Kanselir Jerman Bersikukuh pada Kebijakan Pengungsi

Selasa, 15 Maret 2016 | 00:04 WIB
LC
B
Penulis: Leonard AL Cahyoputra | Editor: B1
Kanselir Jerman Angela Merkel saat menghadiri konferensi pers bersama para kandidat Partai Persatuan Demokrat Kristen (CDU) di markas CDU, Berlin, Senin, 14 Maret 2016.
Kanselir Jerman Angela Merkel saat menghadiri konferensi pers bersama para kandidat Partai Persatuan Demokrat Kristen (CDU) di markas CDU, Berlin, Senin, 14 Maret 2016. (AFP Photo/Odd Andersen)

Berlin – Kanselir Jerman Angela Merkel bersikukuh atas kebijakan liberal pada pengungsi meskipun harus kalah dalam pemilihan regional yang digambarkan sebagai bencana di mana para pemilih yang tak puas beralih ke partai anti-migran, Alternative für Deutschland atau Alternatif untuk Jerman (AfD).

Sementara itu Partai Persatuan Demokrat Kristen (CDU) Jerman menerima kemarahan para pemilih, karena menderita kekalahan di dua dari tiga negara dalam pemilu yang dilaksanakan Minggu (13/3), termasuk kubu tradisional Baden-Wuerttemberg.

Hasil pedih yang diperoleh CDU ini berbarengan dengan lonjakan dukungan untuk kelompok populis AfD, yang sempat memicu kemarahan dengan mengeluarkan pernyataan supaya polisi dianjurkan menembak para migran untuk menghentikan mereka memasuki negara ini.

Ini adalah pemilu terbesar sejak Jerman mencatatkan arus masuk pengungsi yang telah mencapai 1,1 juta orang di 2015, dan sebagian besar dianggap sebagai referendum keputusan Merkel untuk membuka pintu bagi orang-orang yang melarikan diri dari perang.

Surat kabar Bild menggambarkannya sebagai hari yang horor bagi Merkel, karena berulang kali ada permintaan kepadanya untuk mengubah taktik.

Tapi juru bicara Merkel, Steffen Seibert menepisnya.

"Pemerintah federal akan tetap bersikukuh penuh pada kebijakan pengungsi di dalam negeri dan di luar negeri. Tujuannya harus menjadi tujuan bersama, solusi Eropa berkelanjutan yang mengarah pada pengurangan nyata dari jumlah pengungsi di seluruh negara anggota Uni Eropa (UE)," ujar dia dalam konferensi pers.

Menurut Seibert, Merkel akan terus mengejar strategi kerja untuk meningkatkan keamanan perbatasan-perbatasan eksternal UE dan bekerja sama dengan Turki untuk mengurangi arus pengungsi.

Pemimpin Jerman ini sendiri, menolak secara konsisten untuk menerapkan batas atas kedatan pengungsu, yang diduga menghasilkan reaksi pertamanya di tempat-tempat pemungutan suara (TPS) di sore hari waktu setempat. 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon