ketua Umum yang akan datang hanya fokus mengurusi partai, tidak memiliki jabatan publik apapun. Semua hal itu juga yg harusnya menjadi pertanyaan para pemegang hak suara kepada para Calon Ketua Umum di Munas nanti.
"Para Calon Ketua Umum harus menjawabnya dengan jujur, karena siapa yang jawabannya paling jujur dan tepatlah yang akan menghasilkan jiwa kepemimpinan yang akan bisa diterima sebagai figur pemersatu," tutup Doli.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




