Menhan Sebut Doktrinisasi Sebagai Model Perang Modern

Selasa, 23 Februari 2016 | 16:53 WIB
RW
FH
Penulis: Robertus Wardi | Editor: FER
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menghadiri acara Silahturahmi Menteri Pertahanan dengan Forum Pemimpin Redaksi di Auditorium Bhinneka Tunggal Ika, Kementrian Pertahanan RI, Jakarta, Kamis (10/12). Beliau menyampaikan kemajuan program pertahanan NKRI, program Bela Negara, hingga antisipasi Perang Cyber juga program antisipasi narkoba.
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menghadiri acara Silahturahmi Menteri Pertahanan dengan Forum Pemimpin Redaksi di Auditorium Bhinneka Tunggal Ika, Kementrian Pertahanan RI, Jakarta, Kamis (10/12). Beliau menyampaikan kemajuan program pertahanan NKRI, program Bela Negara, hingga antisipasi Perang Cyber juga program antisipasi narkoba. (Investor Daily / Emral)

Jakarta - Menteri Pertahanan (Menhan), Jenderal (Purn) Ryamizard Ryacudu, mengemukakan, perang di era modern seperti sekarang tidak lagi lewat senjata atau peralatan perang. Perang sekarang lebih terjadi lewat pemikiran berupa doktrinisasi.

"Sekarang bukan lagi era perang fisik dengan angkat senjata. Sekarang sudah perang lewat pemikiran," kata Ryamizard dalam peluncuran Portal Bela Negara di Kementerian Pertahanan (Kemenhan), Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (23/2).

Ia menjelaskan, perang dengan menggunakan alat utama sistem senjata (Alutsista) tidak terlalu ditakutkan karena bisa dideteksi dan dicegah. Perang dengan Alutsista juga mudah dilawan karena peralatannya kelihatan dan diketahui jenisnya.

Sementara perang lewat pikiran sulit dilakukan karena tidak terlihat secara kasat mata. Perang seperti itu berupa cuci otak dan doktrinisasi yang sulit dideteksi. Perang tersebut juga tidak perlu memakan biaya yang mahal karena mudah disebarkan di media sosial.

Dia memberi contoh aksi terorisme atau gerakan radikalisme seperti paham ISIS. Mereka tidak membutuhkan senjata berat dan canggih tetapi menyebarkan ideologi yang mereka miliki.

"Tidak berbahaya perang Alutsista tetapi yang berbahaya cuci otak yang membelokkan pemahaman terhadap ideologi negara," ujar mantan Kasad ini.

Dia menegaskan program bela negara adalah bagian dari upaya melawan perang lewat pemikirang tersebut. Bela negara untuk menghindari cuci otak dan menangkis gerakan radikalisme. Program bela negara adalah pendekatan soft power untuk menangkal perang lewat pemikiran.

"Program ini bisa dilakukan oleh seluruh masyarakat Indonesia karena ancaman radikalisasi dan cuci otak sedang terjadi di negara ini. Soft power melengkapi konsep hard power. Ini akan menjadi smart power yang dapat ampuh mewujudkan kepentingan suatu negara," tuturnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon