Hadapi Ambisi Teritorial Tiongkok

KTT Khusus ASEAN-AS Berusaha Capai Kata Sepakat

Rabu, 17 Februari 2016 | 00:24 WIB
LC
B
Penulis: Leonard AL Cahyoputra | Editor: B1
Para pemimpin negara saat KTT ASEAN-AS di California, Amerika Serikat, Senin 15 Februari 2016 atau Selasa 16 Februari 2016 WIB, (dari kiri ke kanan) PM Singapura Lee Hsien Loong, Presiden Filipina Benigno Aquino, Preside Laos Choummaly Sayasone, Presiden AS Barack Obama, Sultan Brunei Hassanal Bolkiah, PM Kamboja Hun Sen, dan Presiden Joko Widodo.
Para pemimpin negara saat KTT ASEAN-AS di California, Amerika Serikat, Senin 15 Februari 2016 atau Selasa 16 Februari 2016 WIB, (dari kiri ke kanan) PM Singapura Lee Hsien Loong, Presiden Filipina Benigno Aquino, Preside Laos Choummaly Sayasone, Presiden AS Barack Obama, Sultan Brunei Hassanal Bolkiah, PM Kamboja Hun Sen, dan Presiden Joko Widodo. (AFP)

Rancho Mirage – Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama dan para pemimpin negara Asia Tenggara bertemu dalam Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN-AS atau ASEAN-US Summit, Selasa (16/2), untuk membahas reaksi bersama terhadap putusan pengadilan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang pembangunan pulau oleh Tiongkok di wilayah Laut China Selatan.

Obama berharap dapat mencapai kata sepakat atau front bersatu dalam melawan ambisi teritorial Tiongkok, di saat AS menjadi tuan rumah bagi 10 perwakilan negara dari Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (Asean) dalam KTT ASEAN-AS yang dilaksanakan di Sunnylands.

Pemerintah AS bertaruh Tiongkok tidak ingin dipandang sebagai negara penganggu kawasan. Gedung Putih bahkan telah mengerahkan koalisi informal sekutu-sekutu Pasifik untuk menuntut Beijing menghormati aturan hukum.

Di sisi lain, Pengadilan Tetap Arbitrase PBB diperkirakan mengeluarkan putusan, pada April atau Mei, tentang apakah klaim Tiongkok untuk memperluas ekspansinya di wilayah laut dalam nine-dash line sudah layak secara hukum. Nine-dash line adalah sembilan titik imaginer yang menunjukkan klaim Tiongkok atas sebagian besar wilayah di Laut hina Selatan.

Sehubungan dengan makin banyaknya klaim teritorial dari negara-negara lain, Tiongkok telah meningkatkan kehadiran militernya di wilayah-wilayah Laut China Selatan.

Apapun hasil yang dikeluarkan oleh putusan pengadilan, dukungan kolektif AS-ASEAN terus menambah tekanan kepada Tiongkok, yang menolak mengakui keberadaan pengadilan itu.

"Jika tidak segera dilakukan, mereka menduga dari waktu ke waktu orang-orang Tiongkok ini tidak akan mau diisolasi dan menjadi negara pariah di internasional – sebuah negara yang tidak menyetujui hukum internasional," ungkap Ernest Bower dari Pusat Studi Strategis Internasional.

Dengan harapan meningkatkan tekanan terhadap Tiongkok atas perampasan tanah di Laut China Selatan maka Obama membuka pertemuan dengan mendeklarasikan KTT ini memiliki "tujuan bersama membangun tatanan regional di mana semua negara bermain dengan aturan yang sama dalam KTT Khusus ASEAN-AS.

Pihak Gedung Putih memandang KTT ini sebagai kesempatan untuk memperjuangkan poros Asia yang dicanangkan Obama dan semakin pentingnya Asean, sebelum presiden AS ini mengakhiri masa jabatannya pada Januari 2017.

"Sebagai presiden, saya telah menegaskan meskipun Amerika Serikat menghadapi ancaman mendesak di seluruh dunia, kebijakan luar neegeri kami juga harus merebut peluang-peluang baru. Dan beberapa wilayah menghadirkan peluang lebih banyak di abad ke-21 ketimbang Asia Pasifik," kata Obama.

"Itu sebabnya, di awal kepresidenan saya, saya memutusan bahwa Amerika Serikat sebagai negara Pasifik akan menyeimbangkan kebijakan luar negeri kami serta memainkan peranan yang lebih besar dan berjangka panjang di Asia Pasifik," tambahnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon