Fiji Ingin Adopsi Kurikulum Kewirausahaan dari Indonesia

Minggu, 6 Maret 2016 | 19:50 WIB
NW
WP
Penulis: Natasia Christy Wahyuni | Editor: WBP
Duta Besar Fiji untuk Indonesia, Ratu Seremaia Tuinausori Cavuilati (berdiri, paling kiri), saat melihat proses belajar mengajar di kelas Kelompok Bermain Sekolah Citra Berkat di Surabaya, Kamis (3/3).
Duta Besar Fiji untuk Indonesia, Ratu Seremaia Tuinausori Cavuilati (berdiri, paling kiri), saat melihat proses belajar mengajar di kelas Kelompok Bermain Sekolah Citra Berkat di Surabaya, Kamis (3/3). (SP/Natasia Christy)

Surabaya- Fiji secara serius ingin mengadopsi kurikulum kewirausahaan dari Indonesia untuk mengatasi tingginya angka pengangguran lulusan perguruan tinggi di negara itu yang mencapai 52.000 orang. Dalam waktu dekat, Fiji akan melakukan pertukaran dosen dan mahasiswa serta mengirimkan sejumlah tim ahli untuk mempelajari pendidikan kewirausahaan dari Universitas Ciputra (UC) di Surabaya.

"Kami ingin menciptakan bibit-bibit baru dari anak muda Fiji yang memiliki pola pikir entrepreunership," kata Duta Besar Fiji untuk Indonesia, Ratu Seremaia Tuinausori Cavuilati, saat diwawancarai SP dalam rangkaian kunjungannya ke UC dan Sekolah Citra Berkat (SCB) di Surabaya, Kamis (3/3).

Cavuilati mengatakan pemerintahnya memprioritaskan penerapan kurikulum kewirausahaan di tingkat sekolah mulai dari TK, SD, SMP, dan SMA. Untuk tingkat perguruan tinggi, salah satu universitas di sana yaitu Fiji National University juga mulai meniru metode pendidikan kewirausahaan Ciputra. "Kami sudah mengirimkan sejumlah profesor ke sini tahun lalu, jadi ini kelanjutannya," ujarnya.

Menurutnya, para pemuda Fiji diharapkan tidak hanya menjadi pencari atau penunggu pekerjaan, tapi bisa menjadi pencipta lapangan pekerjaan. Indonesia dan Fiji juga memiliki sejumlah kesamaan potensi sumber daya seperti pertanian, kelautan (perikanan), dan pariwisata, sehingga meniru kurikulum dari Indonesia sangat relevan bagi Fiji. "Kami berharap apa yang dilakukan Ciputra dalam mengubah dan membangun pola pikir anak-anak muda menjadi wirausaha bisa diadopsi sesuai kondisi lokal di Fiji," kata Cavuilati.

Kunjungan Cavuilati yang digelar dua hari pada Rabu (2/3) dan Kamis (3/3), merupakan bagian dari program kerja sama teknis yang digelar oleh Kementerian Luar Negeri bertemakan International Workshop on Entrepreunership for Asia Pasific Phase II. Cavuilati didampingi dua pejabat asal Fiji dari Kementerian Pendidikan dan Kementerian Pekerjaan Nasional. Mereka melihat pelaksanaan "Hari Entrepreneurship" yang jatuh setiap hari Rabu di Universitas Ciputra serta mendengarkan paparan kurikulum kewirausahaan dari para petinggi UC dan kepala SCB.

Cavuilati mengatakan Fiji hanya memiliki tiga universitas dengan populasi penduduk sekitar 950.000 orang. Negara kepulauan yang terletak di Samudera Pasifik itu sangat mengandalkan pariwisata dan hasil laut. Jumlah pariwisata yang datang ke Fiji setiap tahun mencapai 700.000 orang terutama dari Australia dan Selandia Baru. "Kami ingin menerapkan apa yang dilakukan universitas ini dan Pemerintah Indonesia," ujar Cavuilati yang telah menjadi Dubes di Indonesia selama lima tahun.

Cavuilati mengaku selama ini fokus mempelajari kemampuan Indonesia untuk menambah nilai (added value) dari suatu bahan mentah. Misalnya, memanfaatkan hasil laut seperti udang untuk dibuat sebagai kerupuk udang. "Saya pikir, Indonesia sangat berkembang dalam penelitian teknologi untuk menambah nilai suatu bahan mentah," kata Cavuilati.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon