Abaikan Surat FIFA, PSSI Terancam Sanksi

Selasa, 6 Maret 2012 | 14:34 WIB
B
B
Penulis: BeritaSatu | Editor: B1
Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin
Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin (Antara)
Soalnya, berdasarkan sebuah surat tertanggal 16 Februari 2012 dari FIFA, PSSI sudah diminta untuk menurunkan tim terbaik --yang tampil di laga kualifikasi PD 2014 sebelumnya-- saat menghadapi Bahrain.

Laga terakhir kualifikasi Piala Dunia (PD) 2014 timnas Indonesia yang berbuah kekalahan memalukan 10-0 dari Bahrain, tampaknya masih akan berbuntut panjang. Tidak saja dalam bentuk kekecewaan dan komentar berbagai pihak, sampai Presiden SBY pun secara khusus telah menyampaikan padangannya, namun juga dalam bentuk sanksi.

Sanksi jika ada "permainan" dalam laga itu, yang kini konon tengah diinvestigasi FIFA, AFC dan pihak berwenang lainnya, adalah satu hal --entah sanksi itu kelak diberlakukan terhadap wasit, penyelenggara, timnas Bahrain, Indonesia, atau yang lain. Sementara, sanksi lain justru kini bisa jadi menimpa Indonesia, tepatnya dalam hal ini PSSI, terkait pelanggaran peraturan dan akibat mengabaikan surat FIFA.

Dalam salah satu laporan Goal.com edisi Indonesia hari ini, berdasarkan korespondensi redaksi media tersebut dengan FIFA, terungkap bahwa sebuah surat sudah dilayangkan oleh FIFA kepada PSSI pada 16 Februari 2012 lalu. Intinya, surat itu berisikan permintaan sekaligus seruan FIFA kepada PSSI, agar tim yang diturunkan dalam laga melawan Bahrain (Rabu, 29 Februari 2012) adalah tim yang terbaik.

Lebih jelasnya, seperti isi surat FIFA, yakni tim (Indonesia) yang diperkuat para pemain yang sebelumnya sudah tampil di laga kualifikasi PD 2014. Alasan seruan FIFA itu tak lain adalah masih menentukannya laga tersebut, mengingat posisi runner-up Grup E belum bisa dipastikan, antara siapa yang bakal lolos mendampingi Iran, apakah Qatar atau Bahrain.

"In view of the fact that the last matchday in group E is still undecided as far as the second position is concerned, it is of paramount importance that the team of Indonesia to be fielded in Bahrain composed of players who had been previously registered with the AFC for the 2nd and 3rd round of the competition and who regularly took part in this same preliminary competition," tulis FIFA dalam surat tanpa tanda tangan yang ditujukan kepada Sekjen PSSI, Tri Goestoro itu.

Dengan kemudian nyatanya tetap menurunkan skuad yang sebagian besar berisikan pemain baru, PSSI tidak saja mengabaikan surat FIFA tersebut, tapi juga bisa disebut sudah melanggar aturan dan ketentuan PD 2014 Brazil (Regulations for the 2014 FIFA World Cup Brazil), yang poin pentingnya antara lain juga sudah diingatkan FIFA dalam suratnya. Yaitu antara lain bahwa tim peserta harus tampil dengan "tim terbaik yang dimilikinya di semua pertandingan dalam turnamen ini" serta bahwa negara kontestan harus "mengikuti prinsip-prinsip fair play".

"It is our duty to remind the PSSI of its need to fully comply with Article 5 and more especially with Article 5, paragraph 4c) and of Article 5, paragraph 4g) of the said regulations," tegas pihak FIFA di bagian awal suratnya itu, yang sekaligus meminta PSSI untuk mengirimkan konfirmasi tertulis selambatnya pada 20 Februari 2012, berikut daftar pemainnya paling lambat pada 22 Februari 2012.

Hanya saja di sisi lain, PSSI sendiri sejauh ini tak pernah menyebut-nyebut soal surat itu, apalagi permintaan sedemikian rupa dari FIFA. Malah sebaliknya, PSSI terlihat tetap memberi alasan bahwa keberadaan skuad dengan pemain-pemain baru hasil seleksi dadakan itu adalah karena larangan FIFA terhadap para pemain (lama) yang kini kebanyakan bermain di kompetisi ISL. Termasuk seperti yang dikutip Goal.com, ketika Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husin, tampil dalam salah satu wawancara TV, Selasa (6/3) pagi ini.

"Kita ingin full team seperti kita main waktu di Jakarta. Sebenarnya waktu di Jakarta kita bisa mengimbangi Bahrain, cuman faktor-faktor unlucky aja (yang membuat Indonesia kalah 2-0). Tapi kita gak boleh. FIFA melarang memakai. Sekarang pemain-pemain senior yang bagus itu bermain pada kompetisi ISL. Jadi, FIFA sendiri melarang. Jadi bukan PSSI yang melarang, bukan PSSI yang (berbuat) diskriminasi," ujar Djohar, seperti dikutip Goal.com dari wawancaranya di Kompas TV.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon